Harga Saham WIKA dan Analisanya

harga saham WIKA hari ini

Blogsaham.com -WIKA atau PT Wijaya Karya (Persero) Tbk adalah sebuah perusahaan BUMN yang bergerak dibidang konstruksi bersama dengan WSKT, PTPP, dan ADHI. Emiten ini tergolong paling profitabel dibandingkan dengan ketiga emiten konstruksi BUMN lainnya, sehingga ketika terjadi badai di bursa saat pandemi Corona, harga saham WIKA tidak jatuh berguguran di area 500an. Hal ini membuktikan bahwa fundamental dan prospek bisnis dari WIKA sendiri masih tergolong paling baik diantara yang lain.

Disisi lain penurunan harga saham WIKA yang mencapai 50% secara YTD memberikan peluang tersendiri bagi para investor mengingat kondisi fundamentalnya yang cukup atraktif, dimana ROE WIKA sendiri sebesar 13% dengan DER yang tinggi yakni mencapai 2 kali lipat ekuitasnya.

Sejak era Presiden Jokowi mayoritas emiten konstruksi BUMN memang memiliki utang yang melambung meski hal ini memang wajar karena dalam pengerjaan proyeknya yang bersifat turnkey. Namun kondisi saat ini jelas berbeda, banyaknya proyek yang harus didanai dan menurunnya kas yang dimiliki memunculkan potensi gagal bayar yang akan jatuh tempo.

Sebagai informasi saja, kas WIKA untuk tahun 2019 saja tercatat dibawah kas 2017, dimana kas WIKA saat ini hanya sekitar 10,3 triliun rupiah dengan jumlah liabilitas mencapai 42,9 triliun rupiah. Tentu hal ini memberikan rasa khawatir tersendiri bagi para investor, apabila pembayaran proyek dari pemerintah meleset sedikit saja, WIKA bisa memiliki masalah yang besar terkait utang-utangnya.

Fundamental WIKA

Kita lihat dari sudut utang WIKA dahulu yang memang menjadi problem utama emiten konstruksi BUMN saat ini. Utang jangka pendek WIKA sendiri mencapai  5 triliun rupiah dimana utang tersebut terdiri dari 1,2 triliun utang berelasi dan 3,9 triliun adalah utang pihak ketiga. Jika dilihat dari pemilik utang sendiri, WIKA memiliki utang jangka pendek mencapai 3 triliun sedangkan anak usaha WIKA memiliki utang jangka pendek sebesar 2 triliun.

Utang-utang diatas memiliki suku bunga pinjaman berkisar antara 8-9,5% per tahun, tentu hal ini bisa memberatkan kas perusahaan apabila terjadi perubahan pengelolaan keuangan menjadi buruk. Disisi lain WIKA juga utang jangka menengah sebesar 7,4 triliun dimana 5,4 triliun akan jatuh tempo pada Januari 2021 mendatang, utang ini memiliki bunga sebesar 7,7% per tahunnya.

Untuk sisi profitabilitas, pendapatan WIKA di 2019 mengalami penurunan sebesar -13% dibandingkan tahun 2018 silam yang sebesar 31,2 triliun. Penurunan ini tentu wajar dikarenakan sedikitnya pelanggan yang dimiliki WIKA di tahun tersebut dibandingkan tahun 2018. Pendapatan utama WIKA berasal dari Jasa Marga Balikpapan dan PLN disusul Angkasa Pura I dan Pertamina, keempatnya memberikan sumbangsih atas pendapatan WIKA mencapai 62%.

