Review Saham Bank BNI (BBNI) : Apakah saatnya Membeli?

Pada kesempatan kali ini kita akan mereview salah satu saham Bluechip yakni BBNI. Sebagaimana kita ketahui saham Bank BNI  merupakan salah satu saham bluechip yang cukup menarik dan bisa dijadikan alternatif jika BBRI, BMRI ataupun BBCA sudah kemahalan. Ok, kita langsung saja pada pembahasannya, sebagai berikut :

review kinerja bank bni (BBNI) blogsaham

Sebagaimana kita tahu Bank BNI dengan kode BBNI memiliki catatan kinerja yang bagus selama ini, dan dapat dijadikan alternatif disaat BBRI, BMRI, dan BBCA dirasa sudah tidak begitu menarik. Lalu apakah saat ini di momen Window Dressing BBNI mampu mencatatkan kinerja saham secermelang awal 2019? Mari kita ulas bersama.

Fundamental BBNI


Secara fundamental, kinerja BBNI sebenarnya tidak masalah bahkan cenderung masih mencatatkan kinerja yang positif. Pada Q3 2019 lalu BBNI mampu mencatatkan kinerja pendapatan bunga sebesar 40,6 triliun rupiah naik sebesar 10,4% dibanding tahun 2018 pada periode yang sama sebesar 36,78 triliun rupiah. Disisi lain pendapatan syariah BNI pun meningkat meski sumbangsihnya pada total pendapatan hanya 6,9%. Peningkatan tersebut sebesar 13,3% dan ini tergolong bagus ditengah banyaknya bank syariah yang kurang tumbuh seperti persoalan yang tengah dihadapi oleh Bank Muamalat ataupun yang lainnya, dan menurut proyeksi perbankan syariah sebenarnya masih cukup luas untuk digali sehingga potensi BNI di bagian pendanaan syariah ini masih terbuka lebar, sehingga di tahun-tahun mendatang kinerja pendapatan syariah BNI dapat bertumbuh secara berkelanjutan.

Secara keseluruhan pendapatan BNI meningkat sebesar 10,58% menjadi 43,59 triliun dibandingkan periode sebelumnya yakni 39,42 triliun. Meningkatnya pendapatan sudah pasti akan diikuti meningkatnya beban bunga yang sebesar 16,7 triliun atau meningkat sebesar 24,6%. Disisi lain pendapatan diluar bisnis utama BNI juga mengalami peningkatan dimana pada Q3 2019 ini BNI membukukan pendapatan diluar bisnis utamanya sebesar 9,7% atau 9,85 triliun dari sebelumnya 8,735 triliun.

Baca Juga : Apakah Window Dressing pada IHSG Gagal Terjadi?

Pendapatan meningkat maka sudah sewajarnya EPS BNI meningkat, dan pada kuartal ini EPS BNI  tercatat sebesar 642 atau naik sebesar 4,7% dari 613 pada tahun sebelumnya. Sehingga jika disetahunkan maka EPS BBNI di 2019 diperkirakan diangka 856 dan itu 6,3% lebih tinggi dibandingkan EPS BBNI di 2018 lalu.

Proyeksi Kinerja BBNI di 2020

Kredit yang dikucurkan BNI sepanjang kuartal III 2019 mencapai 542,67 triliun atau meningkat sebesar 9% dimana kredit sekor konstruksi masih menduduki 5 besar kucuran kredit yang dikeluarkan oleh BNI. 5 (lima) sektor utama kredit BBNI adalah
  • Perdagangan, restoran, dan hotel
  • Perindustrian
  • Pertanian
  • Jasa dunia usaha
  • Konstruksi
Kelima sektor diatas merupakan yang paling banyak menyerap kredit BBNI dimana semuanya hampir sama dengan 56% dari total kredit yang dikucurkan, atau jika dinominalkan mencapai angka 303,6 triliun. Jika dihitung pada angka tersebut maka BBNI sudah mencapai target pertumbuhan kredit yang ditetapkan oleh BI yang sebesar 7-9 persen (setelah direvisi). Namun jika megacu pada target pertumbuhan kredit BI sebelumnya, maka pertumbuhan kredit BNI sebenarnya Underperform. terlepas dari itu semua, BBNI masih menunjukkan kemampuannya dalam mencetak laba demi pertumbuhan bisnis mereka.

Katalis BBNI di 2020

Di tahun 2019 menjadi tahun yang cukup berat bagi banyak sektor, terutama perbankan. Suku bunga The Fed merupakan kendala utama dalam pencapaian pertumbuhan kredit BBNI. Ditahun mendatang The Fed dirasa akan lebih berhati-hati dalamm menentukan suku bunga dolar sehingga hal ini dapat membuat suku bunga acuan dalam negeri menurun dan menjadi lebih menarik lagi, itu yang pertama.

