Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Petrosea Tbk dan Kinerjanya yang membaik



Pada penutupan perdagangan jumat kemarin 18 agustus 2017 IHSG ditutup di 58893.841 atau naik sebesar 0.03% dari pembukaannya di 5879.679. IHSG sendiri pada perdagangan tersebut bergerak cukup variatif dimana pada sesi pertama IHSG dibuka di area negatif sedangkan pada penutupan sore harinya ditutup di area positif. Secara year to date (YTD) IHSG mencetak keuntungan sebesar 11.27% yang menunjukan bahwa IHSG masih bergerak positif meski pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri masih stuck di 5.01%.


Okay, pada kesempatan kali ini kami akan mengulas tentang saham Petrosea Tbk, yang mana pada saham ini terdapat nama besar seorang Value Investor Indonesia dan beliau sendiri disebut sebagai “Warrent Buffet-nya Indonesia” yang memegang saham PTRO (kode saha Petrosea Tbk) sebesar 118.443.200 lembar atau sebesar 11.47% dari total saham PTRO per 31 Juli 2017. Peru diketahui bahwa sampai artikel ini ditulis PTRO belum menyampaikan laporan keuanganya untuk periode kuartal II 2017.

Berdasarkan laporan keuangan Q1 2017 pendapatan PTRO naik signifikan dari USD 42,6 juta pada Q1 2016 menjadi USD 58.5 juta atau naik sebesar 37.3%. lalu bagaimana dengan operating profit dan laba per sahamnya? Well, untuk operating profit PTRO sendiri naik sangat signifikan menjadi USD 3.1 juta dibanding periode yang sama di 2016 yang mencatat kerugian sebesar USD 4.8 juta. Sedangkan laba per sahamnya? Enggak usah dipertanyakan lagi, di Q1 2017 saja laba per saham PTRO sebesar Rp 32.89 (dengan asumsi USD 1 / Rp 13.300) dari yang sebelumnya tercatat perusahaan mengalami rugi bersih Rp (44.8) per lembar sahamnya.

Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang perusahaan, kami akan mengajak anda mengulas sedikit profil perusahaan.

Petrosea Tbk adalah sebuah perusahaan yang memiliki ruang lingkup usaha meliputi bidang rekayasa, konstruksi, pertambangan dan jasa lainnya. Perusahaan sendiri didirikan pada 21 Februari 1972 dengan nama PT Petrosea (tidak ada perubahan nama hingga saat ini) dimana susunan pengurus perusahaan per 20 april 2016 sebagai berikut :

Presiden Komisaris               : Richard Bruce Ness
Komisaris Independden       : Maringan Purba Sibarani
  Abdurrachman Kun Wibowo
Komisaris                               : Azis Armand
                                                  Richard Harjani
Presiden Direktur                 : Hanifa Indradjaja
Direktur                                 : IIda harmyn
                                                  Mochamad Kurnia Ariawan
                                                  Rusdiawan
Direktu Independen             : Johanes Ispurnawan
Komite Audit                         
Ketua                                      : Maringan Purba Sibarani
Anggota                                  : Richard Harjani
                                                  Tonyadi Halim

https://mattoa.blogspot.co.id/

Petrosea Tbk merupakan anak usaha dari Indika Group Energy

Pada 21 mei 1990 perusahaan mencatatkan sahamnya sebanyak 4.500.000 lembar dengan nominal Rp 1000 per lembarnya. Pada tahun 1994 perusahaan mengeluarkan saham bonus dengan perbandingan 1:1, 9:8 pada tahun 1998 dan perusahaan juga melakukan stocksplit pada tahun 1998. Sehingga jumlah saham beredar kala itu mencapai 102.600.000 saham dengan nominal Rp 500 per lembar.

Pada tahun 2009 perusahaan melakukan Buyback sebanyak 1.739.500 lembar saham (untuk menjaga harga saham yang mana kala itu banyak saham berguguran akibat krisis keuangan di tahun 2008). Pada tahun 2012 perusahaan melakukan pemecahan nilai nominal saham yang awalnya Rp 500 menjadi Rp 50 sehingga saham perusahaan yang beredar (yang ditempatkan juga tentunya) berubah dari 100.860.500 menjadi 1.008.605.000 lembar saham hingga saat ini.

Perusahaan memiliki kontrak dalam satu tahun ini (2017 pastinya) sebesar USD 1.962.000 dan USD 3.256.000 untuk jangka waktu sampai dua tahun kedepan. Bagaimana dengan kontrak perusahaan? Well, berikut beberapa kontrak Jumbo  yang telah diraih :
1. Pada 30 juni 2015 perusahaan melakukan kontrak dibidang konstruksi untuk membangunan tanggul di papua dengan PT Freeport Indonesia dengan nilai kontrak sebesar USD 158 juta dengan jangka waktu 4 tahun (yang artinya akan berakhir pada tahun 2019) dan pada tahap pertama perusahaan akan mendapatkan sebesar USD 109 juta
2. Pada tanggal 11 Januari 2016 perusahaan mengadakan perjanjian dengan PT Anzawara Setia untuk melakukan kegiatan meliputi pemindahan tanah penutup, sewa peralatan bergerak dan personel, dan pengangkutan batubara di tanah Bumbu Kalimantan Selatan. Nilai kontrak ini sebesar Rp 622 miliar dengan jangka waktu 3 tahun atau berakhir sampai tahun 2019
3.  Pada tanggal 11 nopember 2016 perusahaan berhasil meneken kontrak bernilai jumbo yakni sebesar Rp 1.566 miliar dengan jangka waktu 3 tahun untuk melakukan pemindahan tanah penutup.
4. Pada tanggal 16 juni 2017 (baru) perusahaan memperoleh kontrak dari PT Maruwai Coal untuk melakukan pekerjaan konstruksi dengan nilai kontrak sebesar Rp 1.3 triliun dan jangka waktu 2 tahun

