TRAM dan Rencana Right Issue Jumbo

Beberapa waktu yang lalu perhatian kami tertuju pada publikasi TRAM (PT Trada Maritime Tbk) dan SMRU (PT SMR Utama Tbk). Di mana dalam publikasi tersebut keduanya sama-sama menyebutkan bahwa SMRU akan dibeli oleh TRAM yang menjadikan TRAM sebagai pemegang saham mayoritas. Hal ini menunjukkan bahwa TRAM ingin menambah (bisa jadi mengubah) kegiatan bisnisnya menjadi perusahaan pertambangan, mengingat SMRU adalah perusahaan pertambangan. Namun yang menjadi perhatian kami adalah bukan upaya TRAM yang akan menjadi pemegang saham mayoritas, tetapi upaya TRAM dalam mendanai pembelian SMRU ini dan dua perusahaan lainnya.

Dalam prospektusnya, TRAM menyebutkan akan melakukan right issue dengan menerbitkan saham sebanyak-banyaknya sejumlah 40 miliar lembar saham baru atau sebesar 80,43% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Itu pun masih disertakan waran sejumlah 3,4 miliar waran seri II sebagai insentif. Sayangnya tidak disebutkan target perolehan dana dari aksi korporasi tersebut. Diperkirakan aksi korporasi ini dilaksanakan pada kuartal IV tahun 2017.

http://www.mattoa.com/


Namun jika mengacu pada rencana penggunaan dana yang bakal didapatkan dari right issue tersebut, maka dana yang dibutuhkan TRAM adalah sebesar lebih dari Rp 2 triliun (tidak memperhitungkan pembelian 50,10% saham SMRU). Dengan rincian sebagai berikut : 
1.      TRAM berencana membeli saham PT Semeru Infra Energi 504.999.999.900 dari total 
       saham 5.049.999.999 dengan nominal per sahamnya Rp 100,- atau sama dengan 99,99% 
       modal disetor 
2.      Membeli PT Black Diamond Energi senilai Rp 99.999.900.900,- atau mewakili 99,99% 
       modal disetor 
3.      Menyetorkan modal kepada PT Semeru Infra Energi sebesar Rp 1,5 triliun dan kepada 
       PT Black Diamond Energi sebanyak Rp 357 miliar.

Dari 3 rencana itu saja TRAM membutuhkan dana sebesar Rp 2,5 triliun sehingga right issue TRAM akan sebesar (harga tebusnya) Rp 62,- per lembar saham. LUAR BIASA!!!

Lalu bagaimana dengan aset TRAM? Per laporan kuartal II 2017 aset TRAM tercatat sebesar USD 124 juta atau sekitar Rp 1,6 triliun sedangkan ekuitas TRAM hanya tercatat Rp 125,3 miliar saja. Itu artinya TRAM ini sudah enggak lolos sama sekali jika dinilai dari valuasi dengan metode likuidasi.

Lalu bagaimana jika kita juga memperhitungkan harga pembelian SMRU?

Sayangnya dalam prospektus tersebut tidak dicantumkan harga pembelian SMRU oleh TRAM. Namun jika kita mengacu pada harga penutupan sore ini (2 Oktober 2017) maka dana yang diperlukan oleh TRAM untuk membeli sisa saham SMRU dari pemilik lama adalah sebesar Rp 3 triliun. Jadi total dana yang dibutuhkan untuk kegiatan akuisisi dan penambahan modal perusahaan akuisisi TRAM adalah sebesar Rp 5,5 triliun. Jadi dana sebesar itulah yang kemungkinan menjadi target right issue TRAM nantinya.

Jika demikian maka harga pelaksanaannya nanti adalah sebesar Rp 137,- per lembarnya. Jadi publik yang memegang saham TRAM ini pada dasarnya “dipaksa” untuk mendanai proyek manajemen. Bagaimana tidak, jika publik memegang saham TRAM tidak kurang dari 70% apalagi dengan ancaman dilusi yang luar biasa gila (mencapai 80%) maka mau tidak mau, boleh tidak boleh, aksi ini bisa dikatakan sebagai upaya “pemaksaan” manajemen kepada pemegang saham publik untuk mendanai pembelian beberapa perusahaan.

Oke, misalkan ini tidak boleh disebut sebagai upaya “pemaksaan”. Sedangkan dalam prospektus yang hanya 5 lembar saja tidak dijelaskan mengenai rencana dan perkembangan bisnis yang akan dijalankan tersebut. Padahal kita tahu dana yang akan di “keruk” oleh TRAM ini sangat besar di pasar yakni sebesar Rp 5,5 triliun. Lalu disebut apakah itu? Meski itu masih sebatas pengajuan kepada OJK.

Bagaimana dengan pembelian SMRU?

SMRU ini lahir pada tahun 2003 dengan fokus bisnis pada perdagangan, jasa, industri, pengangkutan, perbengkelan, dan pembangunan. Namun makin kesini ternyata SMRU menjadi Holding Company dengan beberapa entitas anak usaha yang berjumlah 7 entitas anak usaha. 4 dari seluruh entitas bergerak dibidang pertambangan dengan 1 di kontraktor dan 3 lainnya di bidang pertambangan batu bara.  Inilah salah satu alasan TRAM mencoba mengakuisisi SMRU, karena TRAM ingin melebarkan sayapnya ke bisnis pertambangan.

Anehnya, kenapa yang dibeli SMRU? Bukan perusahaan pertambangan lainnya yang profitable?

SMRU ini bisa dikatakan perusahaan yang seumur hidupnya merugi. Entah bagaimana manajemen mengelolanya. Pada laporan keuangan kuartal II 2017 SMRU mencatat rugi bersih sebesar USD 1.176.200 atau rugi bersih sebesar Rp 2,66 per lembar saham (dengan asumsi USD 1 / Rp 13.300). sedangkan ekuitas perusahaan tercatat sebesar USD 71,7 juta atau senilai Rp 953,8 miliar dan aset sebesar USD 172,8 juta. Jadi jika TRAM berencana membeli SMRU seperti perhitungan di atas, maka SMRU ini dihargai sebesar lebih dari 3 kali lipat ekuitasnya.

Ini yang menarik, dengan ekuitas TRAM yang hanya sebesar Rp 125 miliar mencaplok SMRU dengan ekuitas SMRU yang hampir 8 kali lipat ekuitas TRAM, di mana dana untuk akuisisi diperoleh dengan menerbitkan saham baru. Itu mirip dengan cicak mencaplok buaya.

Apakah sesederhana itu? Tidak ada rencana lain dibalik akuisisi tersebut?

Biasanya akuisisi dilakukan dengan membeli perusahaan yang lebih kecil dari perusahaan pengakuisisi. Contoh BBRI mengakuisisi AGRO, atau INDY terhadap Kideco. Tetapi ini beda, yup beda dari biasanya. Jadi seperti ada upaya memasukkan aset-aset SMRU ke dalam TRAM. Tetapi kami belum berani memastikan apakah hal itu benar atau tidak, karena kami belum memiliki bukti bahwa indikasi tersebut benar adanya.

Lalu bagaimana efek dilusi yang akan dialami oleh pemegang lama?

Perseroan telah memaparkannya di prospektus yang telah dirilis. Berikut ini tabel penjelasannya.

http://www.mattoa.com/

Anda sudah mengerti bukan bahwa efek dilusi yang dihasilkan dari rencana right issue ini? Jadi mau enggak mau pemegang saham TRAM harus membeli saham baru melalui HMETD dengan rasio 1 : 4 jika tidak mau terkena dilusi, artinya 1 saham lama memiliki hak memesan 4 saham baru.