Sering kali investor pemula bingung bagaimana membeli saham (parameternya), namun pembahasan tentang kapan membeli telah banyak beredar baik melalui artikel-artikel maupun buku. Namun yang menjadi persoalan kemudian ketika kita memegang suatu saham adalah “kapan saat yang tepat menjualnya”. Okey, dalam artikel kali ini kita akan mengulas mengenai membeli dan  menjual saham.

Membeli saham

Dalam membeli saham kita harus memperhatikan fundamental perusahaan dengan melihat rasio-rasio keuangan juga dengan membaca laporan keuangan perusahaan. Dalam laporan keuangan tersebut kita tidak hanya disuguhi angka-angka matematis semata. Namun lebih jauh dalam laporan keuangan tersebut kita akan mengetahui banyak hal terkait kondisi perseroan.  Seperti kondisi keuangan, sumber penghasilan utama, anak usaha, sumber utang, prospek dan lain sebagainya.


Saham yang kita beli adalah saham yang harus bertumbuh baik secara year on year (yoy) atau quartal on quartal (qoq). Maksudnya adalah perusahaan itu harus tumbuh dari tahun ke tahun, kuartal ke kuartal. Apa saja yang harus tumbuh? Minimal adalah pendapatan, laba bersih dan ekuitas perusahaan. Lalu aset apakah tidak harus tumbuh? Well, aset adalah gabungan antara ekuitas dan utang. Jadi selama ekuitas perusahaan tumbuh dan utang tetap, maka aset perusahaan juga akan tumbuh. Kalau akuitas tumbuh dan utang juga bertambah, maka aset otommatis tumbuh jauh lebih besar. Jadi kesimpulannya pertumbuhan aset belum tentu berarti positif, perlu diselidiki lebih lanjut.

Kalau begitu, pertumbuhan ekuitas tidak perlu diselidiki asalnya?

Kalau anda perhatikan lebih teliti pada laporan laba rugi perseroan, maka anda akan melihat sumber laba bersih itu dari mana. Apakah murni dari bisnis inti? atau adanya penjualan aset? Maka dari itu ketika laba bersih perusahaan A (katakanlah demikian) meningkat maka tidak otomatis harga saham juga akan naik secepatnya. Dan ini biasanya “menipu” para investor pemula yang belum terbiasa membaca laporan keuangan. Jadi jika anda sudah membaca laporan keuangan dengan teliti, maka secara otomatis sumber perumbuhan ekuitas akan diketahui apakah benar-benar murni dari bisnisnya atau dari yang lain. Maka kriteria perusahaan yang tepat yang mana sahamnya untuk kita beli meliputi :
a.       Laba bersih bertumbuh (murni dari pendapatan inti bisnis pastinya)
b.    ROE > 15% (ini juga tidak bisa jadi patokan, karena biasanya perusahaan yang ROE nya diatas 15% dihargai cukup mahal oleh pasar)
c.     Rasio DER dibawah 1,5 kali (namun ada juga yang memberikan pandangan maksimal 2 kali)
d.    Bisnis (produk) yang digeluti dikenal banyak orang
e.    Manajemen perusahaan yang solid
f.      Valuasinya murah

Kami kira itu yang paling penting (sebenarnya masih banyak lagi, anda akan tahu sendiri dalam perjalanan investasi anda).

Dalam praktiknya semua teori yang kita pelajari di buku ataupun pengalaman orang lain tidak bisa langsung diaplikasikan. Misalkan teori yang menyebutkan bahwa pasar itu efisien yang artinya setiap perusahaan di pasar modal dihargai pada harga wajarnya. Namun kenyataannya? Tidak selalu. Banyak sekali contoh perusahaan yang kinerjanya buruk bahkan selalu merugi setiap tahunnya dihargai sangat mahal oleh pasar. Namun juga kita bisa mendapati saham yang harga pasarnya di bawah nilai buku namun tidak naik-naik.

Kenyataannya memang tidak semudah teori, kecuali jika anda telah berpengalaman di pasar modal bertahun-tahun dan metode anda terbukti.

