Holding BUMN Pertambangan

Pada Rabu, 29 November 2017 lalu baik PTBA, TINS, dan ANTM melakukan RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) yang bersamaan, agendanya adalah menyetujui perubahan Anggaran Dasar Perseroan terkait perubahan status Perseroan dari Persero menjadi Non-Persero. pada RUPSLB tersebut juga akhirnya terbentuklah Holding BUMN Pertambangan dengan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM menjadi Holdingnya (Induk Perusahaan). Pembentukan Holding ini seperti pada PP Nomor 47 Tahun 2017 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke dalam Modal Saham PT Inalum (Persero).

PT Inalum (Persero) atau PT Indonesia Asahan Aluminium adalah perusahaan BUMN yang bergerak dibidang peleburan aluminium dengan kapasitas desain mencapai 255.000 ton aluminium batangan (ingot) per tahun yang sahamnya dikuasai Pemerintah sebanyak 100%.

http://www.mattoa.com/

Pertanyaannya, apa tujuan dibentuknya holding?

Terlepas dari pro kontra di kalangan pengamat dan investor tentang Holding BUMN Tambang ini namun ada optimisme dibalik itu semua. Rencana Holding BUMN tambang ini bergulir pada Agustus 2017 lalu dimana pemerintah melalui Kementerian ESDM akan mengambil 51% saham Freeport Indonesia. Sedangkan nilai divestasi saham Freeport bisa mencapai ratusan triliun. dalam perhitungan Freeport sendiri dengan metode Fair Market Value maka nilainya mencapai 211 triliun atau 107 triliun untuk 51% sahamnya. Sedangkan jika menggunakan asumsi Replacement Cost yang digunakan pemerintah, maka nilai saham 51% Freeport sebesar 40-50 triliun (selisih keduanya sangat jauh). Sedangkan tidak ada satu pun BUMN tambang yang memiliki aset sebesar itu. Solusinya? Ya holding.

Holding BUMN tambang diambil pemerintah untuk mengakuisisi 51% saham Freeport McMoran Indonesia ketimbang menggunakan dana APBN langsung (karena ya jelas memberatkan, mending untuk yang lain). Nah dengan langkah inilah nanti Holding tambang bisa mendapatkan pinjaman untuk mengambil 51% tersebut. Lalu berapa total aset Holding pertambangan? Sampai Desember 2016 Inalum memiliki aset sebesar 21,5 triliun, ANTM 30,67 triliun, PTBA 19,5 triliun, dan TINS 11,64 triliun pada 2017. Kalau digabungkan semuanya maka aset Holding Inalum nantinya akan menjadi Rp 83,3 triliun. Sampai saat ini nilai divestasi sendiri masih dinegosiasikan karena adanya perbedaan asumsi perhitungan. Namun dari dua metode tersebut yang memungkinkan adalah metode yang digunakan pemerintah yakni Relacement Cost. Total dana yang dibutuhkan nantinya sekitar 40-50 triliun sehingga Inalum nantinya tidak akan kesulitan untuk mencari pendanaan sebesar itu (karena kalau mencari pinjaman lebih dari nilai aset maka akan sulit).

Lalu bagaimana status BUMN TINS, PTBA, dan ANTM?

Dalam PP No. 47 Tahu 2017, status ketiga perusahaan tersebut tidak banyak berubah. Tetap memperoleh perlakuan yang sama seperti BUMN-BUMN lainnya. Hanya saja ketiganya tidak lagi menyandang status “Persero” atau BUMN. Pemerintah sendiri dalam hubungan dengan ketiga perusahaan tersebut tetap sebagai pemegang Vote terbanyak baik melalui saham Dwi Warna Seri A atau melalui Inalum yang 100% sahamnya dimiliki pemerintah. Jadi dalam hal ini tidak ada masalah sama sekali terkait dengan status ketiganya.

