Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Belajar Kesalahan Investasi Dari Kasus Jiwasraya

Selayang pandang Jiwasraya

Jiwasraya merupakan salah satu perusahaan asuransi tertua di Indonesia, dahulunya ia bernama Nederlandsch Indiesche Levensverzekering en Liffrente Maatschappij van 1859 atau disingkat NILLMIJ yang berdiri pada tahun 1859. Kemudian pada tahun 1960 seluruh perusahaan asuransi peninggalan Belanda di Nasionalisasi tidak terkecuali NILLMIJ. Hingga pada akhirnya di tahun 2003 namanya berubah menjadi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) setelah beberapa kali mengalami perubahan nama.


https://www.blogsaham.com/

Pada laporan tahunan terakhir yang dipublikasikan yakni 2016, diketahui bahwa aset perusahaan tercatat sebesarRp 38,6 triliun dengan ekuitas sebesar Rp 5,4 triliun. Itu artinya rasio modal atas asetnya sebesar 14%. Jadi jika tiba-tiba Jiwasraya mengalami gagal bayar sebesar Rp 12 triliun itu sangat wajar, namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana bisa dengan aset sebesar itu perusahaan mengalami gagal bayar?

Jiwasraya sejak tahun 2012 hingga 2016 memiliki pertumbuhan aset dan ekuitas yang sangat bagus, dimana CAGR dari asetnya selama 5 tahun adalah 44,96% dimana pada tahun 2012 aset Jiwasraya adalah sebesar Rp 9,26 triliun menjadi Rp 38,6 triliun pada akhir 2016 dan CAGR ekuitas mencapai 36,87% dari Rp 1,6 triliun di tahun 2012 menjadi Rp 5,4 triliun di tahun 2016.

Baca Juga : Berapa Lama Investasi Saham Kita dapat Menghasilkan Keuntungan atau Cuan?

Pertumbuhan yang signifikan tersebut sangatlah mengagumkan, dan tidak akan pernah terjadi jika tidak ada strategi investasi yang bagus. Bahkan tercatat kinerja pendapatan Jiwasraya per 2016 sebesar Rp 21,12 triliun, pencapaian ini melebihi dari target RKAP yang dipatok sebesar Rp 13,89 triliun dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp 11,06 triliun. Lompatan pendapatan yang sebesar 152,15% ini sangatlah fantastis, sehingga realisasi laba dari Jiwasraya pun lompat tinggi mencapai 224,7% dari RKAP yang telah ditentukan untuk tahun 2016.

Dana penempatan investasi yang dilakukan oleh Jiwasraya pada tahun 2016 mencapai Rp 34,59 triliun atau sebesar 90,4% dari total aset perusahaan. Meski begitu, keuntungan atas asetnya hanya sebesar 5,34% namun ROE nya mampu mencapai 39%.


Dengan kinerja yang begitu cemerlang, mengapa Jiwasraya dapat mengalami gagal bayar sebesar Rp 12 triliun?

Kita akan fokus membahas permasalahan Jiwasraya pada bagian kualitas aset investasi yang rendah, terutama saham.

Berikut ini kami sajikan beberapa saham yang dimiliki oleh Jiwasyara, perlu diketahui data yang ditampilkan ini adalah kepemilikan Jiwasraya yang lebih dari 5%, sebagai berikut:


1. SMBR (Semen Baturaja Tbk)

SMBR merupakan emiten yang bergerak di bidang industri semen, tapi apakah SMBR layak untuk investasi?
Berdasarkan laporan akhir 2015, SMBR mencatatkan kinerja cukup bagus dibanding tahun sebelumnya dimana EPS SMBR tercatat sebesar Rp 36 dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp 33 atau naik 10,7%. 

Mengapa tahun 2015 yang digunakan untuk melihat apakah SMBR layak untuk investasi atau tidak?

