Pada awal berdirinya pada tahun 2004, perseroan memiliki nama PT Prima Jasa Aldodua dengan komposisi pemegang saham adalah YKKPP (Yayasan Kesejahteraan Karyawan Pembangunan Perumahan) dan Ir. Betty Ariana yang kemudian di akuisisi oleh PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP) dengan nilai akuisisi sebesar Rp 44,33 miliar sebanyak 31.995 lembar saham atau 99,98% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Perlu diketahui bahwa YKKPP adalah suatu yayasan yang dibentuk oleh PTPP untuk menyejahterakan karyawan PTPP dan hubungan kepengurusan  antara perseroan dan YKKPP adalah dalam bentuk afiliasi.

Setelah diakuisisi oleh PTPP, PT Prima Jasa Aldodua berubah nama menjadi PT Pembangunan Perumahan Alat Konstruksi atau biasa disingkat PT PP ALKON, dan ditahun yang sama yakni 2014 PT PP ALKON kembali berubah nama menjadi PT PP Alat. Baru kemudian ditahun 2017
PT PP Alat berganti nama menjadi PT Pembangunan Perumahan Presisi atau disebut PT PP Presisi. Bidang usaha PT  PP Presisi ini meliputi konstruksi, EPC (Engineering, Procurement, and Construction), jasa Mekanikal elektrikal, transportasi, penyewaan, perdagangan, pertambangan, dan bidang lainnya yang berhubungan dengan konstruksi.


http://www.mattoa.com/

PT PP Presisi sendiri memiliki entitas anak usaha yakni PT Lancarjaya Mandiri Abadi (LMA) di mana LMA ini sendiri bidang usahanya tidak jauh berbeda dengan induknya yakni meliputi konstruksi, perdagangan, industri, pertambangan, jasa, angkutan udara, dan pertanian dengan persentase kepemilikan sebesar 51% dari seluruh modal ditempatkan dan di setor penuh, namun bidang utama LMA sendiri adalah layanan jasa Civil Works. LMA sendiri di akuisisi oleh PT PP Presisi pada Juni 2017. Kontribusi LMA sendiri terhadap Presisi cukup tinggi, di mana pendapatan LMA pada Juli 2017 tercatat sebesar 21,2% dari pendapatan konsolidasi yang sebesar Rp 441 miliar, dengan laba bersih LMA menyumbang sebesar 36,7% dari laba bersih komprehensif yang sebanyak Rp 53,8 miliar. Sedangkan dari jumlah aset LMA atas Presisi adalah sebesar 21,2% yakni sebesar Rp 1,4 triliun dengan utang LMA sendiri mencapai Rp 595,6 miliar. Yang artinya secara individu LMA ini memiliki rasio utang terhadap ekuitas (DER) sebesar 0,74% dengan ROE yang hanya sebesar 4,4%. Hal ini dikarenakan LMA sendiri baru diakuisisi oleh  Presisi pada Juni 2017 yang itu artinya satu bulan kemudian laporan keuangan ini (per 31 Juli 2017) dirilis, sehingga hanya ada satu bulan yang diakui oleh Presisi sebagai pendapatan/laba bersih LMA sebagai bagian dari entitas anak usahanya.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal II 2017 perusahaan, Presisi memiliki aset sebesar 3,4 triliun dengan jumlah utang sebesar Rp 2,1 triliun dan ekuitas Rp 1,2 triliun yang berarti bahwa rasio utang atas ekuitas Presisi atau DER sebesar 1,75 kali dan ini sama seperti utang PTPP (induk Presisi). Namun jika kita menyingkirkan nilai kepentingan non pengendali dalam ekuitas Presisi, maka akan diketemukan bahwa nilai DER Presisi sendiri mencapai 2,5 kali. Dan ya ini cukup wajar untuk perusahaan konstruksi dengan DER yang begitu banyak, tinggal nanti kita lihat apakah utang sebesar itu adalah utang Bank atau bukan.

