Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dilema PT Tiga Pilar Sejahtera



Sepertinya tahun 2017 ini bukanlah tahun yang baik bagi AISA. Sebagai perusahaan Consumer Goods, AISA dikenal sebagai perusahaan beras dengan merek dagang Ayam Jago dan Maknyus. Namun belakangan (tepatnya pada bulan Juli 2017 kemarin) ujian menghinggapi bisnis AISA dimana gudang beras milik PT IBU (anak usaha AISA) digrebek oleh pihak Kepolisian dengan dugaan awal pengoplosan beras namun belakangan berubah menjadi penipuan pencantuman label gizi pada kemasan. Terlepas dari berbagai dugaan tersebut, yang paling membuat AISA terpuruk adalah kebijakan HET beras oleh pemerintah dimana untuk beras medium HET nya pada Rp 9.450,- per Kg sedangkan beras premium pemerintah menetapkan sebesar Rp 12.800,- per Kg. Bandingkan dengan harga beras maknyus yang menyentuh harga Rp 13.000,- per Kg sedangkan ayam jago dijual Rp 20.000,- per Kg.

Jelas dengan selisih yang jauh tersebut akhirnya AISA mengalami penurunan pendapatan dan laba bersih yang signifikan (kami telah mengulas AISA disini). Tercatat pendapatan AISA pada 9 bulan di 2017 sebesar Rp 4,1 triliun atau turun sebesar 17,7% dibanding periode yang sama di 2016 yang sebesar Rp 4,98 triliun. Disisi lain laba bersih AISA jeblok menjadi Rp 168,7 miliar atau turun 51,1% dibandingkan pada 2016 lalu yang sebesar Rp 345,1 miliar. Praktis harga saham AISA pun langsung melorot (meski sudah melorot banyak sejak penggerebekan gudang berasnya), namun sentimen penurunan laba bersih yang lebih dari 50% ini memberikan sinyal buruk kepada para pemegang saham bahwa AISA telah mengalami pukulan berat. Kita semua tahu bahwa sumbangsih industri berasnya terhadap pendapatan komprehensif AISA mencapai 65% dibanding bisnis food-nya yang mencapai 35%. Secara kasat mata saja terihat jelas bahwa AISA ketergantungan pada industri berasnya, jadi ketika industri beras AISA terkena aturan HET tersebut maka sudah bisa dipastikan AISA akan mengalami kemunduran yang buruk.

http://www.mattoa.com/
Pergerakan harga saham AISA YTD

Lihat saja pergerakan harga saham AISA sejak awal tahun 2017. Penurunan yang sangat tajam bagi perusahaan consumer goods ini bukanlah hal baik, namun juga tidak bisa kita mengabaikannya begitu saja. Sebagai perusahaan consumer goods, AISA selain memberikan ketidak pastian dalam waktu dekat ini juga memberikan peluang yang tidak semua orang bisa menangkapnya. Okelah itu nanti kita bahas dibagian akhir. Sekarang bagaimana dengan status utangnya?

Parahnya lagi setelah penurunan laba bersih dan kasus hukum yang menimpanya, manajemen membuat rancana akan melakukan Spin Off anak usahanya yang bergerak di bidang perdagangan beras. Jelas ini sentimen buruk (buruk banget malah). Kenapa begitu? Coba Anda bayangkan, ketika Anda memiliki sumber penghasil uang paling besar kemudian Anda berniat menjual atau melepasnya, bagaimana reaksi keluarga Anda? Jelas ditentang. Nah AISA ini kasusnya hampir sama seperti analogi tersebut. Setelah merilis laporan keuangan kuartal III 2017 lalu, AISA berencana men-Spin Off (menjual) anak usahanya, yang rencananya akan dijual ke PT JOM. PT JOM ini adalah pembeli anak usaha AISA yakni GOLL (PT Golden Plantation Tbk) yang bergerak dibidang CPO. Kita semua tahu bahwa PT JOM sampai kuartal III 2017 kemarin belum membayarkan uang hasil penjualan GOLL yang senilai lebih dari Rp 500 miliar. Nah muncul pertanyaan, kalau GOLL saja yang nilainya segitu belum juga dibayar-bayar, bagaimana dengan anak usaha beras? Yang jelas nilainya jauh diatas itu? Bukannya dapat uang malah dapat piutang yang enggak tahu kapan akan diterima.

Setelah muncul rencana tersebut, akhirnya dilaksanakanlah RUPSLB dengan Bondholder (pemegang surat utang AISA), dan hasil kegiatan tersebut para Bondholder menolak penawaran manajemen mengubah jaminan utang (maksudnya adalah mendivestasi usaha berasnya). Dan... pasar pun bereaksi dengan harga saham AISA langsung naik signifikan. Apakah dengan hasil rapat tersebut kemudian masalah AISA berkurang? Sama sekali belum.