Mungkin ada yang bertanya, dari keempat BUMN tersebut, kenapa Inalum yang dijadikan Holding? Bukan ANTM yang asetnya paling tinggi atau PTBA yang memiliki kinerja paling moncer? Ada banyak sekali jawaban yang berseliweran yang bisa Anda jadikan referensi, namun yang paling mungkin adalah karena Inalum sahamnya dimiliki 100% oleh Pemerintah (cuma tinggal mindahin “atas nama saham” saja, gk perlu keluar duit). Tidak ada investor ritel, reksadana, atau perusahaan investasi yang memiliki saham Inalum. Sedangkan PTBA, ANTM, dan TINS? Ketiganya sudah menjadi perusahaan publik yang mana tidak hanya pemerintah saja yang memiliki sahamnya, tetapi juga investor publik. Sehingga dengan kepemilikan penuh terhadap Inalum, Pemerintah punya kuasa “Mutlak” dalam mengatur dan mengawasi Inalum dan anak usahanya tersebut.  Analogi mudahnya keluar kantong kanan masuk kantong kir, sama saja bukan?

Bagaimana skema peralihan saham ketiga perusahaan tambang tersebut?

Dalam pembentukan Holding tersebut, seluruh saham yang dimiliki Pemerintah terhadap PTBA, ANTM, dan TINS langsung dialihkan ke Inalum melalui “Akta Peralihan Saham” yang ditandatangani oleh Kementerian BUMN sebagai perpanjangan tangan dari Pemerintah. Sederhananya seperti tabel berikut ini :

Keterangan
Sebelum Holding
Setelah Holding
ANTM
PTBA
TINS
ANTM
PTBA
TINS
1.      Saham Seri A
a.                   Negara RI

2.      Saham Seri B
a.         Negara RI
b.        Inalum
c.         Publik

100


65%

35%

100


65,02%

34,98%

100


65%

35%

100



65%
35%

100



65,02%
34,98%

100



65%
35%
Catatan : dinyatakan dalam Persen

Jadi tidak ada perubahan berarti, hanya status Persero saja yang hilang dari ketiganya. Kalaupun nantinya Inalum ingin ngejual sebagian aset salah satu dari ketiganya maka ya harus ada persetujuan dulu dari pemerintah, enggak bisa langsung main jual saja. Selain itu keuntungan untuk PTBA dkk adalah mereka akan bisa mendapatkan pendanaan dari Inalum yang menjadi induknya (utang afiliasi). Nantinya setelah akuisisi 51% Freeport, maka Inalum akan menjadi induk usaha dari 4 perusahaan gede. Karena setelah PTBA, ANTM, dan TINS maka Freeport jelas akan menjadi bagian dari Inalum.

Siapa yang diuntungkan? Ya Inalum. Kenapa? Ya singkatnya karena Inalum itu Holding. Tetapi dengan bergabungnya ketiga perusahaan tersebut, maka secara langsung akan ada pertukaran teknologi antara keempat perusahaan tersebut. Yang paling diuntungkan? Ya jelas Inalum. Apalagi kalau kita memperhitungkan juga Freeport, ya jelas Inalum lagi dong yang paling diuntungkan.

Terus apa dong yang bisa kita dapatkan sebagai investor publik dari aksi korporasi tersebut? Dalam jangka pendek tidak ada sama sekali. Namun dalam jangka panjang sudah pasti ada. Selain yang kami sebutkan diatas seperti pertukaran teknologi dan pengetahuan, adalah kemudahan pendanaan terutama dari Inalum sebagai Holding yang akan bisa me-leverage kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan kedepannya. Apakah bisa menjadi lebih efisien? Masih perlu dilihat lagi laporan keuangannya dalam masa-masa yang akan datang. Karena Inalum sebagai induk perusahaan tidak memiliki kesamaan sektor dengan ketiga perusahaan tersebut.

Ambil contoh seperti Kideco dengan Indy, ya jelas bisa memberikan efisiensi biaya secara langsung. Tetapi Inalum ini kan perusahaan peleburan aluminium, sedangkan PTBA itu perusahaan Batubara, TINS sendiri pertambangan timah, dan ANTM sendiri bidang usahanya meliputi pertambangan feronikel, emas, batu bara, perak, bauksit, dan bijih nikel. So, jika kita langsung melihat bisnisnya masing-masing maka tidak akan memberikan dampak efisiensi secara langsung, namun sharing knowledge nya nantilah yang bisa meningkatkan efisiensi ketiganya.