Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Badai Virus Corona Menghantam IHSG

Badai Virus Corona

Virus Corona berasal dari Kota Wuhan di Cina, dimana virus ini diyakini berasal dari hewan buas seperti Kelelawar dan ular. Namun bukan asalnya yang dipermasalahkan, namun efek domino dari virus ini yang sangat membahayakan.

WHO sendiri telah mengumumkan bahwa penyebaran Virus Corona  sebagai darurat Global, yang artinya masalah Virus satu ini sudah menjadi persoalan dunia bukan hanya Cina.

Pada kesempatan kali ini, kita tidak akan membahas bagaimana penanganan virus ini, namun efek yang terjadi pada bursa saham dari Virus satu ini seperti apa.

Beberapa hari ini pergerakan IHSG sangatlah berat bahkan melebihi prediksi penurunan Blogsaham sebelumnya. Pattern Double Top terkonfirmasi ditambah dengan sentimen negatif ancaman virus corona ini.

Apakah benar Virus Corona membuat IHSG babak belur?

dampak-virus-corona-pada-bursa-saham-asia-dan-indonesia


Belajar Dari Masa Lalu (Virus SARS) 

Dua dekade lalu muncul virus berskala global yang mewabah diseluruh dunia, yakni Virus SARS. Virus ini juga berasal dari Cina dan meawabah ke lebih dari 20 negara selama kurun waktu November 2002 - Juli 2003.

Lebih dari 8000 orang terinfeksi dan sekitar 800 meninggal dunia akibat SARS ini, dan pada saat itu SARS juga masuk ke Indonesia.

Apakah SARS diwaktu itu membuat bursa saham asia dan Indonesia mengalami tekanan yang berat?

Mari kita lihat grafik berikut ini

bursa-saham-asia-akibat-virus-sars-2002

Pada saat itu sebelum virus SARS diketahui oleh publik diawal 2003, semua berjalan normal. Indeks yang sebelumnya mengalami fase downtrend mulai ada yang recovery bersamaan dengan momentum Window Dressing dan January Effect.

Namun pada awal 2003 setelah SARS terkonfirmasi oleh dunia, bursa saham banyak yang mengalami tekanan cukup berat, tidak terkecuali IHSG.

Uniknya adalah bursa saham Cina tidak mengalami penurunan, hanya flat saja. Padahal merekalah yang menjadi tempat utama persebaran Virus SARS waktu itu.

Hal ini sebenarnya wajar saja, karena pada saat itu pertumbuhan ekonomi Cina masih diatas 9% dan sedang dalam performa yang apik, sehingga ketakutan atas wabah SARS tersebut tidak banyak berefek pada bursa saham mereka.

Berbeda dengan kondisi saat ini.

dampak-virus-corona-pada-bursa-saham-cina-dan-ekonominya

Saat ini pertumbuhan ekonomi Cina berada dalam titik terendah sejak tahun 2000 atau dalam 20 tahun terakhir. Dengan melandainya pertumbuhan ekonomi Cina saat ini, pasti banyak kalangan berfikir bahwa wabah kali ini akan cukup terasa dampaknya bagi perekonomian Cina.

Baca Juga :


Pengaruh Wabah Corona pada Perekonomian dan Bursa

Pengaruh dari wabah kali ini dianggap cukup besar bagi perekonomian Cina dan beberapa negara yang memiliki hubungan dagang yang bervolume tinggi dengan tiongkok, sehingga banyak investor diminta untuk sementara menahan aktivitas mereka di bursa saham di kawasan Asia, termasuk Indonesia.

Mereka menganggap dengan banyaknya orang yang terkena wabah, serta kebijakan Cina mengisolasi lebih dari 11 juta warga kota Wuhan berpengaruh besar bagi ekonomi Cina disaat pertumbuhan Ekonomi terus saja melandai.

Bayangkan saja, jika penutupan kota Wuhan mencapai 1 bulan, maka berapa banyak spending masyarakat terhenti. Berapa banyak perputaran uang yang mandek, dan berapa banyak efek perekonomian Wuhan pada Ekonomi Cina secara menyeluruh.

Meski begitu, dengan pengumuman dari WHO yang menganggap bahwa Cina akan mampu menangani persoalan wabah ini, memberikan sedikit angin segar bagi para investor.

Persoalannya akan berbeda bagi Indonesia sendiri.

Saat ini didalam negeri banyak kasus yang berefek pada bursa saham Indonesia, mulai dari kasus Jiwasraya dan Asabri yang kemudian mengakibatkan penutupan beberapa akun yang terkait dengan Jiwasaraya.

Lalu persoalan Likuidasi dari Reksadana Minna Padi yang telah ditutup oleh OJK yang diperkirakan akan berakhir pada 19 Februari mendatang (dihitung dengan 60 hari bursa).

Yang terakhir adalah kasus Reksadana Emco yang mengalami gagal bayar, yang berefek pada banyaknya nasabah yang reedem.

Dengan beberapa kasus tersebut dan sentimen negatif dari luar berupa wabah virus Corona membuat IHSG ambles.

Transaksi harian IHSG juga hilang separo sejak kasus penggalangan dana ilegal oleh MYRX, penutupan reksadana Minna Padi, Suspensi beberapa reksadana lainnya. Perhatikan grafik berikut ini;

volume-transaksi-ihsg-secara-harian-mengalami-penurunan-separo

Maka melihat faktor-faktor tersebut wajar jika IHSG akhirnya babak belur dan terjun ke area 5900an.

Pergerakan Bursa Saham Asia

Melihat grafik pergerakan bursa asia saat merebaknya wabah SARS dua dekade lalu, maka saat ini sudah sewajarnya bursa asia juga mengalami pelemahan yang cukup tajam.

grafik-bursa-asia-saat-wabah-virus-corona-menyebar

Saat wabah Corona merebak di Desember 2019 pergerakan bursa Asia masih santai dan beberapa mengalami kenaikan. Namun disaat persebaran Corona semakin meluas ke beberapa negara dengan cepat, maka Bursa Asia merespon negatif. Bahkan teratat bursa Taiwan dan Cina ditutup untuk sementara waktu.

IHSG bagaimana? Babak belur.

Sejak awal 2019 hanya bursa Hongkong dan Jepang serta Cina yang masih menunjukkan kinerja positif. Bursa Cina lebih karena diuntungkan dengan penutupan aktifitas bursa untuk saat ini.

Bursa Jepang hanya kehilangan kisaran 5%, sedangkan bursa Hongkong kehilangan sekitar 10% dan saat ini mendekati 0%.

IHSG sendiri berada pada kinerja -5.8%. 

Ini jika dihitung sejak 2019, jika dihitung awal 2020 maka hasilnya akan lebih jelek. Seperti grafik dibawah ini;

bursa-asia-ihsg-2020


Bagaimana Seharusnya Sikap Kita

Dengan kondisi saat ini, maka Cash jauh lebih penting. Setelah sentimen dan persebaran Corona mereda, bursa diyakini akan bergairah kembali. Mungkin akan sedikit berbeda dengan IHSG yang telah kehilangan hampir 50% dari total transaksi hariannya.

Akan ada banyak saham bagus diharga murah setelah ini, maka yang perlu anda siapkan adalah buatlah daftar saham incaran anda untuk kemudian anda kalkulasi pada titik mana anda sudah mulai bisa masuk (membeli).