Rupiah Hari Ini : Melihat Kekuatan Rupiah Menuju 13.000 per USD

Rupiah Hari Ini

Rupiah dalam beberapa hari ini mampu bergerak dalam tren yang bagus, terakhir rupiah bertengger di 13.665 per dolarnya. Dan ini adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar paling baik selama setahun terakhir.

Diakui atau tidak, nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing terutama USD menjadi faktor kunci dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Nilai tukar berpengaruh pada harga jual produk yang berasal dari impor atau produk yang bahan bakunya impor.

Pembangunan infrastruktur yang mengandalkan impor dalam pembangunannya juga berdampak signifikan. Jika nilai tukar menguat maka biaya yang timbul atas pembangunan infrastruktur dapat menurun.

Dengan menguatnya nilai tukar rupiah atas dolar akan mampu memperbaiki cadangan devisa. Karena dengan sentimen yang ada nilai tukar bergerak menguat sendiri tanpa adanya intervensi dari BI.

Sebagaimana yang kita ketahui, BI seringkali melakukan intervensi pasar guna menahan laju pelemahan nilai tukar rupiah atas dolar seperti saat rupiah melemah hingga 15.000 per dolarnya.

Lalu apa saja yang membuat rupiah mampu menguat hingga mencapai level 13.600 an seperti sekarang ini?

Dan bagaimana pengaruhnya terhadap emiten-emiten di bursa saham Indonesia?

nilai-tukar-rupiah-terhadap-dollar-hari-ini


Nilai Tukar Rupiah ke Dolar Amerika

Pada awal tahun 2019 Rupiah masih berada di angka 14.380 per dolarnya, hal ini naik sejak awal 2018 di 13.560 per dolarnya atau mengalami pelemahan sebesar 6% dalam setahun, itu besar sekali dan dampaknya sangat terasa baik pada perekonomian nasional maupun pada bursa saham.

Disaat rupiah mengalami tekanan sebesar itu, IHSG pun turut serta mengalami pelemahan sebesar 2,5% hingga akhir tahun 2018. Namun pada tahun tersebut IHSG benar-benar mengalami tantangan yang sangat berat bahkan posisi terendahnya di 5633 yang artinya Indeks Harga Saham Gabungan mengalami pelemahan sebesar 11,4% sebelum IHSG mampu rebound di kuartal IV 2018.

rupiah-usd-ihsg-blogsaham

Grafik diatas adalah perbandingan pergerakan nilai tukar rupiah  dan IHSG. Anda bisa melihat dengan jelas hubungan antara IHSG dan Rupiah. Di saat rupiah mengalami pelemahan maka IHSG pun mengalami pelemahan.

Catatan : garis ungu adalah IHSG dan garis biru adalah rupiah.

Namun sekarang rupiah dalam kondisi penguatan, apakah IHSG bakal naik?

Faktor Yang Dapat Mempengaruhi Pergerakan Rupiah

Penguatan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing terutama Dollar biasanya disertai beberapa alasan fundamental seperti Neraca Perdagangan, Suku Bunga Acuan (BI) atau (The Fed), masuknya inflow baik langsung maupun tidak langsung ke dalam negeri. Bagaimana dengan penguatan rupiah kali ini?

CAD (Current Account Deficit)

Neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2019 atau yang terakhir mengalami defisit sebesar -0,03B USD dari sebelumnya -1,33B USD dimana pertumbuhan ekspor sudah positif menjadi 1,28% dari sebelumnya -5,67%. Ini merupakan sinyal yang baik untuk menjadi katalis positif bagi rupiah.

Disisi lain impor RI mengalami penurunan meski sebenarnya laju penurunannya melambat dimana pada Desember 2019 impor RI turun sebesar -5,62%. Melihat data CAD tersebut yang tumbuh positif market sepertinya merespon baik bahwa pada nilai tukar tersebut BI tetap santai dengan tanpa melakukan intervensi pada rupiah di pasar.

Peringkat Utang Dari Lembaga Pemeringkat

Peringkat utang Indonesia tidak mengalami perubahan sejak pertengahan 2019 yang menjadi BBB/Outlook Stabil.

Data Pertumbuhan Ekonomi

Data pertumbuhan ekonomi Indonesia sebenarnya kurang meyakinkan, dan sampai hari ini masih berkutat di angka 5% dengan inflasi 3-4% pertahunnya.

CDS (Credit Default Swap)

Credit Default Swap atau CDS merupakan salah satu instrumen keuangan turunan dari obligasi. CDS bisa juga disebutkan sebagai proteksi atas utang yang diterbitkan. Artinya bahwa setiap utang yang dikeluarkan itu diproteksi agar tidak terjadi gagal bayar. Dengan menilai perkembangan CDS kita akan dapat mengambil kesimpulan apakah Indonesia berpotensi besar gagal bayar utang atau tidak. Sehingga utang Indonesia menjadi aman.

