Window Dressing merupakan momen dimana mayoritas saham di IHSG mengalami kenaikan cukup signifikan di bulan Desember hingga Januari. Namun pada tahun ini sepertinya Window Dressing tidak semeriah tahun lalu ataupun tahun-tahun sebelumnya, apakah benar window dressing edisi 2019 gagal terjadi? Mari kita ulas pada artikel kali ini.

Perjalanan Window Dressing

Sebagaimana kita tahu, window dressing merupakan fenomena yang cukup unik dan menarik, hal ini lebih disebabkan oleh naiknya mayoritas saham entah itu saham dengan fundamental bagus ataupun saham-saham dengan fundamental kacangan. Maka dari itu pada saat-saat seperti ini mudah sekali mendapatkan keuntungan dari pasar saham, entah itu trader berpengalaman maupun begginer luck saja.

Baca Juga : Menilik Potensi Widow Dressing di Tahun 2019

Apakah Window Dressing pada IHSG Gagal Terjadi?

Lalu bagaimana dengan window dressing kali ini?

Data Histori IHSG bulan Desember-Januari 10 Tahun Terakhir

Mari kita lihat data-data masa lampau terkait window dressing

Tahun              Bulan (kenaikan/penurunan)
                               Desember                   Januari
2010-2011                +4,88%                       -7,95% 
2011-2012                +2,88%                       +3,13%
2012-2013                +0,95%                       +3,17%
2013-2014                +0,42%                       +3,38%
2014-2015                +1,50%                       +1,19%
2015-2016                +3,30%                       +0,48%
2016-2017                +2,87%                       -0,05% 
2017-2018                +6,78%                       +3,93%
2018-2019                +2,28%                       +5,46%
2019-2020                +4,80%                            0%  

Data diatas menggunakan Bulan Desember tahun sebelumnya dan Januari tahun sesudahnya, karena pada dua bulan tersebut mayoritas Fund Manajer atau Manajer Investasi mempercantik kinerjanya. Pemolesan di Desember untuk mempercantik laporan kinerja dalam setahun penuh, dan pemolesan di Januari digunakan untuk mempromosikan produk perusahaan kepada calon nasabah mereka.

Selama 10 tahun terakhir, baik di bulan desember maupun januari hanya terdapat dua kali indeks menglami penurunan yakni pada Januari 2011 dan Januari 2017, semua terjadi pada bulan Januari, sedangkan pada bulan Desember semuanya mengalami kenaikan. Secara sederhana hal ini membuktikan bahwa pada bulan Desember selama 100% indeks naik dan pada Desember 2019 lalu hal itu terjadi dengan kenaikan yang signifikan. Lalu bagaimana dengan bulan januari di tahun selanjutnya?

Berbeda dengan bulan desember yang prosentase peluang mengalami kenaikan adalah 100%, di Januari hanya 78% dari total data diatas. Meski begitu data diatas tidak bisa digunakan sebagai kepastian bahwa setelah Desember mengalami kenaikan, maka Januari berpeluang besar tetap mengalami kenaikan seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga : Belajar Kesalahan Investasi Dari Kasus Jiwasraya

Kasus-kasus yang terjadi di pasar saham Indonesia tahun 2019

Selama kurun waktu 2019 cukup banyak peristiwa baik yang menghambat laju IHSG maupun yang memberikan dorongan pada laju indeks. Namun pada kuartal IV 2019 terdapat beberapa kasus yang mencuat dan ini nampaknya memberikan efek pada IHSG akhir-akhir ini. Beberapa kasus tersebut meliputi:


Penutupan Reksadan Minna Padi oleh OJK

Dengan total dana kelolaan mencapai lebih dari 5 triliun, reksadana Minna Padi ditutup oleh OJK dan diberi tenggat waktu selama 60 hari terhitung sejak 21 November 2019 sampai 60 hari mendatang. Itu artinya bulan Januari 2020 termasuk bulan yang menjadi waktu bagi Minna Padi mengembalikan dana  nasabahnya. Dengan begitu maka reksadana ini akan berusaha menjual seluruh portofolionya untuk memenuhi kewajiban mereka seperti tertuang dalam surat pembubaran oleh OJK.

Suspensi Reksadana Narada

Berbeda dengan kasus sebelumnya, Reksadana Narada yang memiliki dana kelolaan lebih dari 2 triliun di suspensi oleh OJK. Meski hanya suspensi, hal ini dapat mempengaruhi psikologi nasabah yang kemudian menjual reksadana mereka di Narada untuk menghidari apa yang terjadi pada Minna Padi. Hal ini lumrah, dimana pada saat satu reksadana mengalami masalah, maka nasabah pada reksadana lainnya juga akan lebih berhati-hati.

