Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Rencana Akuisisi Bank Permata : Siapa yang Jadi Membelinya?

Rencana Akuisisi BNLI

Aksi korporasi yang cukup menyita perhatian investor di pasar saham adalah kabar rencana akuisisi Bank Permata (BNLI) oleh beberapa Bank besar baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Beberapa bank dikabarkan berminat untuk membeli saham Bank Permata (Kode ; BNLI) ini, seperti ;
1. Bank Mandiri
2. Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC)
3. Sumitomo Mitsui Financial Group
4. DBS Group

Keempat calon pembeli tersebut memang memiliki keinginan untuk melebarkan sayap bisnisnya (terutama 3 calon pembeli yang memang berasal dari luar negeri) di Indonesia. Namun hingga saat ini tidak ada info resmi siapa calon pembeli Bank Permata.

Berikut ini struktur kepemilikan Bank Permata ;
a. Standard Chartered Bank          44,56%
b. Astra Internasional                     44,56%
c. Publik                                           10,88% 

Standard Chartered sendiri sebenarnya yang ingin menjual sahamnya di Bank Permata, sedangkan Astra masih belum rela melepasnya (mungkin kalau harganya cocok dilepas juga).

Biasanya dalam harga pembelian alias akuisisi perbankan itu rata-rata 2 kali PBV. Saat ini Book Value (BV) Bank Permata sebesar 846 perlembarnya, jadi dengan asumsi harga akuisisi 2 kali BV maka seharusnya berada di harga 1692 atau upside 34,82%. Jika memang benar demikian maka seharusnya harga BNLI di market akan mendekati harga akuisisi, sama seperti kasus pada akuisisi Mitsubishi UFJ Financial Group pada BDMN.

Itu jika kita melihat dari sudut pandang harga akuisisi. Lalu bagaimana kinerja fundamental dan harga sahamnya?

Fundamental Bank Permata (BNLI)


https://www.blogsaham.com/
https://www.blogsaham.com/
Sumber : RTI Bussines

Pada kuartal III 2019 BNLI mencatatkan pendapatan sebesar Rp 8,65 triliun atau 78% dari total pencapaian tahun 2018. Seharusnya untuk mencatatkan kinerja pendapatan yang sama dengan tahun lalu tidaklah sulit, apalagi acuan bunga kredit telah diturunkan oleh BI menjadi 5% dan seharusnya ini menjadi faktor pendorong meningkatnya penyaluran kredit.

EPS BNLI  sejalan dengan pendapatannya, pada kuartal III ini EPS BNLI tumbuh 121% dari EPS tahun lalu pada kuartal yang sama, sedangkan secara tahunan Net Income BNLI tumbuh sebesar 136% dari EPS tahun lalu. Nampaknya masuknya Astra ke dalam BNLI memberikan dampak signifikan atas kinerjanya. Makanya Astra masih ogah-ogahan melepasnya, karena dia sudah berusaha sekuat tenaga membuat bank ini menjadi sawah subur.

Harga Saham BNLI

https://www.blogsaham.com/
Sumber : Investing 

Secara YTD kinerja saham BNLI sungguh mengagumkan dengan mampu mencatatkan kenaikan sebesar 139%. Sedangkan sejak Agustus 2019 (low) kinerjanya mencatat kenaikan 100% hingga saat ini. Hanya saja penurunan sebesar -12% pada 07 Nopember 2019 membuat chart BNLI menjadi patah. Support line yang selama ini menjadi support trend nya berubah menjadi resisten trend. Bahkan dalam penurunan tersebut asing memborong BNLI sebesar Rp 26 miliar, disusul Net Buy Rp 16 miliar pada perdagangan hari selanjutnya.

Ada kemungkinan harga BNLI akan menyentuh 1100-1000 dahulu sebelum kembali naik, selama isu akuisisi ini belum rampung maka spekulasi atas harga akuisisi BNLI masih cukup menarik.

Kita tadi telah membahas berapa harga akuisisinya dengan asumsi 2 kali BV di harga 1692, namun jika kita menggunakan asumsi yang lebih konservatif dengan harga pembelian adalah 1.5 kali BV, maka saat ini harga BNLI sudah price in, sudah sedikit ruang upside bagi BNLI.

Regards,

BlogSaham