Dengan begitu maka para investor akan yakin atas stabilitas dan kemampuan Indonesia dalam membayar utangnya.

CDS-utang-indonesia

Nilai CDS kita saat ini berada di 59,7 yang menandakan bahwa hanya 1% potensi Indonesia mengalami gagal bayar dan 99% sisanya mampu membayar utangnya, lalu 40% berpotensi mampu recovery atas utang-utangnya.

Baca Juga : 

Review Saham Bank BNI (BBNI) : Apakah saatnya Membeli?  

Apakah Window Dressing pada IHSG Gagal Terjadi? 

Anjloknya Kinerja Reksadana Saham 

Suku Bunga Acuan 

Selama pelemahan rupiah 2 tahun belakangan BI rajin sekali merubah kebijakann suku bunganya, hal ini bertujuan agar rupiah terjaga nilai tukarnya sehingga pada akhirnya tidak melemah lebih tajam.

suku-bunga-acuan-bi

Bisa anda perhatikan data perkembangan suku bunga BI. Dan saat ini suku bunga BI sudah turun dan tentu ini sebenarnya tidak lagi berpengaruh besar pada pergerakan rupiah.

Yield Bond Goverment (Obligasi Pemerintah)

Dengan penurunannya CDS hal ini berefek positif pada inflow dana asing ke Indonesia. Inflow ini bisa masuk secara direct atau indirect alias melalui pasar modal baik itu instrumen saham atau bond pemerintah. Secara umum Yield Bond saat ini mengecil karena permintaan akan obligasi tinggi, sehingga harga obligasi naik dari PAR nya.

yield-bond-indonesia

Bisa anda lihat pada grafik diatas semua Yield Bond Obligasi pemerintah baik 6 bulan, 1 tahun dan yang lainnya turun diangka 5-6%. 

Yield Bond vs IHSG

Setelah kita mengetahui bahwa yield bond Indonesia mengalami penurunan karena adanya inflow di obligasi, maka disaat yield bond nanti semakin kecil akan kemanakah inflow tersebut?

Perhatikan grafik perbandingan Yield Obligasi versus IHSG
 Sumber : www.investing.com

Garis warna merah merupakan pergerakan IHSG sejak 2017 dan garis warna biru merupakan yield obligasi pemerintah untuk 1 tahun.

Perhatikan kotak pada studi 1 dan studi 2. Pada kotak studi 1 ditemukan sebuah fenomena bahwa pada saat yield obligasi menurun atau menipis alias semakin kecil sehingga menjadi tidak menarik maka IHSG berjalan merangkak naik.

Fenomena tersebut terjadi pada periode 2017 hingga awal 2018 dan selanjutnya kedua nya bergerak datar saja. Kini sejak 2019 yield obligasi mengalami penurunan meski diawal tahun 2019 mengalami kenaikan yang signifikan. Namun uniknya adalah pergerakan IHSG masih datar-datar saja, tidak terjadi kenaikan sebagaimana pada kotak studi 1.

Namun dengan menipisnya yield obligasi, maka para pemilik dana entah itu fund manager atau manajer investasi akan melirik instrumen lainnya untuk mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi.

IHSG, yup disitulah terdapat potensi setelah yield obligasi sudah tidak menarik. Maka tinggal menunggu waktu saja IHSG untuk bergerak naik. Problem utama saat ini yang membuat IHSG gagal mengalami kenaikan adalah kasus Jiwasraya, Asabri, dan likuidasi oleh Reksadana saham yang dibubarkan oleh OJK yakni Minna Padi. Namun merujuk pada keputusan OJK dimana Minna Padi punya kesempatan maksimal 60 hari untuk melikuidasi saham-sahamnya, seharusnya per 21 Januari 2020 hal ini sudah selesai.

Dan kedepannya akan memudahkan laju IHSG.

Kesimpulan

Penguatan rupiah lebih disebabkan oleh inflow yang ada dan masuk ke Obligasi. Perihal berapa jumlahnya anda bisa mencari data tersebut di lain kesempatan. Namun untuk saat ini hanya sentimen menurunnya CDS yang membuat yield obligasi menipis yang kemudian membuat rupiah menguat.

Penguatan rupiah akan terbatas pada titik tertentu, karena penguatan saat ini bukan disebabkan oleh faktor fundamental seperti surplus CAD atau penurunan suku bunga The Fed.

Sektor yang cukup diuntungkan dengan penguatan rupiah adalah perbankan, konstruksi, dan properti serta emiten-emiten yang memiliki eksposur utang dalam bentuk dolar.