Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PRAS : Sang Eksportir Velg

Pernahkah Anda mendengar nama PT Prima Alloy Steel Universal Tbk? Atau mungkin pernah melihat kode PRAS.JK? jika belum samsa sekali, pada kesempatan ini kami akan sedikit mengulik emiten tersebut. Prima Alloy Steel Universal atau PRAS adalah sebuah perusahaan penghasil rim, stabilizer, dan peralatan lainnya yang terbuat dari paduan aluminium dan baja. Perusahaan ini sendiri berlamatkan di Jalan Muncul No. 1, Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur dan didirikan pada tahun 1984 namun baru beroperasi pada tahun 1986. Jadi PRAS ini telah beroperasi selama kurang lebih 31 tahun. Yang kemudian pada tahun 1990 atau 4 tahun kemudian perseroan melakukan IPO dengan melepaskan 3 juta lembar saham ke publik dengan nominal Rp 1.000,-. Dimana produk utama PRAS adalah velg racing dengan berbagai merek seperti Enmaru, Panther, PCW, Devino, Akuza, dan Incubus.

Mungkin merek-merek diatas tidak familiar di telinga Anda karena memang pangsa pasar PRAS adalah ekspor dengan negara tujuan Eropa, Amerika, Asia, Australia, dan Afrika.

http://www.mattoa.com/

Pada pertengahan 2017 aset perusahaan naik moderat sebesar 5% dimana pada akhir 2016 aset perseroan tercatat sebesar Rp 1,6 triliun menjadi Rp 1,7 triliun. meski tercatat mengalami kenaikan yang kecil namun ternyata ekuitas perseroan naik signifikan sebesar 20,4% menjadi Rp 834,4 miliar berbanding Rp 693 miliar pada periode yang sama pada tahun lalu. Sedangkan utang perusahaan mengalami penurunan sebesar 5% menjadi Rp 844,7 miliar dari Rp 903,5 miliar sehingga praktis ini terlihat sangat menarik.
http://www.mattoa.com/
Variasi Velg yang di produksi oleh PRAS
 Tapi benarkah semenarik itu peningkatan ekuitasnya?

Pada kuartal II 2017 perseroan mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 226,9 miliar dibandingkan penjualan pada tahun lalu yang hanya sebesar Rp 189,8 miliar atau naik sebesar 19,5% atau hampir 20%. Dengan beban penjualan yang naik 19,3% dengan laba  kotor naik sebesar 20,5%. Kemudian laba usaha tercatat sebesar Rp 29 miliar atau naik sebesar 34,3% atau sebesar 12,8% dari total penjualan bersih perusahaan. Dari sini tentu sudah menarik melihat operasional perusahaan. Namun ternyata terdapat masalah dalam operasionalnya dimana terdapat beban bunga yang sangat besar yakni sebesar Rp 20,1 miliar atau hampir 70% dari total laba usaha. Sehingga praktis hal ini mengindikasikan beban utang perusahaan sangat mempengaruhi terhadap laba bersih. Praktis ini membuat persentase ROE hanya sebesar 1% (atau 2% jika disetahunkan) jika hanya menghitung dari operasional perusahaan.

Kemudian laba bersih perusahaan terlihat besar, itu disebabkan oleh pendapatan lain-lain (diluar operasionalnya) dan selisih kurs (tercatat untung). Yang mana jumlah keduanya tercatat lebih dari dua kali lipat laba bersih dari hasil operasional. Sehingga laba bersih komprehensif perusahaan tercatat sebesar Rp 27,6 miliar atau dengan ROE 6% (disetahunkan) dan EPS perusahaan tercatat sebesar Rp 32,76 (Rp 65,52 jika disetahunkan). Sehingga EPS PRAS ini naik 10 kali lipat dibanding periode yang sama ditahun lalu.

Kembali pada pertanyaan sebelumnya. Apakah benar dengan laba bersih sebesar itu, ekuitas PRAS naik signifikan?

