PT Tiphone Mobile Indonesia  Tbk dengan kode emiten TELE merupakan sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi ponsel di seluruh Indonesia. TELE memang kalah moncer jika dibanding dengan ERAA, namun bukan berarti TELE tidak memperlihatkan kinerja yang baik. Pemberlakuan pemblokiran ponsel ilegal melalui IMEI menjadi katalis positif yang dapat meningkatkan kinerja TELE dikemudian hari.

Berdasarkan Permen Kominfo No. 11 Tahun 2019 tentang Pengendalian Alat dan/atau Perangkat Telekomunikasi yang Tersambung ke Jaringan Bergerak Seluler Melalui Identifikasi International Mobile Equipment Identity (IMEI) bahwa pemerintah akan melaksanakan pemblokiran bagi ponsel ilegal sebagai bentuk perlindungan konsumen. Nantinya yang akan melaksanakan pemblokiran adalah operator seluler, dan keputusan ini akan memberikan efek positif bagi para penjual ponsel dimasa mendatang tidak terkecuali TELE.

www.blogsaham.com

Kinerja Fundamental TELE

Secara fundamental, kinerja TELE memang masih kalah dibandingkan dengan ERAA dalam kelompok bisnis yang sama yakni distributor ponsel. Namun TELE bisa menjadi alternatif selain ERAA sebagai kandidat investasi, namun bukan berarti tidak menarik.

Baca Juga : Ramayana Lestari Sentosa (RALS) : Saham Undervalued

Per Kuartal III 2019 ini TELE baru mencatatkan penjualan sebesar 19,9 triliun atau baru 67% dari total pendapatan di tahun 2018 lalu. Meski demikian laba bersih TELE tercatat Rp 382,5 miliar atau 86% dari total laba bersih TELE di tahun 2018. Artinya terdapat peningkatan laba meski secara pendapatan TELE mengalami penurunan. Secara fundamental TELE ini kurang menarik, kalah menarik dibandingkan ERAA.

Lalu apa yang membuat TELE menarik?
Berikut ini beberapa poin yang menarik untuk diperhatikan;
1. Pemberlakuan pemblokiran ponsel ilegal
2. Harga saham saat ini dibawah harga IPO
3. Secara valuasi standar cukup atraktif
4. Penyalur resmi voucher Telkomsel

Kita bahas dari sisi valuasi terlebih dahulu.

Valuasi TELE

TELE saat ini dihargai pada PER 4,17x dan PBV sebesar 0,5x dan itu sudah menjadi standar yang bagus bagi investor untuk masuk. Jarang sekali mendapatkan sebuah saham diharga semurah ini kecuali disaat koreksi besar pada bursa atau sektornya, krisis atau resesi, atau sentimen eksternal yang tidak dapat dihadapi oleh market.

Dengan PER 4,17x itu artinya hanya perlu waktu 4 tahun agar investasi kita balik modal dari keuntungan perusahaan, dan PBV yang hanya 0,5x itu menandakan TELE sedang diobral oleh market saat ini. Dengan EPS kuartal III 2019 yang sebesar 52 dan jika kita setahunkan agar lebih sederhana, maka didapatkan EPS sebesar 70. EPS terbaik TELE terjadi pada tahun 2016 lalu yang sebesar 65 dan setelah itu harga sahamnya naik tinggi hingga mencapai harga tertingginya yakni di 1315 atau dijual dengan PER 20x. Jika kita menggunakan PER annualize yang sama dengan tahun 2016, maka sudah selayaknya harga saham TELE bertengger diatas 600, bukan dikisaran 300 seperti saat ini. Itu yang pertama.

Kedua, sentimen positif dalam jangka panjang jelas adalah pemberlakuan pemblokiran ponsel ilegal melalui IMEI. Peraturan ini bertujuan untuk melindungi konsumen dari pencurian data pribadi dan data-data lainnya. TELE sendiri pun merupakan perusahaan distributor ponsel diantaranya iPhone, Samsung, dan merek-merek ponsel buatan Cina lainnya.

