Melihat Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2019

pertumbuhan-ekonomi-indonesia-tahun-2019

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2019

BPS telah merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2019. Pertumbuhan ekonomi kali ini meleset dari target pemerintah yang sebesar 5,1-5,3%, sementara capaian tahun ini hanya  5,02%. Sehingga terdapat selisih 0,08-0,18% dara rancangan sebelumnya.

Hal ini tentu menjadi PR tersendiri bagi pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Secara historis pertumbuhan ekonomi RI secara kuartalan yakni ;

grafik-pertumbuhan-ekonomi-indonesia
Sumber : BPS

Tercatat sejak 2016 pertumbuhan ekonomi berada di range 4,9-5,3 saja alias mengalami stagnan. Pencapaian ini jelas kurang menggembirakan bagi negara berkembang seperti kita. Perlu angka pertumbuhan yang lebih tinggi untuk meningkatkan PDB kita sehingga rancangan 2045 Indonesia masuk kategori negara maju dapat tercapai.

Angka pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2019 tidak lebih rendah dari kuartal IV 2016, yang berarti bahwa kuartal IV ini mengalami "patahan" pada pertumbuhan ekonomi kita. Sehingga membuat beban bagi pertumbuhan ekonomi di kuartal-kuartal sebelumnya.

Secara sebaran pertumbuhan berdasarkan Pulau, Pulau Jawa tumbuh 5,52%. Pulau Jawa ini memiliki distribusi pertumbuhan atas Nasional sebesar 59%. Artinya pertumbuhan di jawa bisa mengkerek pertumbuhan ekonomi secara nasional. Disisi lain Pulau Bali dan Nusa Tenggara masih tumbuh diatas 5% atau tepatnya 5,07% dengan distribusi perekonomian secara nasional hanya 3,06%.

Pulau Sulawesi menjadi pemenang dalam kategori ini, ia mampu tumbuh sebesar 6,65% namun pertumbuhan sebesar itu tidak mampu mengkerek pertumbuhan secara nasional karena distribusi perekonomian Sulawesi hanya 6,33%.

Pemberat pertumbuhan ekonomi nasional adalah Sumatera dan Kalimantan. Sumatera kali ini hanya tumbuh 4,57% dengan distribusi perekonomian sebesar 21,32%. Dengan persentase sebesar itu maka efeknya terhadap pertumbuhan nasional sangat terasa, sehingga pertumbuhan yang baik di Pulau Jawa menjadi tidak banyak berarti.

Pulau kalimantan pun hanya tumbuh 4,99% dengan distribusi sebesar 8,05%, dan Pulau Papua mengalami pertumbuhan negatif yang sangat besar, yakni sebesar -7,40% dengan distribusi sebesar 2,24%. Sepertinya pembangunan yang sangat masif di Papua saat ini tidak terasa, sepertinya membuat pertumbuhannya terbebani. 

Tidak mengherankan memang dengan pertumbuhan ekonomi saat ini, masifnya anggaran pemerintah untuk konstruksi tidak banyak berefek pada pertumbuhan nasional. Setelah lima tahun berjalan, pertumbuhan ekonomi tetaplah diangka 5%, seperti sulit menembus level 5,5% atau 6%. Secara tahunan pertumbuhan eknomi nasional mengalami stagnan dalam beberapa tahun terakhir;

pertumbuhan-ekonomi-beberapa-tahun-terakhir
Sumber : BPS

Pertumbuhan Sektor Lapangan Usaha

Berdasarkan Lapangan Usaha, pertumbuhan ekonomi kita justru tumbuh di beberapa sektor yang memiliki struktur PDB rendah. Sebagai contoh sektor informasi dan komunikasi mampu tumbuh sebesar 9,41% padahal struktur atas PDB nya hanya sebesar 3,96%. Contoh lainnya sektor jasa perusahaan tumbuh sebesar 10,25% dengan struktur atas PDB hanya 1,92%.