Kita kembali pada bahasan kapan saat membeli dan menjual saham. Sekarang kita bahas lebih detail.

Kata “kapan” adalah  kata yang menunjukkan waktu, yang artinya itu bisa besok, bulan depan, tahun depan atau kapapanpun dimasa mendatang. Dan tentu saja kita tidak tahu persisnya tanggal berapa, dibulan apa, pada tahun berapa. Namun kita bisa membeli dan menjual saham pada kondisi tertentu sesuai dengan planing kita.

Berikut ini beberapa keadaan yang tepat untuk membeli dan menjual saham :
1.      Membeli saham
a.    Harga pasar dibawah harga wajar
b.    Pada saat krisis
c.     Koreksi pasar dalam hal ini IHSG
d.    Terdapat sentimen buruk namun tidak mengubah fundamental perusahaan. Seperti kasus yang dialami APLN dan AISA
e.    Pada bulan-bulan tertentu (hal ini bisa dilihat dengan menganalisa return IHSG per bulan dari beberapa tahun ke belakang)

2.      Menjual saham
a.    Saat pasar bullish
b.    Banyaknya berita positif
c.     Penurunan kinerja perseroan
d.    Terdapatnya sentimen negatif yang dapat berpengaruh signifikan (seperti kasus APLN dan AISA)
e.    Harga saham diatas harga wajar
f.      Terdapat saham lain yang lebih menarik

*anda dapat menambahkan sendiri sesuai dengan pengalaman yang anda miliki

Okey, dari banyaknya kondisi diatas (terutama dalam menjual) yang paling sulit adalah menentukan apakah harga suatu saham sudah berada diarea wajarnya atau belum atau bahkan melewatinya (bukan menghitung harga wajarnya). Ada banyak sekali metode dalam penentuan harga wajar saham, seperti PBV, PER, DCF, FCF dan lain sebagainya. Namun kami sendiri dalam menentukan harga wajar suatu saham hanya menggunakan PBV dan PER (indikator pendukung). Mengapa demikian? Karena PBV mencerminkan pada nilai buku emiten (padahal harga wajar saham biasanya sedikit diatas nilai buku). Nilai buku ini sangat minimal dari asumsi perhitungan kita. Padahal kita tahu bahwa asumsi-asumsi yang digunakan dalam perhitungan bersifat subjektif.

Menjual Saham

Menjual saham menjadi persoalan yang sulit ketika saham yang kita miliki kita jual pada harga yang kita anggap berada di area wajarnya, akan tetapi ternyata harga saham terus saja naik. Persoalannya bukan pada kenaikan harga yang terus-terusan, tetapi munculnya rasa penyesalan itulah yang berbahaya. Kenapa demikian? Karena itu akan dapat mengubah pendirian kita dalam berinvestasi.

Jika anda pernah mengalaminya (biasanya investor pemula yang paling banyak merasakan ini) maka itu menjadi pelajaran yang sangat berharga.

Seperti poin-poin diatas mengenai momen-momen yang tepat untuk menjual saham, tidak ada patokan pada harga berapa sebuah saham layak dijual. Berbeda dengan trader yang membuat patokan membeli dan menjual pada harga tertentu (Support dan Resisten), seorang investor dalam menjual dan membeli saham lebih kepada value sebuah perusahaan/saham. Dan anda tak perlu khawatir jika menemukan perhitungan value tiap-tiap investor berbeda, karena perhitungan dan asumsi-asumsi yang digunakan berbeda. Tetapi disinilah letak istimewanya, karena anda akan dituntut untuk menajamkan kemampuan (semacam insting) dalam menghitung value sebuah saham.


Dalam perjalanan investasi anda nanti, anda akan terbiasa tentang pada kondisi seperti apa atau pada harga berapa suatu saham layak dibeli atau dijual, dan semua butuh waktu untuk itu. Namun kabar baiknya adalah anda dapat dengan mudah menemukan saham-saham yang bagus untuk dibeli atau saham mana  yang dimiliki untuk dilepas.
Previous Post Next Post