Rencana divestasi tersebut akhirnya menjadi salah satu alasan Pefindo menurunkan rating utang AISA menjadi idBBB dari idA bagi surat utang senilai Rp 900,- miliar. Berikut tabel penilaian surat utang AISA

No.
Objek Pemeringkatan
Hasil Pemeringkatan
1
Obligasi I Tahun 2013
idBBB
2
Sukuk Ijarah I Tahun 2013
idBBB (sy)
3
Sukuk Iajrah TPS Food II Tahun 2016
idBBB (sy)
4
PT. Tiga Pilar Sejahtera Tbk
idBBB
Creditwatch with Negative Implication 

Jelas dengan penurunan rating utang AISA ini menjadi warning bagi para investor, apakah AISA mampu membayar utang jatuh temponya?

Untuk menjawabnya, mari kita lihat arus kas AISA. Saat ini kas dan setara kas AISA tercatat sebesar Rp 126,3 miliar sedangkan utang jangka pendeknya mencapai Rp 3,6 triliun dengan utang jatuh tempo kurang dari 1 tahun mencapai Rp 3,3 triliun. Ironis sekali bukan? Dengan kas sebesar Rp 126,3 miliar maka dengan asumsi utang jatuh tempo tersebut dibayarkan pada akhir 2017 maka AISA memerlukan tambahan dana sebesar Rp 3,17 triliun. Dari mana AISA bisa mendapatkan tambahan dana sebesar itu? Sedangkan saat ini AISA mengalami masalah yang cukup pelik. Bisa saja AISA mengajukan pinjaman lagi, namun dengan kondisi saat ini bagaimana? Kemudian bagaimana kalau AISA mengajukan restrukturisasi utang? Kita berharap saja manajemen AISA mampu membayar hutang tanpa mengubah fundamental perusahaan secara radikal.

Okey, lalu bagaimana dengan saham AISA, menarik atau tidak?

Pada penutupan perdagangan hari ini (13-12-2017), harga saham AISA bertengger di Rp 426 per lembarnya dengan PER sebesar 5,92 dan PBV sebesar  0,31 kali. Jelas sangat menarik, namun dengan utang jatuh tempo yang segede gaban dibandingkan nilai kasnya tersebut, bagaimana dong?

Ok, kita buat sesederhana mungkin. Perhitungan yang kita gunakan adalah perhitungan yang digunakan W. Buffet pada annual letternya di tahun 1963 dengan memvaluasi Dempster Mill Manufacturing Company. Perlu digaris bawahi bahwa asumsi perhitungan ini adalah “jika perusahaan tersebut dijual saat ini secara keseluruhan”. Berikut perhitungannya :

Aset
Nilai Buku
Dinilai Pada :
Nilai Wajar
Kas
126,3
100%
126,3
Piutang
2.938,22
85%
2.497,49
Persediaan
1.911,8
60%
1.147,1
Aset Lain-lain
867,35
25%
216,83
Total Aset Lancar
5.843,67

3.987,72
Aset Tetap
3.103,44
50%
1.551,72
Aset lainnya
706,21
80%
564,97
Total Aset lainnya
3.809,65

2.116,69
Total Aset
9.653,32

6.104,41
      Catatan : 1. nilai dalam miliar rupiah
  2. penilaian diatas tidak menggunakan standar akuntansi yang ada

Dari tabel tersebut, kita bisa melihat jika AISA dijual saat ini dengan asumsi penjualan seperti diatas, maka diatas kertas hasil penjualan AISA sebesar Rp 6,1 triliun. Disisi lain AISA memiliki total hutang sebesar 5.217,44 miliar. Jadi sisa hasil penjualan setelah pelunasan hutang adalah Rp 886,97 miliar. Jika kita bagikan dengan jumlah saham AISA baik seri A maupun Seri B yang berjumlah 3,2 miliar lembar, maka didapatkan nilai sebesar Rp 277,19 (kita bulatkan saja menjadi Rp 280) per lembarnya. Jelas dengan harga saat ini yang sebesar Rp 426 per lembarnya sama dengan AISA dihargai 1,5 kali.

Terlepas dari perhitungan sederhana diatas, dengan PER 5,92 kali dan PBV sebesar 0,31 kali jelas AISA ini menawarkan peluang dibalik runyamnya kondisi AISA. Namun untuk saat ini lebih baik kita cari saham lain saja yang lebih memberikan kita ketenangan (nyaman saat tidur), toh masih banyak saham yang prospektif dan murah. Seperti saham batubara dengan harga batu bara untuk pengiriman Januari 2018 di harga USD 100 per metrik tonnya, dan harga saham properti yang masih tiarap, maka AISA cukup kita jadikan watchlist saja sampai semua menemukan titik terang, atau setidaknya rating utang AISA berubah menjadi lebih baik di Februari 2018 nanti.