Saham Perbankan Bertumbangan

rawpixel.com/freepik

Blogsaham.com - Dalam beberapa pekan ini IHSG tumbang bahkan secara YTD IHSG sudah turun sedalam -18,74%, dan ini merupakan catatan baru diawal tahun dalam hal penurunannya. Berbagai sentimen negatif keluar setelah penyebarann Virus Corona menggila ke beberapa negara bahkan sudah sampai ke Eropa.

Tidak hanya IHSG dan bursa asia yang tumbang, bursa eropa dan Amerika pun tak luput dari penurunan tersebut. Ditengah-tengah sentimen global tersebut, perang harga minyak dunia juga memberikan efek tambahan dimana harga minyak turun lebih dari -25% dalam seharian.

Disaat seperti ini, akan banyak saham-saham yang turun harganya hingga nilainya cukup menarik. Salah satu yang menarik dari saham Bluechip adalah saham perbankann 4 besar yakni BBCA, BBRI, BMRI dan BBNI.

Dari keempat saham Bigcaps tersebut manakah yang mampu bertahan ditengah terjunnya IHSG dan mana yang paling parah terkena efek penurunan bursa saat ini.

Simak ulasan singkat berikut ini.

Saham BBCA

BBCA yang dikenal sebagai salah satu Bank terbesar di Indonesia dan merupakan salah satu emiten perbankan dengan pertumbuhan kinerja keuangan dan sahamnya paling stabil tak luput dari penurunan IHSG.

Secara YTD BBCA sudah turun sedalamm -12.49%, sehingga dengan begini ada peluang untuk mengoleksi saham super ini. Namun secara kinerja dalam satu tahun terkahir BBCA masih menunjukkan kinerja positif. Dimana dalam satu tahun terkahir kinerjanya masih tumbuh +6,27%.

Dengan melihat kondisi saat ini, nampaknya penurunan BBCA masih cukup stabil dan tidak begitu parah dibandingkan saham-saham bigcaps lainnya di IHSG. Namun berbeda halnya bagi mereka yang membeli BBCA di posisi tertinggi tahun ini.

Maka penurunan saat ini jelas tidak bagus bagi mereka yang sudah mengkoleksi saham super ini.

Jika nanti IHSG mampu kembali naik, maka BBCA menjadi leading untuk sektor ini.

Saham BBRI

Sebagai salah satu bank BUMN terbesar, BBRI memiliki pertumbuhan laba bersih konstan diangka 25% setiap tahunnya. Dengan pertumbuhan sebesar itu jelas market kapitalisasi BBRI tumbuh besar mengikuti kinerja keuangannya. Namun apakah dengan kondisi fundamental sekuat itu mampu membuat BBRI menyamai kinerja BBCA disaat bearish seperti sekarang?

Secara YTD kinerja saham BBRI sudah turun sebesar -11,14% atau lebih baik dibandingkan dengan BBCA. Namun secara kurun waktu 1 tahun terkahir, kinerja saham BBRI tidak tumbuh alias 0%.

Dengan kondisi seperti ini, jika anda membeli saham BBRI 1 tahun yang lalu, maka floating profit anda yang sebelumnya nilainya ++, sekarang menjadi tidak tumbuh. Namun dengan kondisi sekarang, muncul peluang untuk menambah kepemilikan diharga yang lebih rendah dibandingkan harga beli setahun yang lalu.

Saham BMRI

BMRI mencatatkan kinerja tahun 2019 dengan cukup gemilang, dengan pertumbuhan laba bersih sebesar +9,9% membuat kinerja BMRI tetap konsisten tumbuh setiap tahunnya.

Disisi lain kinerja saham BMRI di tahun 2020 ini nampaknya tidak sejalan dengan kinerja bisnisnya, hal ini bersamaan dengan bearishnya IHSG dan bursa global. Secara YTD kinerja saham BMRI sudah turun sebesar -11,07% dan dalam setahun terakhir telah menyusut sebesar -6,83%.

Catatan ini membuat kinerja saham BMRI tidak lebih baik dibandingkan dengan BBRI maupun BBCA.

Saham BBNI

BBNI boleh dibilang sebagai bank dalam 4 besar yang memiliki kinerja paling buruk baik secara fundamental maupun kinerja sahamnya.

Secara YTD saja saham BBNI sudah turun sedalam -29,62%, sedangkan dalam setahun terkahir sudah ambles sedalam -38,1%. Hal ini wajar mengingat kinerja fundamental BBNI memang paling jeblok diantara ketiga bank BUMN.

Kinerja BBNI sepanjang tahun 2019 lalu hanya mencatatkan pertumbuhan +2,5% untuk laba bersih dibandingkan periode sebelumnya yang mampu mencatatkan kinerja sebesar +10,3%.

Kesimpulan

Meskipun kini IHSG sedang dalam masa bearish berat, namun peluang untuk recover nantinya jauh lebih besar. Maka yang terbaik saat ini adalah menunggu momentum untuk kembali masuk ke bursa sambil mencari saham-saham yang paling potensial untuk recovery paling depan disaat IHSG sudah selesai masa bearishnya.