Ketiga, TELE merupakan distributor utama dari produk-produk telkomsel. Sejak 2014 dimana PT PINS Indonesia yang merupakan anak usaha dari Telkom membeli 24% saham beredar TELE menjadikan TELE sebagai distributor utama untuk berbagai produk Telkom seperti voucher telkomsel. Jadi siapapun yang ingin menjual produk-produk telkomsel harus melalui TELE dan ini menjadi posisi yang kuat bagi TELE dibanding kompetitor-kompetitor lainnya. Keuntungan  TELE dari penjualan produk-produk Telkom tidak akan banyak terpengaruhi oleh persaingan harga dipasaran, disisi lain produk-produk Telkomsel sudah  memiliki brand market yang kuat dan pengguna yang loyal.

Teknikal TELE

Terakhir dari sudut pandang Teknikal atau dari pergerakan harga saham TELE itu sendiri. Perhatikan Chart Monthly TELE dibawah ini
www.blogsaham.com
Sumber : www.investing.com

Saat ini harga TELE berada dibawah harga IPO nya. Harga IPO TELE ada di 310 sehingga secara sederhana TELE ini sudah dalam kondisi Undervalued dan bukan murahan. Dengan bisnis yang jelas berjalan dan make money serta dari kebijakan pemerintah  berupa pemblokiran ponsel ilegal menjadikan TELE saat ini sangatlah murah.

Baca Juga : Berapa Lama Investasi Saham Kita dapat Menghasilkan Keuntungan atau Cuan?

Perhatikan garis warna Orange, garis itu adalah harga terendah pada bulan dimana TELE melantai pertama kali, dan saat ini harga TELE berada dibawah harga tersebut. Kemudian secara volume pun ada hal menarik. Per September 2019, volume perdagangan TELE meningkat drastis dan kini volume perdagangannya berada diatas volume tertinggi TELE sebelum-sebelumnya, artinya Volume TELE dalam kondisi All Time High.

Volume perdagangan meningkat dan harga saham konsolidasi dibawah, apa artinya?

Kita lanjut. Selama masa penurunan harga periode Juni 2017 hingga saat ini volumenya sangat kecil, hal ini menandakan bahwa tidak ada distribusi sama sekali pada saham ini. Para pemegang saham TELE tetap yakin akan masa depan bisnisnya. Bagaimana dengan Chart Daily nya?

www.blogsaham.com
Sumber : www.investing.com

Apakah anda mengenal sebuah pola dari chart tersebut?

Perhatikan selama masa bearish-nya dari harga 800an menuju harga 250an tidak ada volume sama sekali atau kecil sekali jika dibandingkan dengan volume perdagangan sebelum-sebelumnya. Kemudian setelah itu volume perdagangannya meningkat tajam. Saat harganya naik volume meningkat dan saat harganya menurun volume pun mengecil, dan itu terjadi sampai hari ini. Semakin panjang masa sideways-nya, high nya semakin menurun namun titik supportnya tetap di 250an.

Pola diatas adalah pattern Falling Wedge Reversal. And bisa mencari apa itu pattern Falling Wedge Reversal. Titik krusial  TELE ada di 250 sebagai support dan 310 sebagai titik resisten psikologis. Mengapa sebagai titik resisten psikologis? Karena disitulah harga TELE pada saat IPO. Sehingga dengan asumsi yang sederhana banyak investor yang memegang saham TELE diatas harga IPO, dimana harga saham TELE turun dibawah harga IPO hanya beberapa saat terakhi ini saja sejak IPO dilaksanakan.

Dengan beberapa pendekatan tersebut, tidak seharusnya TELE berada dihargai dibawah IPO. Dimana aset TELE yang mencapai Rp 9,23 triliun, ekuitas sebesar Rp 4,28 triliun dan penjualan yang mencapai lebih dari Rp 19 triliun dihargai hanya Rp 2,13 triliun.

Baca Juga : Menilik Potensi Widow Dressing di Tahun 2019

Dengan pendekatan sederhana, saat PBV sekarang yang hanya sebesar 0,5x dan ROE 11,9% maka dengan target 550-600 adalah hal yang wajar. Namun mengingat DER TELE yang mencapai 1x mengharuskan anda lebih bersabar agar saham TELE bergerak ke arah tersebut, dan fenomena Window Dressing yang sedang berlangsung membuat TELE bergerak terbatas, alias belum waktunya ia naik.

Saham Bluechip ; TELE, lo jangan naik duluan ya, biar kita-kita yang senior naik duluan baru elo
TELE : Ok Boss!

Regards,
Blog Saham
Previous Post Next Post