Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Harga Minyak Mentah Jatuh Menyentuh Level Terendah dalam 15 Tahun

Blogsaham.com - Minyak mentah dunia jatuh menyentuh harga 28 dolar per barel, dan ini merupakan level terendah sejak tahun 2002 silam. Kondisi jelas membuat berbagai indsutri minyak dan terkait ketar-ketir mengingat harga minyak dunia semakin merosot dan mendekati biaya produksi.

Jika harga minyak dunia mendekati harga produksi, maka beberapa perusahaan minyak dunia yang memiliki cost production sama atau lebih tinggi dari harga kontrak, dalam jangka menengah akan kolaps. Dengan kondisi ini bisa memunculkan tumbangnya perusahaan-perusahaan minyak dunia dan munculnya gelombang PHK.

Harga minyak dunia jatuh siapa yang diuntungkan

Penurunan harga minyak pada 09 Maret 2020 merupakan yang terbesar sejak tahun 1991 dan ini membuat kekhawatiran akan resesi semakin jelas setelah merebaknya virus corona ke berbagai belahan dunia.

Disaat permintaan akan minyak mentah dunia menurun, Arab Saudi dan Rusia bertarung dengan mengorbankan harga minyak ke level terendah. Mereka meningkatkan produksi minyak di kilang masing-masing yang membuat pasokan minyak sangat melimpah.

Saat artikel ini ditulis harga minyak mampu rebound ke level 32.67 dolar per barel, dan belum ada tanda-tanda bahwa harga minyak akan kembali lagi ke area 50 dolar. Peningkatan produksi minyak oleh Arab Saudi dan Rusia memberikan sentimen negatif yang sangat kuat bersamaan dengan tumbangnya bursa-bursa di seluruh dunia termasuk IHSG.

Secara historis, berikut ini harga minyak mentah dunia

harga minyak mentah turun dalam karena perang harga antara arab saudi dan rusia
Sumber : www.investing.com

Sejak tahun 1984 hingga tahun 2000, harga tertinggi minyak mentah di level 30 dolar dan tidak pernah naik lebih tinggi dari itu. Kemudian sejak awal tahun 2000an harga minyak melonjak hingga di akhir tahun 2007 harga minyak mentah menembus level 100 dolar per barel, dan itu adalah level baru dalam sejarah harga minyak dunia.

Di masa itu para produsen minyak pesta pora karena biaya produksi mereka dibawah 30 dolar per barel sehingga keuntungan mereka berlipat ganda. Pada kurun waktu tahun 2014 - 2016 harga minyak mentah mendekat ke 30 dolar per barel, sehingga pada masa itu banyak perusahaan minyak gulung tikar.

Jika kondisi sekarang berjalan dalam jangka menengah maka jelas akan banyak perusahaan minyak yang kolaps dan gelombang PHK semakin besar di industri ini.

Harga minyak mentah saat ini jatuh lebih disebabkan oleh perang harga antara Arab Saudi dan Rusia. Hal ini dipicu karena Rusia menolak untuk menahan laju produksi disaat penurunan permintaan minyak mentah terus berjalan.

Arab Saudi, Amerika Serikat dan Rusia merupakan tiga negara terbesar penghasil minyak mentah. Ketiganya memegang peranan penting dalam menentukan harga oil. Sehingga jika ada dari ketiganya bersitegang, maka perang harga minyak akan dilakukan.

Perang harga minyak juga pernah  terjadi di tahun 2014 lalu, tujuannya adalah menekan produksi Amerika Serikat yang telah mampu memproduksi minyak dari serpihan bebatuan.

Nah kini Rusia dan Arab Saudi perang, dan negara mana yang akan kuat dalam melakukan ini?

Berdasarkan data biaya produksi masing-masing negara, Arab Saudi memiliki keunggulan dibanding Rusia.

Arab Saudi hanya perlu mengeluarkan 8.89 dolar Amerika untuk memproduksi setiap satu barel minyak mentah, sedangkan Rusia memerlukan 9.09 dolar Amerika untuk memproduksi minyal per barel.

Jika kita ambil worst case nya, katakan harga minyak dipaksa turun sampai ke titik 15 dolar per barel, maka keduanya masih memiliki margin yang cukup, namun margin Rusia yang paling sedikit dibandingkan Arab Saudi.

Akan tetapi Amerika Serikat yang membutuhkan biaya 44.33 dolar Amerika untuk memproduksi minyak per barelnya, diyakini tidak akan tinggal diam saja. Mereka tidak akan mau bisnis mereka rugi begitu saja.

Maka dari itu kita lihat saja sejauh mana drama antara Arab Saudi dan Rusia ini akan berakhir.