Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Alam Sutera Realty Tbk (ASRI)

Adalah sebuah perusahaan yang bergerak dibidang pembangunan dan pengelolaan perumahan. Sebelum berubah nama menjadi PT Alam Sutera Realty, perusahaan bernama PT Adhihutama Manunggal pada tahun 2007. Pada tahun 1999 perusahaan memulai kegiatan operasionalnya dengan pembelian tanah. Dan saat ini perusahaan memiliki proyek real estate utama baik oleh perusahaan sendiri ataupun melalui anak usahanya. Beberapa diantaranya seperti proyek alam sutera di Serpong, proyek suvarna padi dan suvarna di Pasar Kemis Tanggerang, Kota Ayodhya di Tangerang, proyek The Tower dan Wisma Argo Manunggal di Jakarta, dan Garuda Wisnu Kencana Cultural Park di Uluwatu Bali.


Meski bukan emiten properti dengan nilai aset paling besar namun kinerja ASRI saat booming properti 2011-2013 lalu sangat mengesankan dengan pengembalian atas ekuitas (ROE) sebesar 20%-25% namun belakangan ini sektor properti (tepatnya setelah tahun 2013) kinerjanya terus saja menurun bahkan sampai saat ini meski pada 2016 lalu pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan yang diharapkan dapat mendorong agar sektor ini bertumbuh. Nampaknya memang masih banyak orang yang menahan untuk belanja disektor ini (investasi properti). Kita ketahui bahwa sektor properti booming setelah boomingnya sektor komoditas, dan barangkali juga ini bisa terjadi lagi dimana saat ini sektor komoditas terutama Oil dan Batubara terus saja mencetak new high. Dimana harga acuan Batubara telah menyentuh angka USD 105 per metrik ton dan Oil telah menyentuh angka USD 62 per barel. Disisi lain beberapa emiten properti telah mencetak kinerja yang cemerlang hingga kuartal III di 2017 ini. Sebut saja seperti APLN, LPKR, BSDE, dan termasuk ASRI sendiri. Beberapa diantaranya masih diharga yang murah yakni dibawah PBV nya.

http://www.mattoa.com/


Okey, sekarang mari kita intip kinerja keuangannya. Hingga kuartal III 2017 ASRI mencatatkan pendapatan sebesar Rp 3,17 triliun naik sebesar 67% dibanding kinerja di 2016 lalu pada kuartal yang sama yang mencatatkan pendapatan sebesar Rp 1,9 triliun. disisi lain laba bersih ASRI juga tercatat naik signifikan sebesar 69,8% menjadi Rp 1,13 triliun dibanding periode sebelumnya yang hanya tercatat sebesar Rp 664 miliar. Kenaikan pendapatan dan kenaikan laba bersih yang tidak banyak perbedaannya menandakan bahwa kinerja keuangan ASRI memang benar hasil dari operasi bisnisnya bukan dari keuntungan lainnya. Dengan begitu ASRI mencetak pengembalian keuntungan atas modal (ROE) sebesar 18% (disetahunkan) lebih baik dibanding pada 2016 lalu yang sebesar 7%. Saat ini ekuitas ASRI tercatat sebesar Rp 8,32 triliun dengan total utang sebesar Rp 12,06 triliun, dengan kata lain rasio utang terhadap ekuitas ASRI 1,4 kali. Besar memang namun separuh dari total utang ASRI ini adalah utang obligasi dengan bunga obligasi sebesar 6,625% dan 6,95%per tahunnya dengan jatuh tempo pada 2020 dan 2022 mendatang sedangkan utang terbesar kedua adalah uang muka penjualan sebesar Rp 1,7 triliun (ini utang jangka pendek terbesar), dan sisanya? Banyak, namun yang paling besar adalah utang jangka panjang. Jadi masih ada nafas panjang untuk menghadapi pembayaran utang ini.

Dengan pendapatan sebesar Rp 3,17 triliun tersebut maka ASRI mencatatkan gross profit margin sebesar 58% dan net profit margin sebesar 35%. Sedangkan pada tahun lalu GPM ASRI sebesar 56% dan NPM sebesar 34%. Ini menandakan bahwa meski ditengah tekanan lemahnya sektor properti ASRI masih mencatatkan kinerja yang baik.

Darimana asal pendapatan sebesar Rp 3,17 triliun tersebut?