Tahun 2016 adalah tahun cemerlangnya kinerja Jiwasraya sebagaimana disebutkan diatas, dan kinerja saham SMBR di tahun 2016 selalu Break All Time High (ATH) bahkan harga tertinggi SMBR nangkring Rp 2980 perlembarnya atau telah naik 1.020% dari harga open awal 2016 di Rp 292. Sehingga dasar analisa investasinya pasti menggunakan laporan keuangan 2015.

Dengan EPS 36 maka pada harga 292 maka PER SMBR tercatat di 8,1x dan PER tersebut tergolong wajar meski ROE SMBR di 2015 tercatat sebesar 10%. Pada saat harga tertinggi di 2016 PER SMBR tercatat diatas 100x dan ini tidak wajar bagi PER sebuah emiten kalau harga saham emiten tersebut tidak di "maintain" atau "digoreng".

Mengapa demikian?
UNVR saja yang termasuk emiten bonafit PER nya tidak banyak berubah di range 40-50x, sedangkan PER SMBR mencapai angka 100x. Wajarkah?

Berikut chart SMBR
www.blogsaham.com/
Sumber : www.investing.com

Sejak awal 2016 volume transaksi SMBR mulai besar terutama di bulan ketiga 2016 volume berada diatas rata-rata dan peningkatan volume ini menunjukkan adanya anomali dari pergerakan sebuah saham. Apakah anomali tersebut dipicu oleh demand saham atas pertumbuhan kinerja SMBR? atau karena mau digoreng?

Ketika harga menembus level 1500, volume transaksi mulali mengecil, disinilah proses distribusi dimulai. Puncaknya harga saham sideways di periode 2017-2018 dan pergerakannya sangat volatil namun volume transaksinya kecil.

Berapa banyak saham SMBR yang dimiliki oleh Jiwasraya?
Jumlahnya berubah, namun diatas 5% dan untuk saat ini Jiwasraya memegang 9,19% dari total saham beredar atau 913.172.000 lembar saham SMBR. Masalahnya adalah berapa harga rata-rata pembelian Jiwasraya di SMBR ini? tidak ada yang tahu kecuali manajemen Jiwasraya. Namun jika saham sebanyak itu dijual langsung ke market, market tidak akan mampu menampung apalagi likuiditas SMBR ini tergolong mini.

Itu artinya penurunan SMBR dari puncak tertingginya sampai hari ini adalah -88,5%. Bagaimana jika harga beli Jiwasraya di SMBR ini rerata di harga 1620? Maka kerugian yang ditanggung atau Floating Loss dari Jiwasraya sekitar 69,87%. Jika kita asumsikan harga rerata pembelian Jiwasraya di SMBR adalah 1620, maka modal Jiwasraya di SMBR berkisar Rp 1,48 triliun dengan Floating Loss 69,87% maka kerugian investasi Jiwasaraya di SMBR saja sebesar Rp 1,04 triliun. Tapi ingat, itu harga asumsi, bukan harga sebenarnya. Anda bisa mencari harga sebenarnya, dan jika sudah menemukannya, tulis dikomentar.


2. PPRO (PP Properti Tbk)

Di PPRO pun kurang lebih sama, namun kinerja PPRO lebih bagus dibandingkan SMBR. PPRO mampu mencatat kinerja yang bagus di awal-awal dia IPO dimana ROE tahun 2015 sebesar 17,58% dan ini bagus disaat mayoritas emiten properti mencatatkan kinerja lesu. Yang menjadi menarik adalah harga saham PPRO pun sama seperti SMBR, hingga posisi puncaknya PER tercatat diatas 100x, jadi kesimpulannya? PPRO di goreng.

Siapa yang menggoreng?

Kepemilikan Jiwasraya di PPRO pun diatas 5%, saat ini kepemilikan Jiwasraya di PPRO tercatat 8,51% dari total saham beredar atau sekitar 5.247.243.770 lembar. Kinerja PPRO memang lebih bagus dibanding SMBR hingga 2017, seharusnya Jiwasraya mampu memaintain dan keluar dari PPRO dengan selamat, namun faktanya tidak.

