Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

IHSG dalam Chanel Downtrend

Beberapa waktu lalu kami telah menulis tentang menilik potensi Window Dressing di tahun 2019 di artikel ini. Pada saat itu tidak ada masalah yang dapat mengubah haluan indeks, karena beberapa indikator makro ekonomi sudah keluar ditambah lagi CAD kita mengalami surplus meski surplusnya tidak seperti yang diharapkan banyak orang.

Hingga artikel ini ditulis, indeks telah mengalami downtrend yang lebih dalam dibanding titik low yang muncul pada Oktober 2019 lalu, sehingga bisa dikatakan IHSG sudah breakdown dari support kuatnya. Hingga akhirnya pada Jumat 29 Nopember 2019 atau akhir bulan indeks mengalami rebound dan closing tepat diatas resist psikologinya di 6000.

Secara teknikal IHSG berada dalam downtrend channel dimana pada 29 Nopember 2019 kemarin IHSG rebound dengan bagus sehingga support line ini cukup kuat untuk ditembus, dan potensi IHSG untuk naik menjadi sangat besar kemungkinannya. berikut ini Chart IHSG


https://www.blogsaham.com/

Sumber : Investing.com

Terlihat bahwa IHSG berbalik arah setelah sebelumnya closing di support line, dan ini menunjukkan bahwa support tersebut cukup kuat untuk menahan laju penurunan Indeks.

Namun yang cukup surprise adalah adanya beberapa Reksadana saham yang bermasalah sehingga ditangani oleh OJK, seperti Reksadana Minna Padi yang dibubarkan, dan Reksadana Narada yang disuspend oleh OJK. Ini menjadi persoalan serius, apalagi dana kelolaan mereka diketahui sangatlah  besar.

Berdasarkan Bareksa.com dana kelolaan Minna Padi Asset Management mencapai 6 triliun rupiah, sedangkan Narada hampir 2 triliun rupiah. Jika nasabah dari kedua reksadana tersebut melakukan penjualan maka saham-saham yang dipegang oleh kedua reksadana akan turun tajam dan ini akan mempengaruhi laju IHSG.

Belum lagi efek Snowball dari kasus ini. Para pemegang reksadana diluar kedua reksadana tersebut akan merasa khawatir tentang bagaimana aset reksadana mereka, sehingga akan ada juga yang panic lalu kemudian menjualnya sesuai harga yang dipasar dan terus Hajar Kiri (Haki) sehingga harga saham reksadana tersebut sulit untuk naik.

Narada mungkin tidak begitu berefek pada IHSG, namun Minna Padi dengan dana kelolaan yang mencapai 6 triliun dan aktifitasnya dibubarkan oleh OJK yang mengharuskan mereka untuk melikuidasi sahamnya untuk kemudian dana hasil likuidasi tersebut dikembalikan kepada para pemilik dana akan jauh berefek ke IHSG. Diketahui beberapa saham dari Minna Padi ini termasuk Bluechip seperti BMRI, WIKA, PGAS, JSMR, BBNI, WTON, ANTM, BNLI dan INDF.

Jadi inilah yang menjadikan sentimen negatif bagi indeks selama ini untuk terus turun ditengah Dow Jones dan S&P500 yang terus saja Break All Time High.



Regards,


BlogSaham.com