Sebagaimana kita ketahui, terdapat 5 sektor yang memiliki struktur atas PDB terbesar, sebagai rinciannya seperti berikut ini;
  1. Industri hanya tumbuh sebesar 3,80% turun dibandingkan tahun lalu yang mampu tumbuh 4,72%, padahal sektor ini memiliki struktur atas PDB mencapai 19,70% atau yang terbesar diantara sektor lainnya
  2. Perdagangan pun begitu hanya tumbuh 4,62% dibandingkan tahun lalu sebesar 4,97% dimana struktur atas PDB sektor ini sebesar 13,01% atau nomor kedua setelah industri
  3. Pertanian mengalami penurunan juga. Pengaruh yang paling besar adalah panjangnya musim kemarau di tahun 2019 sehingga beberapa daerah mengalami gagal tanam dan gagal panen. Sektor ini hanya tumbuh sebesar 3,64% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 3,89%.
  4. Konstruksi melandai pertumbuhannya, sepertinya efek dari banyaknya proyek yang dijalani perusahaan konstruksi plat merah yang membuat cash flow mereka berdarah-darah sehingga mereka mengerem target pencapaian kontrak. Sektor ini tumbhuh sebesar 5,76% dari tahun sebelumnya sebesar 6,09%
  5. Pertambangan sendiri mengalami penurunan pertumbuhan menjadi 1,22% dari sebelumnya 2,16%. Hal ini wajar karena harga minyak mentah dan batubara sedang mengalami penurunan sepanjang tahun ini.
Sebenarnya jika pemerintah ingin mencapai pertumbuhan ekonomi yang maksimal, maka pemerintah harusnya fokus utama pada kelima sektor tersebut. Industri dikasih insentif misal potongan pajak, pertanian diberikan jaminan jika gagal panen dengan skema tertentu, konstruksi melibatkan swasta sehingga tidak hanya BUMN saja yang berjalan namun swasta bisa mendapatkan jatah daging empuknya.


CAD (Defisit Transaksi Berjalan) dan Nilai Tukar Rupiah

Defisit transaksi berjalan ini menjadi momok tersendiri, bahkan sepanjang tahun 2019 defisit transaksi berjalan begitu menganga sehingga membahayakan APBN kita. Defisit transaksi berjalan atau biasa disebut CAD ini membuat rupiah kian terpuruk bahkan pernah menyentuh level 14.530 per dolarnya.

Pelemahan rupiah ini kian memperburuk outlook ekonomi Indonesia di 2019. Belum lagi sentimen eksternal seperti Trade War yang belum kunjung usai sampai ketegangan Amerika dan Iran beberapa waktu silam.

Sepanjang tahun 2019 defisit transaksi berjalan tercatat 2,72% atau sebesar USD 30,4 miliar dari PDB, menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 2,94% dari PDB. Meski kecil penurunan CAD nya namun ini cukup positif mengingat terjadi surplus di sektor non migas.

Disisi lain pergerakan rupiah cukup positif akhir-akhir ini. Dimana terkahir rupiah bertengger di area 13600-13700 per dolar. Penguatan rupiah terjadi sejak Desember 2019 sampai hari ini. Titik tertinggi penurunan rupiah adalah di 14.530 per dolar sepanjang 2019, sedangkan titik terendahnya di angka 13.879 per dolar sepanjang 2019.

penguatan-rupiah-terhadap-pertumbuhan-ekonomi
Kini tren penguatan rupiah menjadi sentimen tersendiri untuk outlook ekonomi 2020. Namun tantangannya masih sama beratnya karena 5 sektor utama yang memiliki struktur atas PDB tidak tumbuh.


Suku Bunga

Bank Indonesia atau BI telah melakukan beberapa kali penyesuaian terhadap BI 7-day repo rate atau BI rate. Penyesuaian ini dilakukan agar perekonomian nasional tetap stabil dari moneter, terutama nilai tukar rupiah.

Awal tahun 2019 suku bunga berada diangka 6% dimana sebenarnya ini sudah turun dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan suku bunga di tahun 2018 dipicu oleh agresifnya The Fed alias Bank Sentralnya Amerika menaikkan suku bunga mereka, sehingga mau tidak mau BI harus turut menaikkan suku bunganya untuk menahan laju pelemahan rupiah.