Dengan kepemilikan lebih dari 5% maka menjadi kesulitas tersendiri bagi Jiwasraya untuk bergerak keluar dari PPRO, karena perubahan kepemilikan diatas 5% meski itu 100 lembar harus disampaikan ke publik. Jadi jika PPRO menjual semua saham PPRO nya dengan berbagai cara, pasti akan terlihat oleh publik.

Berikut chart pergerakan PPRO
www.blogsaham.com/
Sumber : www.investing.com

Pergerakan harga saham PPRO mirip dengan SMBR, setelah akumulasi kemudia ia naik tinggi berkali lipat lalu kemudian volume perdagangan mengecil dan turun sampai saat ini harga PPRO mendekati area harga IPO di level 60.

Dari dua saham diatas, apakah Jiwasraya tidak mampu mengelola investasinya dengan baik?
Kita belum tahu bagaimana cara Jiwasraya mengelola dana asuransi yang dihimpunnya, apakah menggunakan metode Value Investing, ataukah Growth Investing, atau menggorang saham layaknya para bandar?

Bagaimana dengan kerugian Jiwasraya di PPRO? Besar! Kurang lebih prosentase yang diderita sama dengan kerugian di SMBR.

Baca Juga : Anjloknya Kinerja Reksadana Saham

Seharusnya dengan dana kelolaan segede gajah tersebut, manajemen Jiwasraya harus memikirkan bagaimana pengelolaan dana investasi yang mampu meningkatkan value perusahaan di masa mendatang. Berinvestasi pada saham-saham yang dapat menjadi mesin uang bagi mereka seperti yang dilakukan North Star, atau dengan berinvestasi pada saham-saham dengan Yield Dividen yang tinggi.

Bukan dengan menggorang saham lalu kemudian sulit keluar, nyangkut diharga atas, lalu menyerah dengan gagal bayar premi 12 triliun dan meminta pemerintah menalangi untuk menyelamatkan perusahaan.


Beberapa hal yang bisa dijadikan pelajaran dari kesalahan investasi Jiwasraya ini;

1. Sebagai investor institusi yang notabene seukuran gajah, jangan pernah beraharap dapat bergerak secara dinamis seperti seekor kucing yang bisa keluar masuk dengan mudah dan cepat. Menentukan SOP dan Filter dalam berinvestasi menjadi hal yang paling fundamental;
2. Sebagai perusahaan besar, sudah seharusnya ia belajar seperti apa yang dilakukan oleh Warrent Buffet atau Peter Lynch yang mana mereka mampu mengelola dana besar namun dapat tumbuh yang sustainable, bukan seperti seorang spekulan;
3. Memilih saham perusahaan yang akan dibeli, tetaplah harus dianalisa lebih dalam, tidak sesuka hati membeli tanpa perencanaan investasi yang tepat;
4. Pertumbuhan yang solid dan sustain merupakan kunci pertumbuhan investasi yang sebenarnya, dibanding mencari saham yang dapat naik tinggi namun kemudian nyangkut dan sulit keluar darinya;
5. Saham-saham dengan fundamental kacangan tidak layak beli, jangan pernah dilirik, kecuali anda seorang spekulan;
6. Bukan urusan besarnya dana kelolaan, tapi kehati-hatian dalam menaruh dana dalam instrumen investasi adalah yang utama;
7. Terus belajar dari kesalahan masa lalu demi masa depan investasi yang baik;
8. Hati-hati dengan saham REPO, jika anda tidak memiliki keahlian didalamnya;
9. Jiwasraya sebagai perusahaan plat merah tidak bisa melakukan Cut Loss sebagaimana trader, maka seharusnya Jiwasraya harus bermain "aman" dalam berinvestasi.

Semoga ini dapat menjadi pengingat kita bahwa mengejar keuntungan besar dalam sekejap dapat berakibat fatal bagi dana investasi kita, kerugian itu berupa NYANGKUT!

Regards,
Blogsaham.com