Suspensi Reksadana MNC

Kurang lebih sama dengan kasus Narada, Reksadana MNC yang memiliki dana kelolaan sekitar 1 triliun pun di suspend oleh OJK dengan beberapa alasan. Namun suspensi ini sebenarnya akan dibuka oleh OJK setelah pihak Manajer Investasi memenuhi tuntutan OJK sesuai dengan surat suspensi yang diterima pihak reksadana MNC sendiri.

Terkuaknya Permainan Saham REPO oleh The Genk "Solo"


Hingga hari ini masih ramai di pemberitaan mengenai kasus ini apalagi dengan kerugian yang dialami oleh Jiwasraya dimana mereka turut serta dicatut dalam mkasus tersebut. Kasus Hanson International yang menghimpun dana masyarakat dimana kegiatan ini menyalahi aturan yang ada dan merugikan masyarakat. Dana masyarakat tersebut digunakan untuk "berinvestasi" pada saham-saham yang tidak jelas fundamentalnya, dan kini pihak hanson diminta untuk mengembalikan dana tersebut kepada masyarakat. Sedangkan dana yang dihimpun oleh Hanson International mencapai 2,4 triliun.

Baca Juga : Anjloknya Kinerja Reksadana Saham

Jika beberapa kasus diatas kita gabungkan dana kelolaannya, maka akan ditemukan dana kurang lebih 11-12 triliun dan itu adalah hitungan kasar semata. Dengan dana sebesar itu yang mandek atau keluar dari market, maka transaksi di IHSG juga akan sedikit, sebagaimana kita tahu selama ini dana transaksi yang lumayan besar itu berada pada saham-saham gorengan yang bahkan mencapai puluhan hingga ratusan miliyar dalam satu  hari.

Review Saham-Saham Bank Big Caps

Kita sudah tahu sekilas mengenai beberapa hal yang mungkin menghambat laju IHSG pada Desember-Januari kali ini, untuk selanjutnya kita review 4 saham Bank Bigcaps untuk melihat gambaran yang lebih baik lagi mengenai potensi Window Dressing di Januari 2020.

blogsaham-window-dressing-bbca-bbri-bbni-bmri
Sumber : www.investing.com

Pada dasarnya tiga dari keempat saham tersebut yakni BBCA, BMRI, dan BBRI harga saat ini sudah mendekati atau melebihi harga di awal 2019 lalu, yang artinya ruang upside ketiganya tergantung pada kinerja keuangan mereka di 2019 (kita gunakan Q3 2019 agar lebih mudah). Sedangkan BBNI saat ini  masih tertinggal dibandingkan yang lainnya sehingga ruang upside BBNI sebenarnya masih sangat terbuka dan berpotensi lebih besar dibandingkan yang lainnya.


Bangaimana dengan kinerja mereka? Apakah benar masih memiliki potensi upside melebih harga diawal 2019 lalu?

blogsaham-bbri-bbca-bbni-bmri-window-dressing-rti
Ket: Q3 2019
Sumber : www.rti.co.id

Bandingkan dengan gambar berikut ini
bbca-bbni-bbri-blogsaham-bmri-window-dressing-rti
Ket : Q2 2019
Sumber : www.rti.co.id

Dari keempat saham tersebut mayoritas kinerja mereka mengalami kenaikan secara QoQ dan ini bagus sehingga seharusnya harga mereka berada diatas harga awal 2019 lalu. Dengan begitu ruang upside mereka masih terbuka di bulan Januari 2020 ini. Dan BBNI lah yang memiliki ruang upside tertinggi dibandingkan yang lainnya namun market harus membuktikannya bahwa BBNI memang layak diberi harga dengan upside tertinggi.

Kesimpulan 

Dengan melihat data-data diatas, maka sudah selayaknya IHSG di bulan Januari 2020 ini mengalami kenaikan, meskipun itu tidak sebesar Desember 2019 dan itu artinya window dressing berpeluang untuk lanjut dibulan. Peluang kenaikan masih ada, namun IHSG harus membuktikannya dengan menembus level resisten mereka di 6340 untuk kemudian bergerak ke area resisten All Time High di 6680-6700.

Baca Juga : Berapa Lama Investasi Saham Kita dapat Menghasilkan Keuntungan atau Cuan?
Previous Post Next Post