Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Simak, Deretan Harga Saham Konstruksi BUMN : WIKA, WSKT, PTPP dan ADHI

harga saham wika wskt ptpp adhi

Blogsaham.com - Ditengah downtrendnya IHSG terdapat banyak sekali peluang yang ada di bursa kita, salah satunya berasal dari saham kontruksi BUMN seperti WIKA, PTPP, WSKT, ADHI. Keempat saham tersebut adalah deretan saham BUMN konstruksi yang paling banyak diminati selain karena memiliki proyek yang besar berasal dari pemerintah, tapi juga banyaknya anak usaha yang cukup produktif sehingga menunjang kinerja keuangan induknya.

Meski beberapa emiten kontruksi memiliki PER yang sangat menarik dan PBV dibawah 1x, namun bayang-bayang besarnya utang dan tingginya proyek pemerintah yang berpotensi gagal bayar atau tertunda pembayarannya untuk tahun 2020 cukup besar. Hal ini tentu salah satu penyebab utamanya adalah pengalihan pos penggunaan anggaran untuk penanganan pandemik.

Pengalihan pos anggaran di beberapa kementerian berpotensi menggeser proyek-proyek strategis jangka panjang untuk sementara di tunda atau dihentikan, agar kas negara dapat mencukupi kebutuhan penanganan wabah. Sehingga dengan ini dapat mengganggu arus kas perusahaan yang mengandalkan utang untuk pendanaan proyek yang bersifat turnkey.

Proyek turnkey adalah proyek yang pendanaannya berasal dari dalam kontraktor baik itu menggunakan kas mereka sendiri atau menggunakan utang dari pihak lain. Selanjutnya perusahaan yang melaksanakan proyek tersebut mendapatkan uang setelah keseluruhan proyek telah dilaksanakan dan diberikan kepada pemberi proyek.

Fundamental

Secara fundamental, WIKA bisa menjadi salah satu dari keempat emiten konstruksi BUMN yang paling sehat, hal ini karena proyek-proyek dari WIKA tidak semuanya (dalam porsi besar) berasal dari pemerintah, berbeda hal nya dengan WSKT yang memang mayoritas proyeknya berasal dari pemerintah dan ini menjadi sentimen negatif untuk saat ini.

Aset dan Hutang

Secara aset, WSKT adalah leadernya dengan total aset yang dimiliki mencapai 122 triliun rupiah, diikuti oleh WIKA sebesar Rp 62 triliun, PTPP R[ 59,2 triliun dan ADHI Rp 36,5 triliun. Dengan begini WSKT adalah leader baik dari sisi aset tapi juga nilai proyek karena pemerintah lebih banyak menugaskan WSKT untuk melaksanakan beberapa proyek strategis.

Kas dan setara kas yang dimiliki keempat emiten tersebut paling besar dimiliki WIKA sebesar Rp 10 triliun, WSKT Rp 9 triliun, PTPP 9 triliun dan ADHI Rp 3,2 triliun. Dengan begini, arus kas dari WIKA dianggap jauh lebih aman dibandingkan yang lainnya.

Hal ini didasarkan pada kemampuan masing-masing emiten untuk membayar utang jangka pendek yang jatuh tempo tidak sampai satu tahun ke depan. Untuk WIKA sendiri dengan kas sebesar Rp 9 triliun akan dengan mudah membayar utang jangka pendeknya sebesar 6,2 triliun disusul PTPP dengan utang jangka pendek 9 triliun. Keduanya dinilai masih aman meski PTPP bisa dikatakan hanya sedikit memiliki dana Cash sisa di rekening jika Short Term Debt tersebut dibayar sekarang.

Nasib berbeda dialami oleh ADHI dan WSKT, ADHI bisa dikatakan lebih baik meski ia harus mengalami defisit sebesar hampir 3 triliun, bahkan WSKT dapat mengalami defisit mencapai 17 triliun rupiah dimana total Short Term Debt WSKT tercatat sebesar 26,2 triliun rupiah. Jelas ini tidak baik bagi WSKT.

Untuk soal utang, nilai paling besar dimiliki oleh WSKT lalu disusul WIKA, PTPP, dan kemudian ADHI di posisi buncit. Hal ini tentu wajar karena WSKT memang memiliki banyak proyek pemerintah sedangkan kemampuan kas WSKT sudah tidak sebaik awal mula program pembangunan infrastruktur dulu.

Tingginya nilai utang ini menjadi resiko tersendiri, meski utang proyek berasal dari pemerintah yang pasti akan di bayar (enggak tahu kapannya) namun dengan kondisi sekarang jelas memberikan sentimen negatif lebih besar dibandingkan emiten konstruksi yang memiliki utang yang relatif paling sedikit.

Sedangkan dari sisi rasio utang atas ekuitas atau biasa disebut DER, ADHI menempati posisi pertama dengan DER sebesar 4,4x, disusul WSKT 3,2x, PTPP 2,4x dan WIKA 2,2x. Sehingga dengan melihat data ringkas ini saja ADHI dan WSKT adalah yang paling rentan terhadap resiko hutang disusul PTPP dan WIKA.

