Blogsaham.com - Emiten BUMN dikabarkan akan melakukan Buyback untuk saham-sahamnya, pelaksanaannya masih menunggu instruksi dari Menteri BUMN Erik Tohir. Berita ini menjadi angin segar disaat market terus turun cukup dalam, bahkan saham-saham dengan fundamental bagus tidak luput dalam arus downtren ini.

Buyback menjadi harapan disaat belum adanya tanda-tanda perbaikan pergerakan market, dan belum adanya perbaikan fundamental ekonomi kita.

Dampak dari penyebaran virus COVID-19 benar-benar melebihi dari perkiraan, virus ini telah melumpuhkan beberapa aktivitas seperti umroh di Arab Saudi.

Sentimen tersebut sepertinya menjadi gambaran bahwa efek psikologis dari wabah ini telah menambah fear di market, sehingga sampai saat ini IHSG belum terlihat bottomnya secara jelas.

bumn berencana akan melakukan buyback sahamnya tahun 2020

Meski rencana tersebut sudah merebak di kalangan trader dan investor, namun sepertinya emitan Bank BUMN yang akan melakukan buyback terlebih dahulu.

Mengapa Bank BUMN dahulu?

Sebagaimana kita Bank BUMN memiliki bobot lebih banyak terhadap pergerakan IHSG dibandingkan emiten BUMN lainnya. Mungkin pertimbangan inilah yang menjadi salah satu alasan utama mengapa emiten perbankan yang didahulukan.

Tercatat, BBRI secara Ytd sudah turun sebesar -8,86% namun secara tahunan kinerja BBRI masih bagus yakni +6,37%.

Sedangkan BBNI tercatat mengalami penurunan secara YTD adalah -18,47% dan secara tahunan sudah turun sedalam -27,07%. Kemudian BMRI sendiri turun sebesar -5,54% YTD dan secara tahunan masih membukukan kinerja popsitif sebesar +1,05%.

Jika melihat data singkat tersebut maka sebenarnya belum diperlukan untuk melakukan buyback karena penurunannya masih wajar, namun berbeda lagi jika yang menjadi salah satu rujukan adalah kinerja BBNI.

BBNI memang memiliki kinerja keuangan terburuk dibandingkan emiten Bank BUMN lainnya, maka sudah wajar jika sahamnya turun lebih dalam.

Berdasarkan POJK Nomor 2/POJK.04/2013 tentang Buyback saham bahwa buyback dilaksanakan saat market berfluktuasi tajam, dimana salah satu poinnya fluktuasi itu terjadi selama 3 (tiga) hari berturut-turut indeks jatuh minimal -15%.

Namun peraturan ini diperuntukan bagi semua emiten, dan perlakuan untuk emiten BUMN itu berbeda, mereka mengikuti kementerian BUMN selaku pemegang sahamnya.

Nah dari situ sebenarnya memang belum perlu dilakukan buyback, karena meski indeks turun tajam secara YTD IHSG masih turun -12,72%, dan secara tahunan IHSG sudah turun sebesar 14,35%, dibawah angka yang ditentukan.

IHSG kini bertengger di 5498 poin, dan akan mencoba tes suppport di 5.000 sebagai support psikologis dan support tren.  Sampai saat ini IHSG masih belum menunjukkan tanda-tanda pergerakan akan berbalik arah.

Salah satu sentimen yang bisa mengangkat IHSG adalah laporan keuangan emiten untuk tahun 2019 FY. Jika hasilnya positif maka IHSG bisa berbalik arah, namun jika hasilnya biasa saja cenderung turun maka IHSG akan turun lebih dalam terlebih dahulu.

Tentang rencana Buyback saham BUMN ini menunggu keputusan menteri BUMN, namun potensi terjadinya Buyback cukup besar, bahkan info yang beredar tinggal menunggu pengumuman resmi dari RI1.
Previous Post Next Post