Nilai pendapatan ASRI sebesar Rp 3,17 triliun berasal dari 3 sektor bisnisnya, yakni Real Estate sebesar Rp 2,89 triliun, jasa hospitality dan prasarana sebesar Rp 222,5 miliar, dan pariwisata sebesar Rp 52,7 miliar. Dari sini sudah nampak bahwa pendapatan ASRI masih didominasi oleh penjualan real estate dan tanah kavlingnya. Keduanya menyumbang pendapatan sebesar Rp 2,28 triliun atau sebesar 72% dari total pendapatan perusahaan. Jadi bisa Anda bayangkan jika tiba-tiba harga properti ambruk maka kinerja ASRI sudah jelas ikut ambruk juga. Dimana sektor real estate menyumbangkan pendapatan sebesar 91,2% terhadap pendapatan komprehensif sebesar Rp 2,89 triliun. Pendapatan dari sektor ini naik sebesar 78% dibandingkan pada 2016 lalu yang hanya sebesar Rp 1,62 triliun. dari sektor ini pula terdapat hal yang perlu kita garis bawahi yakni ASRI pada 2017 ini sepanjang 9 bulan pertama mampu menjual 1.353 unit apartemen yang pada 2016 lalu tidak ada satu pun unit yang tercatat terjual.

Disisi lain ASRI memiliki land bank dibeberapa daerah, seperti di tangerang, Cianjur, Riau, Bali, dan Bekasi. Total land bank ASRI sebesar 5.219.785 m2 atau kurang lebih 500 hektar yang menjadi hak milik perusahaan, sedangkan land bank seluas 13.833.486 m2 (sekitar 1.300 hektar) masih dalam bentuk pelepasan hak atau perjanjian pengikatan jual beli. Hingga kuartal III 2017 ini, perusahaan telah berhasil menambah kurang lebih 110 hektar.

http://www.mattoa.com/
Sumber : Yahoo Finance

Bagaimana prospek ASRI?

Banyak kalangan mempercayai bahwa tahun 2017 ini menjadi titik balik bagi sektor properti namun pada kenyataannya tidak demikian. Namun di awal tahun 2018 ini optimisme tersebut muncul kembali. Penyebabnya adalah rendahnya suku bunga kredit (LTV) sejak 2016 lalu (kebijakan pemerintah) dan BI sendiri tidak menaikkan suku bunga bank (BI 7-day reverse repo rate) sehingga tetap berada di 4,25% meski The Fed telah menaikkan suku bunganya. Disisi lain beberapa emiten properti juga mulai mencatatkan kinerja yang membaik seperti yang telah kami sampaikan di awal artikel ini. Meski masih dibayangi lemahnya kinerja sektor ini sehingga banyak emiten properti yang dihargai cukup murah ditengah menggeliatnya IHSG akhir-akhir ini, maka sektor properti layak untuk dicermati.

Kemudian seperti yang telah kami ulas diatas bahwa kinerja ASRI sudah mulai menunjukkan geliatnya dengan ROE sebesar 18% (disetahunkan) maka sudah seharusnya emiten-emiten properti mulai menggeliat harga sahamnya. Mari kita lihat pergerakan harga saham ASRI pada gambar diatas. Data tersebut kami ambil dari yahoo finance dengan rentang waktu 2010-2018 maka sejak 2013 harga saham ASRI mengalami penurunan dan cenderung sideways berkepanjangan. Saat ini ASRI dihargai Rp 370 per lembarnya yang menandakan bahwa ASRI dijual pada 0,88 kali PBV dan dengan PER sebesar 4,9 kali maka tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dan memang lebih baik jika kita bisa membelinya jauh dibawah harga saat ini, namun mengingat PER yang sedemikian kecil dan PBV yang masih dibawah 1 kali maka cukup layak untuk dikoleksi.

Sedikit mengulas EPS ASRI. Hingga kuartal III 2017 ASRI mencatatkan EPS sebesar 56,82 atau 75,76 jika disetahunkan. Dengan EPS sebesar 56,82 tersebut, sebenarnya ASRI telah mengalami kenaikan EPS yang cukup besar yakni 69%. Dan jika kita hitung secara tahunan dimana pada tahun 2016 lalu EPS ASRI sebesar 25,89 maka ASRI akan mengalami kenaikan EPS yang besar. Untuk sembilan bulan pertama ini saja EPS ASRI telah mencapai hampir dua kali lipat EPS 2016 dan melampaui EPS ASRI di tahun 2014 yang sebesar 55,85 dengan ROE sebesar 18%. Jadi bagaimana menurut Anda sekarang?

Maka dengan target 1-1,2 kali PBV, untuk harga saat ini ASRI masih tetap menarik.