Minggu kemarin IHSG mampu menguat sejak senin 17 Februari 2020, namun diakhir pekan IHSG nyusruk turun lebih dari -1% pada jumat lalu. Penurunan ini sebenarnya wajar terjadi, karena IHSG dianggap sudah naik lumayan ditengah fase downtrend nya.

blogsaham

Sehingga banyak trader memanfaatkan momentum ini untuk keluar alias profit taking bagi mereka yang untung, atau keluar sebagian alias CL guna mengurangi posisi loss mereka untuk kemudian masuk ke saham pilihan pada saat IHSg kembali rebound.

IHSG menjadi salah satu indeks dengan kinerja terburuk di kawasan Asia, dimana hingga hari ini IHSG sudah turun sebesar -6,62%. Dengan kondisi seperti itu, apakah IHSG akan kembali turun atau rebound?


Sebagaimana dalam ulasan sebelumnya IHSG berpotensi rebound sebelum melanjutkan penurunannya. Kini IHSG berpotensi untuk menembus level supportnya. Indikator MACD sebenarnya sudah menunjukkan perubahan tren, namun penurunan tajam di jumat lalu membuat potensi rebound menjadi kecil kemungkinannya.

Kalaupun IHSG menembus level supprot terdekat, IHSG bakal tes support 5800. Di support ini seharusnya IHSG sudah mereda tekanan jualnya. Disisi lain sudah banyak saham-saham bluechip yang turun dalam dan seharusnya mereka akan rebound.

Dengan beberapa kesimpulan diatas, maka idealnya IHSG sudah normal atau setidaknya IHSG akan sideways dahulu sebelum selanjutnya naik untuk recover.

Rupiah Gagal Mengangkat IHSG

rupiah-gagal-mambuat-ihsg-naik
 Sumber : www.investing.com

Setelah mengalami penguatan selama Desember-Januari, rupiah kini mulai melemah. Kini rupiah berpotensi menuju 13.900 untuk selanjutnya kembali mencoba ke area 14.000.

Secara fundamental sebenarnya kenaikan rupiah tidaklah begitu kuat, rentan terhadap sentimen negatif lainnya. Meski BI sudah menunurunkan BI 7-Days namun sepertinya tidak banyak berefek pada pasar modal kita.

Pelemahan rupiah ini menjadi sentimen negatif bagi IHSG yang tengah dalam fase downtrend.

Minyak Mentah

harga-minyak-mentah-dunia-menguat-timur-tengah-konflik

Konflik di timur tengah turut menjadi andil atas kenaikan harga minyak mentah dunia kali ini. Namun yang masih menjadi headline dan menjadi penyebab utamanya adalah penyebaran virus Corona.

Penurunan aktivitas ekonomi di Cina diperkirakan mengurangi permintaan akan minyak mentah yang kemudian membuat harga minyak mentah dunia turun cukup dalam. Namun penanganan Virus ini dan melihat perkembangannya saat ini, pelaku pasar mulai  optimis akan segera selesainya wabah ini dalam 2-3 bulan ke depan.

Coal

harga-acuan-batubara-dunia

Harga batubara masih loyo, dan sideways cukup panjang sejak September 2019. Harapannya sideways kali ini dapat menjadi pijakan untuk kembali  menguat dalam jangka panjang, sehingg saham-saham batubara kembali berkilau.

Emas

harga-emas-melaju-naik-tinggi-khawatir-resesi

Harga emas melaju tinggi dan bahkan telah melewati harga tertinggi sebelumnya. Kenaikan ini disebabkan akan  munculnya resesi karean merebaknya virus Corona.

Hal ini wajar karena virus ini menjangkiti Cina yang notabenenya merupakan salah satu ekonomi dunia yang mana banyak negara memiliki hubungan dagang dengan Cina termasuk Indonesia.

Indonesia Menjadi Negara Maju? Apa untungya?

Enggak ada untungnya. Kenapa? Belum waktunya Indonesia masuk negara maju, apalagi kategori negara maju itu merupakan pilihan pribadi Amerika Serikat, dimana sudah pastinya Amerika memiliki kepentingan tersendiri atas perubahan status ini, apalagi saat ini Amerika sedang gencar-gencarnya menginvestigasi beberapa negara yang memiliki hubungan dagang dengan Amerika yang mereka rasa merugikan Amerika.
Previous Post Next Post