Harga Saham Bank BCA (BBCA)

analisa saham bbca

Blogsaham.com - Bank BCA merupakan salah satu bank swasta nasional yang memiliki aset sebesar 919 triliunn rupiah dengan rincian 174,1 triliun rupiah merupakan ekuitas bank BCA dan 699 triliun rupiah adalah dana pihak ketiga.

Sejarah Bank BCA

Bank BCA didirikan pada tahun 1955 dengan nama awal N.V Perseroan Dagang dan Industrie Semarang Knitting Factory dan telah berganti nama beberapa kali hingga akhirnya pada tahun 1974 nama perusahaan resmi berubah menjadi Bank Central Asia (BCA).

Kini di akhir tahun 2019, Bank BCA telah memiliki kantor perwakilan sebanyak 1.256 cabang dan telah mengoperasikan mesin ATM 17.928 dan ratusan ribu mesin EDC serta memiliki jumlah karyawan sebanyak 24.789 orang.

Pada kurun tahun 1997-1998 BCA mengalami krisis moneter yang membuat Bank Rush. Bank Rush merupakan kondisi dimana para kreditur menarik dana mereka dalam jumlah besar dan terus menerus. Kondisi ini pada akhirnya membuat Bank BCA masuk kedalam Bank Take Over pada tahun 1998.

Setelah BCA masuk kedalam kategori Bank Take Over (BTO) yang kemudian diambil alih oleh pemerintah melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan disertakan dalam program rekapitalisasi dan restrukturisasi.

Program tersebut digunakan untuk menyehatkan kembali bank-bank yang mengalami kondisi kolaps dan harus dilakukan penyelamatan oleh pemerintah yang dalam hal ini pelaksananya adalah BPPN. Pada tahun 1999 program restrukturisasi Bank BCA telah usai dimana pemerintah Indonesia lewat BPPN menggenggam saham BCA sampai 92,8%. Kepemilikan saham tersebut oleh BPPN merupakan hasil tukar guling setelah BCA menerima Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Kemudian proses divestasi saham BBCA dilakukan oleh BPPN dimulai pada tahun 2000 dengan melepaskan saham BCA di pasar saham sebanyak 22,5% melalui skema IPO, dilanjut pada tahun 2001 BPPN kembali melepas saham BCA di pasar saham sebanyak 10%. Divestasi atas Bank BCA masih terus berlanjut hingga pada tahun 2005 seluruh kepemilikan saham BCA oleh BPPN telah habis.

Pada tahun 2000, Bank BCA melepaskan sebagian sahamnya di Bursa Efek Indonesia sehingga Bank BCA memiliki kode BBCA dimana harga sahamnya dijual sebesar Rp 1.400 per lembarnya dengan PT Danareksa Sekuritas dan PT Bahana Securities berlaku sebagai Underwriter nya.

Bank BCA sendiri memiliki beberapa entitas anak usaha yang mana industri yang digeluti pun berbeda dengan induknya. Berikut ini daftar entitas anak usaha Bank BCA:
  • PT BCA Finance
  • BCA Finance Limited
  • PT Bank BCA Syariah
  • PT BCA Sekuritas
  • PT Asuransi Umum BCA
  • PT BCA Multifinance
  • PT Asuransi Jiwa BCA
  • PT Central Capital Venture
  •  PT Bank Royal Indonesia

Bidang Usaha Bank BCA

Sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia, BBCA memiliki banyak sekali bidang usaha yang digeluti. Sebagai informasi, bahwa salah satu perbedaan Bank Buku IV dengan Bank Buku dibawahnya adalah keleluasaan bidang industri yang digeluti. Karena Bank BCA ini adalah Bank kategori BUKU IV sehingga ia memiliki bidang usaha yang sangat luas seperti halnya Bank BRI, Mandiri, ataupun Bank BNI.

Berikut ini adalah daftar bidang usaha Bank BCA
  1. Menghimpun dana masyarakat dalam beragam bentuk seperti tabungan biasa, Giro, Deposito Berjangka, Sertifikat Deposito, dan bentuk lainnya yang memiliki kesamaan dengan bentuk-bentuk tersebut
  2. Menyalurkan Kredit
  3. Menerbitkan surat pengakuan utang
  4. Membeli, menjual atau menjamin atas resiko sendiri atau atas perintah nasabah dalam beberapa bentuk seperti SBI, Obligasi, Surat Wessel, Pengakuan Utang, Surat dagang berjangka
  5. Memindahkan uang untuk kepentingan sendiri atau kepentingan nasabah
  6. dan masih banyak lagi

Fundamental BBCA

Pada laporan keuangan terbaru yakni laporan tahun 2019 FY, BBCA mencatatkan aset sebesar 699 triliun rupiah, penyaluran kredit mencapai 586,9 triliun rupiah, dan laba bersih sebesar 28,6 triliun rupiah. Ketiganya mencatatkan pertumbuhan yang bagus dimana masing-masing tumbuh sebesar 11%, 9,1%, dan 10,5%.