Kedua, BBNI berencana melakukan pertumbuhan bisnis secara anorganik dengan membuat dua anak usaha baru di sektor asuransi kerugian dan capital venture. Capital venture merupakan lini bisnis yang fokus pada sektor start up yang sebagaimana kita ketahui saat ini cukup banyak bermunculan start up -start up baru di tanah air, dan sepertinya hal ini dilirik oleh BBNI untuk dapat mencapai angka pertumbuhan laba di kisaran 15% di masa mendatang.

Ketiga, sektor konstruksi dipercaya bakal bangkit lagi dengan adanya rencana pemindahan Ibu Kota Indonesia, dimana rencana itu diperkirakan dapat menelan pendanaan sebesar 499 triliun dan semuanya diyakini akan dilakukan oleh konstruksi plat merah. Dengan jumlah pendanaan sebesar itu, katakanlah BBNI mendapatkan porsi pendanaan mencapai 20% dari totalnya atau hampir 100 triliun maka ini adalah peluang bagus bagi BBNI dimasa mendatang.

Keempat, persoalan pinjaman BBNI kepada Jiwasraya yang saat ini sedang bermasalah telah selesai. Pinjaman ini dulu dilakukan pada tahun 2018 dan per 31 Desember 2019 telah diselesaikan dengan menjual jaminannya berupa obligasi. Dan dengan ini BBNI sebenarnya clear dari persoalan yang menjerat Jiwasraya.

Pergerakan Harga Saham BBNI

Saat ini pergerakan harga saham BBNI sedang dalam masa sideways selama hampir 3 bulan lamanya. Jika melihat high yang mampu dicetak oleh BBNI diawal tahun 2019 lalu di angka 10250, maka dengan harga saat ini yakni 7700 maka terdapat potensi upside sebesar 31%. Menarik bukan?

Tapi hal itu tidak semudah yang dibayangkan. Persoalan geopolitik dan trade war yang saat ini menjadi topik hangat membuat pergerakan bursa diseluruh dunia terkadang menghambat laju harga saham dengan fundamental bagus. Namun dengan kinerja saat ini maka sudah seharusnya BBNI bergerak menuju area 10.000 an untuk selanjutnya diakhir 2020 harga BBNI sudah bermain diatas 10.000 an.

Baca Juga : Belajar Kesalahan Investasi Dari Kasus Jiwasraya

Berikut chart BBNI
chart-bbni-review-saham-bank-bni-blogsaham
Sumber : www.investing.com

Terlihat saat ini harga BBNI sedang dalam masa sideways yang cukup panjang, dan resisten kuatnya ada di 8.000-8.200 dan jika resisten ini mampu ditembus maka harga akan cukup ringan untuk mendekati level 10.000.

Mengapa BBNI menjadi pilihan investasi di 2020?

Secara kinerja sudah tidak perlu diragukan lagi kinerjanya, meski sebenarnya masih kalah dengan BBRI atau BBCA. Namun mengingat BBNI tergolong bank buku IV dan bank pelat merah maka BBNI dapat lebih resonable untuk menjadi tempat berinvestasi di sektor perbankan dibandingkan yang lainnya.

Secara pergerakan harga saham, BBNI lumayan tertinggal dibandingkan yang lainnya, perhatikan chart berikut
bbac-bbri-bmri-bbni-blogsaham
Sumber : www.investing.com

Bisa diperhatikan chart diatas, dari keempat saham yakni BBRI, BMRI, BBCA, dan BBNI hanya BBNI lah yang harganya masih dibawah, belum merangkak naik mendekati posisi tertingginya. Hal ini mengindikasikan bahwa sebentar lagi BBNI akan menyusul kaka seperguruan mereka dan market perlu membuktikan bahwa BBNI dengan kinerja saat ini kurang tepat jika dihargai di angka 7000an per lembar saham.

Kesimpulan :
  1. Secara fundamental, BBNI sudah baik dan target penyaluran kredit telah tercapai sesuai target
  2. Baik pendapatan bunga, pendapatan syariah, maupun laba bersih dan EPS BBNI, semuanya kompak naik dan ini positif
  3. Beban operasional meningkat seiring meningkatnya kinerja perusahaan, namun kenaikan beban yang mencapai lebih dari 20% menjadi perhatian tersendiri, jangan sampai laba diakhir tahun cukup terkuras oleh beban operasional emiten
  4. Dengan kinerja keuangan saat ini, BBNI dihargai pada PER 9x dan PBV 1,21x
  5. Dari sisi pergerakan harga saham, BBNI masih tertinggal sehingga memiliki ruang untuk upside lebih besar dibandingkan saham perbankan lainnya

Regards,
www.blogsaham.com