Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Telkom Tbk

Beberapa waktu lalu saat kami (dalam hal ini penulis) sedang pergi ke sebuah konter penjualan voucher pulsa handphone di dekat kantor kami. Kami membeli sebuah kartu untuk kebutuhan paket data (dan memang penulis lebih suka sekali pakai kartu yang sekali pakai untuk paket data) dan coba Anda tebak apa yang kami beli? Yup, Telkomsel. Kenapa Telkomsel? Selain banyak sekali alasan, namun yang utama adalah jangkauan sinyal Telkomsel sangat luas. Dan itu dibuktikan di mana kami tinggal (rumah orang tua penulis), yang mana berada di sebuah desa pinggir hutan dan tahukah Anda, ternyata sinyal didesa kami telah 4G dan alhamdulillah lancar. Dan pada waktu yang bersamaan kami teringat pada TLKM.

Anda pasti sudah familiar dengan saham berkode TLKM bukan? Sebuah saham bluechip dengan aset lebih dari Rp 190 triliun dan kapitalisasi pasar
yang mencapai Rp 410 triliun atau hampir 4 kali lipat dari ekuitas TLKM sendiri. Di mana beberapa waktu lalu TLKM terkoreksi cukup tajam dari posisi tertingginya yakni Rp 4.840 per lembarnya dan menyentuh di Rp 3.910 per lembarnya atau terkoreksi hampir 20%. Koreksi tersebut cukup wajar mengingat TLKM terus saja mencetak new high dalam setahun ini, hanya saja reaksi pasar (beberapa investor) tampaknya berlebihan dalam menyikapinya. Dan memang penurunan tersebut seperti menghapus keuntungan yang di cetak saham TLKM ini selama setahun coba Anda perhatikan grafik berikut ini.

http://www.mattoa.com/

Terlihat bahwa koreksi yang terjadi dalam sebulan ini telah mengurangi secara signifikan keuntungan yang di cetak oleh saham TLKM karena turun mendekati harga di awal tahun 2017 ini. Tapi bagaimana dengan fundamentalnya sendiri?

Apakah penurunan saham TLKM dipengaruhi oleh perubahan fundamentalnya? Atau sebatas koreksi normal?

Aset TLKM sampai kuartal III 2017 ini tercatat sebesar Rp 190,5 triliun (naik 6%) dan ekuitas tercatat sebesar Rp 110,6 (naik 4,8%) triliun serta utang tercatat Rp 79,9 triliun (naik 7,8%), sehingga rasio utang terhadap ekuitas TLKM hanya sebesar 72% dan ini terlihat wajar-wajar saja.  Kemudian pada kuartal III 2017 ini TLKM mencatatkan pendapatan sebesar Rp 97 triliun (naik 12,5%) dengan laba bersih tercatat naik 17,95% sebesar Rp 26,05 triliun. dengan demikian ROE TLKM tercatat sebesar 30% (di setahunkan) dengan dengan EBIT sebesar 41,8%.

Arus kas TLKM sendiri cukup normal dengan mengalami penurunan sebesar Rp 2,7 triliun disebabkan karena adanya aktivitas pembelian aset tetap serta pembayaran utang dan dividen. Dan dengan utang jangka pendek sebanyak Rp 43,2 triliun, maka kas dan setara kas memang tidak mencukupi namun dengan kemampuan manajemen TLKM utang tersebut akan dapat ditangani dengan baik (toh utang jangka pendek  ini tidak langsung jatuh pada waktu yang bersamaan).

http://www.mattoa.com/

Dalam beberapa tahun terakhir, penyumbang terbanyak pada pendapatan TLKM adalah dari pendapatan data, internet, dan jasa informatika, sedangkan pendapatan dari telepon berada di posisi kedua diikuti pendapatan lainnya. Masing-masing sebesar Rp 52,5 triliun, Rp 34 triliun, dan Rp 5,9 triliun. Dengan total pendapatan sebesar Rp 97 triliun pada kuartal III 2017 ini, maka diproyeksikan pendapatan TLKM di akhir 2017 tumbuh sebesar 11%-12% dibanding pendapatan TLKM di tahun 2016 lalu.

Dengan kata lain pendapatan TLKM di topang oleh pendapatan data dan internet, dan pendapatan dari telepon, di mana masing-masing memiliki porsi 54% dan 35%. Dari sini bisa kita lihat bahwa pertumbuhan penggunaan data oleh pelanggan menjadi porsi terbesar bagi pendapatan TLKM, dan dengan bertumbuhnya teknologi dan internet, maka bisa dipastikan kedepannya penggunaan data dan internet akan semakin besar porsinya dibanding telepon.

Ok, fundamental TLKM semuanya baik-baik saja. Lalu bagaimana dengan kasus yang mendera TLKM?

Pada tanggal 24 Agustus 2017 TLKM menerima surat panggilan sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dalam perkara “dugaan adanya itikad tidak baik melakukan penghentian layanan transponder kepada CSM dan sampai saat ini perkara ini masih dalam proses, dengan total tuntutan sebanyak Rp 16 triliun.

Perlu diketahui, PT CSM atau PT Citra Sari Makmur adalah sebuah perusahaan yang memberikan pelayanan kepada TLKM berupa kerja sama pemanfaatan jaringan tetap dan sarana penunjang atau transponder. TLKM sendiri memiliki saham PT CSM sebanyak 223.517 lembar atau 25%, jadi transaksi yang timbul antar keduanya adalah transaksi berelasi. Karena sampai saat ini proses ini masih berlangsung, maka kita belum bisa mengetahui apakah TLKM diwajibkan membayar ganti rugi sebanyak Rp 16 triliun atau tidak. Sehingga wajar jika harga TLKM koreksi tajam sebulan ini karena adanya kasus ini selain juga karena rusaknya satelit Telkom 1 yang diputuskan tidak akan digunakan lagi.

Saat ini TLKM dihargai pada 17.43 kali PER nya dan PBV sebesar 3.76 kali. Maka sebenarnya saat TLKM lalu turun menyentuh angka Rp 3.900 adalah peluang yang jarang terjadi untuk saat ini mengingat IHSG yang bullish dan belum menunjukkan adanya koreksi (hal ini didukung banyaknya bluechip yang melaporkan kinerja yang kinclong). Dengan PBV 3.76 kali tersebut maka TLKM dijual cukup mahal untuk saat ini.