Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

10 Saham Paling Diburu Asing Tahun 2020 YTD

saham paling diburu asing

Blogsaham.com - Sampai hari ini IHSG masih mencatatkan kinerja negatif sebesar -28,63%, dengan demikian banyak sekali saham-saham yang mengalami penurunan lebih besar dari IHSG. Sehingga sangat memudahkan setiap investor yang bisa mendapatkan saham bagus dengan harga Undervalue.

Dilain sisi IHSG juga sangat dipengaruhi oleh pergerakan asing, dimana sampai artikel ini tercatat asing telah keluar dengan dana sebesar 17,57 triliun di seluruh pasar baik itu reguler maupun negosiasi dan tunai. Untuk di pasar reguler sendiri asing telah keluar sebesar 21,07 triliun rupiah, sehingga sulit sekali untuk melihat IHSG mampu bangkit, karena investor institusi lokal juga belum berani masuk dengan porsi besar di pasar saham untuk saat ini.

Dengan besarnya outflow asing di IHSG, maka tidaklah heran jika IHSG terjerembab begitu dalam dengan jangka waktu yang sangat singkat, namun ditengah penurunan IHSG dan masifnya outflow asing, terdapat saham-saham yang masih diburu alias dikoleksi asing dengan besaran dana yang berbeda. Adanya saham yang masih diburu asing disaat mereka keluar dengan dana jumbo, pastilah ada alasan yang kuat dibaliknya.

Apapun alasan asing masuk ke saham-saham ini, untuk saat ini tidak begitu penting karena sekuat apapun proyeksi peningkatan pendapatan dimasa depan, tidak akan dapat mengalahkan sentimen negatif dari wabah Corona ini.

10 Saham Paling Diburu Asing Tahun 2020 YTD

1. TKIM

TKIM adalah emiten produsen kertas, yang pada tahun 2018 silam begitu fenomenal dengan kenaikan ratusan persen dalam waktu kurang dari satu tahun. Kini di tahun 2020 TKIM mulai banyak dikoleksi asing sebesar Rp 726 miliar dimana secara YTD TKIM telah mengalami penurunan sebesar -54,16%.

2. INKP

INKP juga merupakan perusahaan produsen kertas sama halnnya dengan TKIM, yang pada tahun 2018 silam juga begitui fenomenal bersama TKIM. Perlu diketahui, TKIM dan INKP masih satu induk, keduanya sama-sama milik sinarmas. Ditahun 2020 ini INKP telah dikoleksi asing sebesar Rp 463 miliar rupiah dengan penurunan secara YTD sedalam -35,71%.

3. MNCN

Saham media satu ini memang cukup menarik, sebelum mengalami kenaikan tinggi di athun 2019 silam, ia cenderung bergerak flat meski kinerja fundamentalnya tetap baik-baik saja. Kini disaat bursa drop, ternyata saham ini masih cukup diminati asing dengan total net buy mencapai Rp 235,5 miliar, dan kini harga saham MNCN bertengger di 895 dengan penurunan YTD sebesar -45,09%.

4. BNLI

Sejak diakuisisi oleh Bank asing asal Thailand, BNLI bergerak fluktutatif di range 1000-13000, namun kini ditengah penurunan IHSG yang cukup dalam BNLI serasa hanya bergerak flat saja, dimana harga saham BNLI sekarang bertengger di angka 1200an. Disisi lain ternyata asing cukup banyak mengoleksi saham ini yang sebesar Rp 219,39 miliar, dimana BNLI sendiri secara YTD hanya turun sedalam -3,56%.

5. ADRO

ADRO menjadi satu-satunya saham dari sektor pertambangan batubara yang dikoleksi asing cukup banyak, hal ini tidak mengherankan karena saat ini ADRO sudah memiliki portofolio bisnis yang kuat sehingga tidak banyak  terpengaruh dari fluktuasi harga batubara dunia. Hal ini menjadi salah satu penyebab asing cukup banyak mengkoleksi saham ini sebesar Rp 143,97 miliar dimana ADRO sendiri secara YTD telah turun sedalam -43,73%.

6. BRPT

BRPT adalah salah satu saham yang cukup fenomenal dikala IHSG drop, dimana titik lowernya di tahun 2020 ini di 426 pada tanggal 26 Maret 2020. Tidak perlu waktu lama, kurang dari 1 bulan saham ini sudah kembali bergerak di harga 1200an dengan titik highnya di 1340. Hal ini berarti BRPT sudah naik 3 kali lipat hanya kurang dari 1 bulan. Mungkin ini salah satu alasan asing mengkoleksi BRPT sebesar Rp 62,33 miliar.

7. TPIA

Tidak jauh berbeda dengan induknya yakni BRPT, TPIA juga cukup cepat recover meski tidak sampai setinggi BRPT. Tidak sampai 1 bulan, TPIA mampu kembali ke area 8000an dimana pada awal April 2020 low TPIA tercatat di 5025. Disisi lain ternyata asing juga mengoleksi saham ini sebesar Rp 46,39 miliar.

8. BBTN

BBTN merupakan emiten perbankan berplat merah, namun dalam setahun belakangan BBTN memiliki masalah yang serius tentang  manajemen mereka, hingga membuat kinerja keuangan mereka berantakan turun lebih dari 90%. Hal ini jelas berdampak buruk, namun pergantian manajemen baru membuat BBTN sepertinya mulai menarik lagi, dimana asing mengkoleksi saham ini sebesar Rp 21,18 miliar.

9. JSMR

Sebagai salah satu raja tol di Indonesia, JSMR adalah perusahaan plat merah yang dikenal sangat baik dalam pengelolaan jasa tol mereka. Kini JSMR di hargai 2550 yang merupakan harga terendah JSMR sejak 2011 silam, sangat jarang menemukan JSMR di harga ini sehingga menjadi sangat menarik untuk investasi jangka panjang. Asing sendiri sepertinya mulai mengkoleksi JSMR yang mana sampai hari ini asing telah membeli JSMR sebesar Rp 8 miliar dimana JSMR sendiri telah turun sedalam -50,72% sejak awal tahun.

10. INPP

INPP bukanlah saham favorit investasi, apalagi ia tidak begitu likuid dan memiliki histori kinerja keuangan yang tidak begitu menarik. Meski begitu nampaknya ada investor asing yang "iseng" masuk saham ini yang nominalnya "sangat receh" sebesar 17.000.

Menemukan Peluang dibalik Aksi Investor Asing

Pergerakan asing di IHSG sangat diminati oleh sebagian investor lokal, hal ini karena pergerakan asing yang dianggap sebagai "market maker" IHSG dalam jangka panjang, sehingga saham-saham yang mereka beli dianggap memiliki potensi masa depan yang lebih besar karena adanya mitos bahwa "mereka punya informasi lebih dari kita". Dan benar atau salah, nyatanya ada juga investor lokal yang begitu mengandalkan pergerakan asing di saham-saham tertentu.