Perlu kita ingat bahwa keempat kontrak jumbo tersebut akan selesai di tahun 2019 (semester pertama lebih tepatnya) dan kita semua tahu bahwa pekerjaan kontraktor akan mendapatkan imbal hasil kerjanya jika pekerjaan telah selesai dilakukan (kecuali ada kesepakan semacam termin) maka total uang segar yang bakal diterima perusahaan pada tahun 2019 adalah sebesar USD 158 juta dan Rp 3.4 triliun.

Itu jika kita melihat prospek dari perusahaan terkait dengan beberapa nilai kontrak jumbo yang telah dikantongi.

Lalu bagaimana dengan pendapatan perusahaan pada Q1 2017?
Bagaimana bisa pada Q1 2017 perusahaan mampu menghasilkan keuntungan? Darimana asalnya?
Bagaimana dengan beban kurs?

Okay, kita kembali ke laporan keuangan perusahaan di Q1 2017. Well, pada laporan keuangan ini perusahaan membukukan pendapatan sebesar USD 58.464.000 dari USD 42.616.000 di tahun 2016 pada periode yang sama. Are you see the different? How much? 37.3%? yep, benar sekali.

Pada kuartal I 2017 perusahaan berhasil membukukan pendapatan yang naik signifikan sebesar 37.3% dari periode yang sama dari tahun 2016. Lalu darimana asalnya pendapatan sebesar itu? Sumber pendapatan pertama perusahaan adalah dari kontrak dengan PT Kideco Jaya Agung sejumlah USD 10.624.000 disusul pendapatan atas jasa konstruksi kepada PT Freeport Indonesia sebesar USD 17.302.000 dan dari PT Pratama Coal sebesar USD 11.407.000, disusul dengan jasa lainnya.

Diatas telah disebutkan bahwa perusahaan bergerak dibidang pertambangan, konstruksi, rekayasa, dan jasa lainnya. Lalu yang mana yang paling berpengaruh terhadap seluruh pendapatan perusahaan?

Perhatikan komposisi berikut berdasarkan LK Q1 perusahaan : pertambangan (USD 36.349.000/62.2%), rekayasa dan konstruksi (USD 16.810.000/28.8%), jasa (USD 4.804.000/8.2%), dan lainnya (USD 501.000/8.8%). You got the point? Yep, hasil dari pertambangan memiliki pengaruh besar terhadap seluruh pendapatan perusahaan sebesar 62.2% sehingga tanpa menghitung ini itu yang ribet kita sudah dapat memprediksi jika ketika harga saham naik maka pendapatan perusahaan juga akan naik begitu juga sebaliknya. Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa perusahaan ini merupakan perusahaan konstruksi/penyewaan alat dibidang pertambangan sehingga ketika harga batubara naik maka tidak serta merta pendapatan akan naik juga akan tetapi lebih lama (bisa setahun kemudian baru pendapatan/laba perusahaan naik) begitu juga sebaliknya ketika harga batubara turun maka tidak serta merta pendapatan perusahaan akan langsung turun ditahun itu juga.

Lalu bagaimana dengan beban kurs? Beban kurs pada tahun 2017 mampu diperbaiki sehingga tidak terlalu memberatkan seperti di tahun 2016 kuartal I dan bahkan tercatat positif ketimbang menjadi beban perusahaan.

Well, dari sini kita sudah memahami bahwa meski pada tahun 2016 perusahaan masih membukukan rugi bersih (yang mana pada tahun tersebut harga batubara telah naik hingga menyentuh harga USD 80 per ton) pada akhirnya tahun ini (2017) perusahaan membukukan laab bersih yang signifikan kenaikannya.

Lalu bagaimana dengan harga wajarnya?

Pada perdagangan jumat kemarin 18 agustus 2017 harga PTRO naik signifikan hingga menyentuh level 1230 sebelum kemudian ditutup di level 1125 atau naik 13.64% dari  harga pembukaannya di level 990. Berdasarkan book value perusahaan per kuartal I 2017 yang sebesar Rp 2.280 per lembarnya maka PBV perusahaan berada di 0.49 (jika laporan keuangan kuartal II nanti keluar, kami yakin PBV perusahaan akan lebih kecil dari 0.49 pada harga tersebut) dan ini masih terbilang sangat-sangat murah alias the wonderfull of stock, Yup! Meski perlu diperhatikan bahwa saham perusahaan sendiri terbilang tidak likuid, namun melihat kinerja perusahaan yang mulai memperlihatkan kinerja yang mentereng maka sulit untuk ditinggalkan atau diabaikan begitu saja.