Dengan laba bersih PRAS yang hanya sebesar Rp 27,6 miliar tidaklah mungkin mampu mendongkrak kenaikan ekuitasnya yang secara mengejutkan mampu melonjak sebesar 20,4% atau naik sebesar Rp 141,4 miliar. Jawabannya adalah karena terdapat selisih penjabaran laporan keuangan (PRAS mendapatkan hasil penjualan produknya dengan berbagai mata uang sedangkan laporan keuangannya menggunakan mata uang rupiah sebagai standarnya) dan peningkatan nilai dari revaluasi aset di masa lampau. Hal ini terjadi karena perusahaan ini melakukan ekspor produknya dengan berbagai mata uang negara tujuan yang mana sering mengalami fluktuasi nilai tukar dengan rupiah. Jadi karena inilah kinerja PRAS tidaklah menarik karena peningkatan ekuitasnya bukan karena hasil kegiatan usahanya. Seperti terlihat pada gambar berikut yang menyebabkan terdapat selisih penjabaran yang besar. Dimana penjualan PRAS didominasi ke Eropa sebesar 49% disusul Amerika, dan seterusnya.
Market share penjualan produk PRAS berdasarkan tujuannya pada tahun 2016

 
http://www.mattoa.com/
Negara tujuan penjualan produk velg PRAS
Bagaimana dengan arus kas PRAS?

Tidak banyak aliran kas dari operasi PRAS, hanya sebesar Rp 3 miliar saja. Praktis ini tidak akan mencukupi kebutuhan PRAS dalam membayar kewajiban beserta bunganya untuk utang jangka pendeknya. Hal ini terlihat dari arus kas dari pendanaan. Dimana PRAS menggunakan utang jangka pendek untuk membayar utang jangka pendeknya, sehingga praktis manajemen PRAS ini bisa dikatakan kurang komitmen dan perhitungan dalam mengelola aset perusahaan. Karena jika hal ini dibiarkan tersu menerus akan menjadi bom waktu. Utang dibayar utang itu  tidak akan menyelesaikan permasalaha, yang ada adalah menumpuk sedikit demi sedikit permasalahan dimasa mendatang.

Kita kembali pada arus operasionalnya. Tercatat pendapatan arus operasional dari penerimaan pelanggan sebesar Rp 165 miliar sedangkan pembayaran kepada pemasok sebesar Rp 140 miliar. Praktis kas yang diterima dari pelanggan menipis karena beban perseroan kepada pemasok mencapai 85% dari penerimaan dari pelanggan meski dari sisi penerimaan bersihnya lebih baik ketimbang tahun 2016. Dan ini menjadi PR tersendiri bagi manajemen untuk memperbaiki arus kas operasional karena penerimaan dari arus kas operasional ini ditopang oleh penerimaan selain dari operasional karena beban bunga utang yang terus menggerogotinya. Sedangkan dari aktivitas pendanaannya PRAS ini mengambil utang jangka pendek sebesar Rp 874,5 miliar untuk membayar utang jangka pendeknya sebanyak Rp 845,83 miliar dan utang jangka panjangnya sebesar Rp 26,99 miliar. Jadi penerimaan kas dari arus kas pendanaan sebesar Rp 1,6 miliar (lebih tepatnya sisa utang yang digunakan untuk membayar utang).

Jadi dari sini saja PRAS ini tidaklah bagus bahkan cenderung membahayakan karena pendapatan dari operasionalnya tidak mampu menutupi utang-utangnya. Lebih parahnya lagi utang jangka pendek PRAS menyentuh angka Rp 462,8 miliar atau lebih dari separuh ekuitas perusahaan.

Permasalahannya adalah bagaimana upaya manajemen dalam menutup utangnya tersebut? Sedangkan kemampuan kasnya seperti itu?

Yang pasti tambah utang lagi atau perusahaan akan melakukan konversi utangnya ke ekuitas perusahaan seperti yang pernah  mereka lakukan dulu.

Jadi jika Anda menemukan saham yang secara sekilas menarik seperti PRAS ini yakni penjualan meningkat, laba usaha meningkat, laba bersih meningkat, dan EPS meningkat berkali-kali lipat. Jangan langsung tertarik untuk membelinya. Karena itu bisa jadi bahwa perusahaan tersebut memang jelek seperti kasus PRAS ini. apalagi hanya melihat dari PBV dan PER PRAS yang tercatat masing-masing sebesar 0,2x dan 3,01x.