Dengan pendapatan sebesar itu, tentu laba usaha WIKA juga pasti mengalami penurunan menjadi 3,7 triliun. Namun laba bersih WIKA tertolong oleh laba dari ventura sebesar 939 miliar sehingga laba bersih WIKA menjadi 2,5 triliun dan mengalami kenaikan sebesar 13,6%. Tentu dengan kenaikan laba tersebut membuat EPS WIKA mengalami peningkatan 31% menjadi Rp 254 per lembar.

harga saham WIKA hari ini
Histori pertumbuhan EPS dan Net Income : www.rti.co.id

Anda bisa lihat, histori pertumbuhan EPS WIKA sangatlah bagus, dimana dalam 2 tahun terakhir pertumbuhannya sangat tinggi, sehingga membuat WIKA menjadi sangat profitabel.

Secara histori ROE WIKA memang tidaklah begitu tinggi, rata-rata diantara 10-17% sejak 2010 silam. Namun hal yang baik adalah sejak 2016 silam ROE WIKA terus bertumbuh dimana pada 2016 tercatat sebesar 8,1% dan di tahun 2019 ini ROE WIKA sebesar 13%.

Harga Saham WIKA

harga saham WIKA hari ini
Harga Saham WIKA : www.investing.com

Pergerakan harga saham WIKA kini berada dalam fase sideways dengan bergerak dalam range 700-1300. Range WIKA sangat lebar ini menunjukkan bahwa pergerakan harga saham WIKA sangat volatil, dimana ia bisa bergerak mendekati level 1300, disisi lain ia berpotensi turun dibawah 1000 hingga 700.

Kondisi ini jelas hasil pengaruh dari sentimen saat ini yakni pandemi Corona, sehingga selama pandemi ini masih belum tertangani dengan baik, maka pergerakan harga WIKA tidak jauh dari itu.

Titik kritis WIKA saat ini adalah di level 1000, jika harga ini ditembus maka potensi WIKA untuk bergerak menuju level 1200 sangat mungkin terjadi, namun ketika level tersebut gagal ditembus, maka titik supportnya di level 860-800.

Valuasi 

Secara valuasi harga saham WIKA tidak jauh berbeda dengan saham dalam indeks LQ45 lainnya seperti BMRI atau ANTM dimana saat ini dihargai cukup undervalue. PER WIKA tercatat sebesar 3,67x dimana harga saham WIKA saat ini adalah Rp 935 per lembar saham.

Ini adalah PER terendah WIKA dalam satu tahun terakhir, dan sangat jarang mendapati valuasi sebuah emiten konstruksi dibawah 5x. Selain itu PBV WIKA juga dinilai sangat undervalue sebesar 0,51x, sehingga ketika anda membeli WIKA diharga saat ini anda sudah membeli perusahaan konstruksi plat merah dengan setengah harga.

Kondisi fundamental WIKA berbeda dengan WSKT, sehingga ketika anda membeli WSKT dibandingkan WIKA, maka potensi kenaikan harga saham nantinya akan berbeda jauh, karena fundamental WSKT tidaklah sebaik WIKA, meski PBV WSKT lebih rendah dibandingkan WIKA, namun dalam hal profitabilitas, WIKA masih juaranya.

Sehingga dengan valuasi saat ini, WIKA adalah yang paling menarik di sektor konstruksi.

Dividen WIKA

Sebagai emiten plat merah, WIKA rajin dalam membagikan dividen, dimana setiap tahunnya Dividen Payout Ratio (DPR) WIKA sebesar 20% dari total laba yang dihasilkan. Dengan DPR sebesar itu dan EPS sebesar Rp 255, maka Dividen WIKA di tahun 2020 ini bisa di angka 50-51 per lembar saham. Dengan begitu, pada harga saat ini di 935 maka DPS WIKA dikisaran 5%. 

Sentimen

Sentimen untuk WIKA saat ini sama seperti halnya emiten lainnya, yakni pandemi Corona yang menyebabkan aktifitas ekonomi menjadi berhenti dan beberape penundaan proyek baik yang akan atau sedang berlangsung. Tentu ini menjadi kerugian baik bagi WIKA maupun bagi pemberi kerja, namun kondisi dilapangan yang tidak memungkinkan harus dihadapi oleh WIKA dan emiten lainnya tidak hanya sektor konstruksi.