Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Indonesia Bersiap Karantina Wilayah, Bagaimana dengan Rupiah


Blogsaham.com - Beberapa wilayah telah bersiap untuk memberlakukan karantina wilayah demi memutus rantai penyebaran virus Corona di Indonesia. Garut menjadi Kabupaten pertama yang melakukan karantina wilayah memicu beberapa wilayah lainnya untuk mengikuti jejaknya.

Karantina wilayah atau istilah lainnya lockdown berpotensi membuat pertumbuhan ekonomi terganggu serta arus barang menjadi terkendala. Distribusi serta serapan konsumsi masyarakat menjadi sangat rendah hingga berpotensi menyebabkan PHK massal.

Kini banyak perusahaan yang mempertimbangkan untuk mengurangi jumlah kayawannya karena dalam 1 sampai 2 bulan mendatang mereka akan berhenti beroperasi. Tentu saja hal ini akan berpengaruh langsung pada perekonomian Indonesia.

Disisi lain menurunnya aktifitas ekonomi juga terlihat pada pergerakan rupaih terhadap mata uang asing dalam sebulan terkahir. Tercatat Rupiah hampir saja menembus level 17.000 rupaih per dolar amerika serikat. Level ini adalah yang terendah sejak krisis moneter tahun 1998-1999.

Selain itu rupiah juga tergeletak terhadap mata uang dolar singapura. Pagi ini nilai tukar rupiah terhadap dollar singapura terpantau 11.322 rupiah per doar singapura. Selain itu rupiah juga mengalami pelemahan atas Ringgit Malaysia sebulan terakhir, dimana tercatat nilai tukar Rupiah kini terhadap Ringgit Malaysia sebesar Rp 3.705 per Satu Ringgit Malaysia.

Pandemi COVID-19 memberikan dampak yang sangat luas bagi setiap negara yang terjangkiti, tidak hanya sosial, ekonomi bahkan sampai pada pemerintahan pun terkena dampaknya dengan mengeluarkan kebijakan Work From Home demi memutus rantai penyebaran Corona.

Beberapa negara telah merilis sejumlah stimulus fiskal dan moneter, salah satunya yang paling besar adalah stimulus yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat dengan mengucurkan stimulus sebesar 2,1 triliun US Dollar, jika dirupiahkan nilainya kurang lebih sebesar 33.600 triliun rupiah atau hampir 3 kali lipat PDB Indonesia.

Stimulus tersebut diupayakan dapat membangkitkan perekonomian setelah pandemi berakhir, namun faktanya pandemi masih berjalan dan terus saja meluas dan saat ini di beberapa negara termasuk Indonesia dan Amerika Serikat belum menunjukkan gejala bahwa penyebaran COVID-19 melandai.

Indonesia sendiri telah mengucurkan stimulus fiskal meski tidak sebesar negara-negara lainnya. Stimulus tersebut terdiri dari 2 jilid, yakni untuk tahap pertama stimulus diberikan sebesar 10,3 triliun dan jilid kedua sebesar 22,9 triliun rupiah.

Stimulus tersebut diharapkan dapat membangkitkan kembali perekonomian dimana dalam stimulus tersebut terdapat dua item yang dirasa dapat membangkitkan daya beli masyarakat yakni Bantuan Langsung Tunai atau BLT dan kartu Pra Kerja. Keduanya diberikan dalam rentang waktu yang berbeda.

Kini berbagai stimulus dan kebijakan terus diberikan agar perekonomian dan nilai tukar rupiah kembali membaik, sehingga diharapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada dijalur positif.