Lalu bagaimana dengan profitabilitas Presisi sendiri?

Selama tujuh bulan dalam 2017 Presisi telah membukukan pendapatan sebesar Rp 441,05 miliar atau meningkat sebesar 150% dari periode yang sama di 2016 dan laba kotor Presisi tercatat sebesar Rp 128,2 miliar atau naik sebesar 200% dari 2016 yang sebesar Rp 41,2 miliar. Kemudian laba bersih tahun berjalan, Presisi mencatatkan keuntungan sebesar Rp 45,5 miliar dibanding Rp 15,7 miliar pada 2016 lalu atau naik hampir 200%. Dan Laba bersih komprehensif yang dicatatkan oleh Presisi sebesar Rp 37,7 miliar berbanding Rp 15,7 miliar pada periode yang sama. Pendapatan Presisi sendiri berasal dari pendapatan sewa sebesar Rp 68,3 miliar, penjualan beton sebesar Rp 113,6 miliar, pekerjaan sipil 216,4 miliar, dan bekisting sebesar Rp 42,8 miliar. Sedangkan sampai saat ini PCH masih belum memberikan kontribusi atas pendapatan Presisi. Meski laba bersih mengalami peningkatan namun ternyata ROE Presisi tidak begitu mengagumkan. Tercatat ROE Presisi hanya sebesar 6,2% dan ini terlihat tidak begitu menggembirakan.

Saat ini Presisi memiliki utang jangka pendek sebesar Rp 1,5 triliun, namun utang ini tidak didominasi oleh utang Bank yang sebesar Rp 362,7 miliar atau hanya sebesar 24,4% dari seluruh utang jangka pendek Presisi. Komposisi terbesar dari utang jangka pendek Presisi didominasi oleh utang usaha dan utang pihak ketiga (berelasi) yang masing-masing tercatat Rp 357,8 miliar dan Rp 491 miliar. Ini artinya dari segi utang jangka pendek Presisi cukup aman karena utang yang dimiliki yang jatuh tempo dalam waktu dekat adalah utang yang produktif. Utang berelasi yang sebesar Rp 491 miliar ini, sebesar Rp 490 miliar adalah utang atas akuisisi PT LMA pada Juni 2017 lalu, di mana utang ini seharusnya sudah lunas pada 29 September 2017 (jadi wajar jika dalam Prospektus PT PP Presisi masih tercatat utang sebesar Rp 491 miliar) dan memang utang sebesar itu telah dilunasi oleh Presisi pada waktu yang disepakati, sehingga DER Presisi saat ini di kisaran 0,6 kali. Meski begitu kemampuan manajemen mengelola utang harus diperhatikan karena kas dan setara kas yang dimiliki Presisi hanya sebesar Rp 263,7 miliar dengan pendapatan kas dari operasi hanya sebesar Rp 8,5 miliar. Namun, Presisi ini masih ekspansif karena dalam catatan kas dari aktivitas investasi tercatat penggunaan dana sebesar Rp 608,8 miliar atau lebih dari setengah triliun yang masing-masing sebesar Rp 319 miliar untuk investasi pada entitas anak (yakni LMA) dan sisanya untuk pembelian aset tetap seperti alat-alat konstruksi.

Bagaimana dengan Kontrak-kontrak Presisi?

Berdasarkan Prospektus Presisi, kontrak yang berakhir pada 2017 ini senilai Rp 656,7 miliar di mana sebagian besar yakni Rp 595,7 selesai pada Oktober sampai Desember 2017. Ini artinya pada akhir tahun 2017 Presisi akan menyelesaikan kontrak sebesar 90,7%. Tiga kontrak yang akan selesai di akhir 2017 ini sangat besar terdiri dari proyek Tol Trans Sumatera senilai Rp 360,2 miliar, Proyek terminal LRT Koridor 1 sebesar Rp 36,3 miliar, dan Proyek Batching Plan Tol Trans senilai Rp 199,2 miliar. Kemudian sisa kontrak Presisi yang akan berakhir pada 2018 sampai dengan 2021 senilai Rp 2,7 triliun. Sedangkan kontrak yang akan selesai pada tahun 2018 adalah senilai Rp 1,5 triliun atau naik 130% dari total kontrak yang berakhir di 2017 ini. Jadi sisa kontrak setelah 2018 nanti, Presisi masih memiliki kontrak senilai Rp 1,2 triliun dengan asumsi Presisi tidak menambah kontrak baru (dan ini kami rasa tidak mungkin). Jadi total kontrak yang dimiliki oleh Presisi sendiri senilai Rp 3,4 triliun.