Keempat emiten memang memiliki resiko yang sama dari sisi pembayaran proyek pemerintah, namun urutan diatas dapat memberi gambaran emiten mana saja yang berpotensi paling besar pengaruhnya pada keuangan yang pada akhirnya akan tercermin dalam pergerakan harga saham masing-masing nantinya.

Profitabilitas

WSKT memang menjadi leader dalam sektor konstruksi, namun ternyata ia tidak mampu meningkatkan pendapatan untuk laporan tahun 2019. Hal ini terlihat WSKT hanya mampu mencatatkan pendapatan sebesar 31,4 triliun nrupiah, disusul WIKA 27,2 triliun, PTPP 24,7 triliun dan ADHI sebesar 15,3 triliun.

Selain itu WSKT juga gagal dalam mencetak laba bersih yang baik, dimana WIKA menjadi pemimpin dari segi net income sebesar 2,6 triliun, disusul PTPP 1,2 triliun, WSKT 1,02 triliun dan ADHI sebesar 665 miliar. Sehingga WIKA dan PTPP dapat menjadi saham konstruksi paling potensial saat IHSG recover.

Secara ringkas data profitabilitas keempat emiten konstruksi tersebut dapat dilihat dalam data dibawah ini :

Kode              Pendapatan            Net Income               ROE
WIKA                  27,2 T                     2,6 T                     13,8%
WSKT                  31,4 T                    1,02 T                    5,24%
PTPP                    24,7 T                    1,2 T                      6,92%
ADHI                   15,3 T                    0,66 T                     9,7%

Harga Saham

harga saham wika wskt ptpp adhi

Harga saham dalam chart diatas menggunakan data YTD alias dimulai awal 2020, sehingga dapat memberikan gambaran seberapa dalam penurunan yang dialami masing-masing saham konstruksi.

Harga saham WSKT yang paling dalam penurunannya disusul harga saham PTPP, lalu harga saham WIKA dan harga saham ADHI.

Saat ini harga saham keempat emiten tersebut masuk dalam masa konsolidasi setelah mengalami penurunan yang sangat cepat dan dalam. Kondisi saat ini (sideways) menjadi hal yang krusial, karena jika pondasi ini kuat diikuti dengan fundamental yang baik maka akan dapat memberikan pergerakan harga yang baik dan konstan.

Anda bisa membaca kembali ulasan fundamental pada bagian sebelumnya sehingga anda dapat memahami mengapa WSKT adalah yang paling dalam penurunannya dibanding yang lainnya, sedangkan WIKA adalah yang paing cepat mengalami recover disaat yang lain masih konsol. Namun jika ditarik lebih jauh lagi, maka harga saham saat ini mendekati harga keempatnya pada periode 2011-2012.

Itu artinya anda membeli saham emiten konstruksi ini sama dengan harga 8 tahun silam, atau sebaliknya jika anda membeli di tahun 2011-2012 maka saat ini floating profit anda menjadi sangat tipis bahkan berpotensi negatif.

Tabel Harga Saham WIKA, WSKT, PTPP dan ADHI (Per 22 April 2020)

Kode                   Harga Saham                        YTD
WIKA                       950                                  -52,26%
WSKT                       590                                  -60,7%
PTPP                         655                                  -58,68%
ADHI                        585                                  -64,55%

Valuasi

Dari sisi valuasi keempatnya sudah memenuhi terutama untuk ukuran PER dan PBV. Dimana masing-masing memiliki PER yang sangat kecil dan PBV yang sangat menarik. Namun tidak begitu saja, jangan sampai hanya fokus pada PER dan PBV membuat anda terhenyak mengapa WSKT tidak mampu upside lebih tinggi dibandingkan WIKA atau PTPP.

Seringkali seorang investor yang terjebak pada PER dan PBV sehingga ia tidak mampu memaksimalkan potensi upside yang ada.

Ada beberapa kata kunci untuk dapat disandingkan dengan PER dan PBV sehingga menghasilkan performa yang baik bagi portofolio anda. Kata kunci tersebut adalah pertumbuhan laba bersih / EPS dan ROE. Jika anda mampu menemukan kombinasi yang tepat maka anda akan dengan mudah menemukan saham yang upside dengan konsisten hingga ke level yang sama pada saat awal terjadinya crash.

Berikut ini tabel sederhana yang dapat anda manfaatkan untuk mendapatkan kesimpulan yang tepat

Kode                 PER               PBV                  ROE             DPR
WIKA               3,73x             0,52x                  13,8%            20%
WSKT               8,55x             0,45x                  5,24%            25%
PTPP                 4,37x             0,30x                  6,92%            20%
ADHI                3,15x             0,31x                  9,7%              19,99%

Ket : DPR adalah Dividen Payout Ratio dengan merujuk data pembagian dividen tahun sebelumnya.

Kesimpulan

Pada titik ini anda sudah dapat mengambil kesimpulan, dari keempat emiten konstruksi mana yang paling layak untuk investasi dan memiliki potensi upside paling tinggi. Ada dua strategi untuk memaksimalkan potensi yang ada di saham pilihan anda, pertama anda hanya pilih satu saham dengan potensi paling besar (melihat pertumbuhan laba dan valuasi), yang kedua mengkombinasikan dengan saham yang memiliki kinerja fundamental terbaik nomer 2 versi anda.