Kini di tahun 2019 saat The Fed melandai, BI pun turut santai dengan menurunkan suku bunga secara perlahan dari awal tahun yang sebesar 6% menjadi 5% pada akhir tahun 2019 ini.

grafik-suku-bunga-bi-2019

Sebagaimana dalam grafik diatas, BI menurunkan suku bunganya secara agresif sejak Juli 2019 dengan berbagai pertimbangan salah satunya agar kredit tumbuh diangka 9-10%.

Utang Indonesia

Dari beberapa kabar baik dan buruk diatas, salah satunya adalah meningkatnya laju pertumbuhan utang luar negeri Indonesia. Sejak 2015 Indonesia terus menumpuk utangnya demi melancarkan upaya pembangunan infrastruktur di berbagai daerah.

Namun apakah utang ini membahayakan? dan apakah sudah terasa manfaatnya?

Ini yang patut kita pertanyakan. Bahkan sampai hari ini pemerintah masih saja rajin menerbitkan surat utang demi menambah CAD yang terus negatif sejak 2012 silam. CAD yang negatif masih menjadi momok terbesar atas meningkatnya utang Indonesia.

Selain itu agresifnya pemerintah dalam mengalokasikan belanja tidak berbanding lurus dengan pendapatan negara melalui pajak dan non pajak.

Secara visual berikut ini grafik rasio utang Indonesia terhadap PDB

rasio-utang-indonesia-terhadap-pdb

Meski secara rasio utang masih layak, namun pertumbuhan utang juga cukup tinggi dibandingkan pertumbuhan PDB Indonesia. Dalam jangka menengah ini jelas mengkhawatirkan, apalagi laju utangnya banyak yang masuk ke pasar modal seperti Obligasi alias Hot Money.

Hal ini sangat riskan, karena tipe Hot Money itu mudah masuk juga mudah keluar. Tidak banyak isntrumen yang bisa menahan laju keluarnya Hot Money ini. Berbeda jika utang itu kemudian dirubah dalam bentuk fisik seperti pembangunan pabrik atau infrastruktur yang dalam hitungan bisnis masih visibel.

Karena jika terjadi seperti tahun 2018 dimana The Fed menaikkan suku bunganya, maka Hot Money akan segera keluar sehingga membuat rupiah melemah tajam yang kemudian berefek pada perekonomian nasional dan IHSG kita tercinta.

Inflasi

Tentang inflasi, perlu kita acungi jempol pada pemerintah karena mampu mengendalikan laju inflasi sepanjang tahun 2019 ini. Berikut grafik inflasi 2019

grafik-laju-inflas-2019
Dengan laju inflasi yang terkendali ini sangat bagus dimana tidak lagi menjadi momok bagi masyarakat sampai pada spending masyarakat.

Kesimpulan

Inflasi terjaga, Suku Bunga Bank pun turun, serta rupiah cenderung menguat tapi tidak mampu membuat perekonomian Indonesia bergairah. Alasannya adalah Neraca pembayaran yang masih defisit.

Penurunan kinerja Ekspor menjadi sinyal bahwa industri dalam negeri melemah dan ini dibuktikan dengan menurunnya pertumbuhan sektor industri dalam struktur PDB diatas. Penurunan kinerja sektor industri ini juga menjadi salah satu penyebab impor menjadi besar karena kebutuhan dalam negeri tidak sepenuhnya terpenuhi.

Disisi lain yang menambah buruknya CAD adalah impor migas, dimana selama 4 kuartal berturut-turut Indonesia adalah net impor. Jadi di sisi ini juga pemerintah harus memperbaiki produksi ladang migas hingga menekan net impor.

Namun sepertinya juga tidak banyak berarti jika pemerintah terus menggenjot pencarian ladang baru migas, karena selama ini kita sudah menjadi net importir untuk migas, maka pilihan terbaik adalah memberikan insentif bagi industri manufaktur hingga tercapai pertumbuhan 5% keatas sembari meningkatkan lifting minyak.

Pencapaian perekonomian 2019 dibawah target yang artinya ini menjadi warning bahwa program pemerintah selama ini kurang berefek bagi perekonomian secara keseluruhan. Pembangunan infrastruktur secara masif pun tidak mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi, malahan mayoritas sektor mengalami penurunan pertumbuhan.