Bagaimana  dengan rencana IPO dan sahamnya?

Kita telah mengulas tentang keuangan Presisi, dan seperti kebanyakan perusahaan konstruksi, profitabilitas Presisi ini kurang begitu “nyenengin” dan standar saja (akan terlihat menarik ketika laporan tahunan 2017 nanti dirilis). Sayangnya dalam prospektus tersebut tidak disampaikan berapa besar dana yang ditargetkan terkumpul dari kegiatan IPO Presisi ini. Mari kita lihat komposisi kepemilikan saham Presisi sebelum dan sesudah IPO.

Presisi berniat melepas saham di pasar perdana sebanyak-banyaknya 35% dari modal ditempatkan dan disetor penuh atau sebanyak 4.239.330.000 lembar. Sebelum IPO , saham Presisi dimiliki oleh PTPP sebanyak 99,98% dan sisanya dimiliki oleh YKKPP. Dan setelah IPO nanti, kepemilikan keduanya akan terdilusi menjadi 64,99% dan YKKPP 0,1%. Dana hasil IPO nanti akan digunakan untuk kebutuhan belanja modal perseroan sebesar 70% dan 30% digunakan untuk kebutuhan modal perseroan seperti untuk mendapatkan dan menyelesaikan proyek-proyek yang dimiliki Presisi.

Lalu Berapa harga  saham yang ditawarkan kepada publik?

Sayangnya, seperti yang kami sampaikan di atas Presisi tidak menyampaikan besaran dana yang ditargetkan dalam IPO nanti. Tapi mari kita buat beberapa pendekatan untuk dapat memberikan gambaran tentang harga sahamnya nanti.

Jika kita mengacu pada harga saham PTPP yang merupakan induk Presisi ini pada penutupan 27/10/2017 kemarin di mana PTPP dijual pada 1,5 kali PBV nya. Maka harga Presisi ini kemungkinan dipatok pada harga Rp 150-160 per lembarnya, sehingga dana hasil IPO nanti berkisar Rp 635,9 – 678,3 miliar. Sehingga ekuitas Presisi nanti akan menjadi Rp 1.889,4 – 1.931,8 miliar setelah IPO.


Namun jika mengacu pada IPO GMFA (sama-sama anak usaha BUMN meski sebenarnya tidak relevan jika kita membandingkannya) kemarin yang dilepas pada harga Rp 400 atau sama dengan 3,15 kali PBV maka harga Presisi berada pada Rp 320-330 per lembarnya sehingga kemungkinan dana yang diraup mencapai Rp 1,36 – 1,4 triliun, dan ekuitas Presisi berubah menjadi Rp 2,56 – 2,6 triliun.

Terlepas dari itu, perolehan kontrak Presisi ini masih didominasi dari induknya yang sebesar 1.089 miliar dan dari PT PU (Pekerjaan Umum) sebesar Rp 1.134,44 miliar dan sisanya berasal dari Jasa Marga, PT Total Bangun Persada Tbk, PT PP Urban, dan proyek PT HK – Tol Trans Sumatera. Sehingga ketergantungan terhadap proyek-proyek pemerintah dan induknya cukup tinggi, serta mayoritas pendapatan Presisi disumbangkan oleh Penyewaan alat-alat konstruksi seperti yang telah kami bahas di bagian awal.
Previous Post Next Post