Ukuran terbaik bagi perbankan selain pertumbuhan laba bersih adalah NPL (Non Performing Loan) atau istilah lainnya adalah kredit macet. Kredit macet yang dimiliki oleh BBCA ini tergolong paling kecil jika dibandingkan dengan BBRI, BMRI, dan BBNI, sehingga tidak mengherankan jika kinerja keuangan BBCA terus mencetak pertumbuhan yang lebih tinggi.

fundamental saham bbca
NPL sendiri dinilai penting sebagai bagian dalam penilaian kesehatan keuangan perbankan karena memperlihatkan rasio kredit macet atas total kredit yang disalurkan. Semakin tinggi nilai NPL maka semakin jelek kualitas kredit bank tersebut. Sebaliknya, semakin kecil NPL maka semakin sehat dan bagus kualitas kredit yang dimiliki bank yang bersangkutan.

Penilaian selanjutnya adalah NIM atau Net Interest Margin. NIM ini mengukur seberapa besar pendapatan bunga bersih atas aset produktif bank. Semakin besar maka semakin baik, begitu pula sebaliknya. BBCA sendiri mencatatkan NIM pada tahun 2019 sebesar 6,2%. Selain itu rasio kecukupan modal BBCA jauh diatas standar yang ditetapkan oleh OJK, dimana CAR BBCA sebesar 23,8%.

Pendapatan operasional BBCA pada kuartal IV 2019 tercatat sebesar 71,6 triliun rupiah, naik sebesar 13,6% dibandingkan pendapatan di tahun 2018 yang sebesar 63 triliun rupiah. Kemudian pendapatan bunga bersih mengalami kenaikan sebesar 11,5% yakni sebesar 50,5 triliun rupiah. Kenaikan pendapatan operasional dan pendapatan laba bersih juga diikuti dengan kenaikan laba bersih BCA sebesar 10,9% menjadi 28,6 triliun rupiah.

Dengan pencapaian tersebut, membuat laba per saham BBCA menembus 1.159 rupiah mengalami kenaikan sebesar 10,5% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 1.049 rupiah per lembarnya. Maka dengan menggunakan asumsi pertumbuhan yang sama, diproyeksikan laba per saham BBCA di tahun 2020 meningkat menjadi 1.175 rupiah per lembarnya. Namun jika menggunakan angka konservatif yakni separuh dari pertumbuhan tahun 2019 maka laba bersih BBCA di tahun 2020 diproyeksikan hanya tumbuh 5% menjadi 1.217 rupiah.

Disisi lain, BBCA juga merupakan emiten yang rajin membagi dividen, meski tidak begitu besar, namun Dividen Payout Ratio (DPR) nya berkisar antaa 20-30% dari laba per saham. Sehingga jika kita menggunakan angka tersebut untuk mendapatkan gambara dividen tahun 2019 ini, maka diperoleh angka sederhana dengan dividen sebesar 232 - 348 rupiah per lembarnya.

Pada umumnya BBCA mengeluarkan dividen dua kali dalam satu tahun, pertama adalah dividen interim pada bulan november dan dividen final pada bulan april. Jadi jika anda adalah tipe dividen hunter, maka saham BBCA ini layak untuk dikoleksi.

Kinerja Saham BBCA

Sejak pertama kali IPO di tahun 2000 BBCA telah melakukan stocksplit sebanyak 2 kali sampai hari ini, sehingga jumlah saham beredar di market jumlahnya saat ini adalah 4 kali lipat dari jumlah saham yang dijual saat IPO 20 tahun silam. Dengan harga saham pada awal IPO sebesar 1400, dan harga tertinggi saham BBCA sampai hari ini adalah 33.500 serta telah dua kali stocksplit dengan rasio masing-masing 2:1, maka saham BBCA telah mengalami kenaikan sebesar 9570%.

Jika anda berinvestasi saham BBCA pada saat awal IPO nya sebesar 1 juta rupiah, maka kini nilai investasi anda menjadi 95,7 juta rupiah. Menarik bukan!

harga saham bbca sejak ipo
Sumber : www.investing.com

Saat ini saham-saham di BEI sedang banyak yang turun cukup dalam, tidak terkecuali saham BBCA ini. Bahkan saham BBCA pernah menyentuh level 21.600 pada tahun 2020 ini sehingga membuat ia turun sedalam -55% dari titik tertingginya. Kondisi ini jelas memberikan peluang bagi mereka yang menyukai saham ini, dimana harga saham BBCA turun sedalam itu dan dijual pada harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan fundamental dan kondisi bisnis perusahaan sendiri.

Pola teknikal saham BBCA yang terakhir adalah Cup n Handle dalam rentang yang kecil sehingga berpotensi untuk kembali menguat. Namun sayangnya pola tersebut terjadi pada fase downtrend sehingga peluang untuk terbentuk sempurna cukup kecil.

Disisi lain kenaikan IHSG beberapa waktu ini pun lebih karena panik buying karena banyaknya saham yang dijual sangat murah sehingga memacu banyak investor dan trader untuk membeli dan mengambil kesempatan untuk menikmati potensi rebound.

Namun IHSG sebenarnya belum benar-benar pulih dari fase downtrend, dan saat ini masuk fase konsolidasi sehingga koreksi akan kembali terjadi, dan dengan ini anda dapat membeli saham BBCA diharga yang lebih rendah lagi.