Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

WARNING! Hindari Saham Bank Untuk Sementara

asing jual saham perbankan indonesia

Blogsaham.com - Bursa saham sampai hari ini belum menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan naik dengan saham sektor perbankan sebagai leading. Hal ini tentu menjadi pertanyaan mengapa saham-saham Big Caps perbankan menjadi begitu berat untuk naik, bahkan cenderung tertekan terus menerus, padahal di beberapa negara terutama Amerika Serikat bursa saham mereka telah recover meski kinerja emiten bank disana juga jelek.

Tentu ini menjadi sebuah tanda bahwa bursa akan berada dalam masa sideways setelah mengalami rebound sebelumnya. Sehingga membuat para pelaku pasar bersikap pesimis bahwa bursa akan berada dalam masa sideways lebih lama lagi.

Ada beberapa alasan mengapa saham perbankan terutama BBRI, BMRI, BBNI, dan BBCA mengalami tekanan akhir-akhir ini, hingga membuat pergerakan IHSG menjadi sangat terbatas dan seringkali bergerak berlawanan dengan bursa regional dan glogal lainnya.

Asing Net Sell Saham 4 Bank Besar

Berdasarkan data RTI Bussines, 4 saham bank yakni BBRI, BMRI, BBNI dan BBCA menjadi objek utama net sell asing dalam 2020 ini. Bayangkan saja selama kurun waktu 2020 saham-saham tersebut telah diobral lebih dari 1 triliun dimana BBRI menjadi saham yang paling banyak dijual sebesar Rp 6 triliun.

Tentu hal ini bukanlah kabar baik, sebagaimana kita ketahui bahwa bursa kita begitu terpengaruh atas pergerakan asing selama ini, sehingga saat mereka melakukan net sell cukup membuat IHSG tertahan bahkan meriang.

Sebagai catatan, salam 2020 ini asing telah menjual keempat saham bank tersebut senilai Rp 15 triliun dengan rincian sebagai berikut
Keempat emiten perbankan tersebutlah yang memiliki andil tertahannya indeks selama ini sehingga bergerak sideways dengan kecenderungan downtrend. Salah satu alasan keempat saham tersebut diobral adalah wacana akan dijadikan Bank Jangkar.

Bank jangkar adalah bank yang ditunjuk oleh pemerintah untuk menjadi penyangga likuiditas bank pelaksana dengan menerima sejumlah dana dari pemerintah. Intinya adalah bank jangkar itu menjadi jalan bagi bank yang kesulitan likuiditas untuk mendapatkan likuiditas, namun disisi lain bank jangkar dijadikan tameng agar pengajuan likuiditas bank bermasalah dapat keluar.

Hal ini menjadi resiko tersendiri, karena bank jangkar akan menganggung sejumlah resiko yang berasal dari bank bermasalah tersebut selain masalah yang harus dihadapinya sendiri. Bank yang akan ditunjuk menjadi bank jangkar adalah bank besar atau bank umum yang memiliki likuiditas yang kuat, sehingga dengan ini keempat emiten tersebut adalah calon kuat menjadi bank jangkar.

Potensi penunjukan menjadi bank jangkar inilah yang saat ini menjadi sentimen negatif bagi saham bank terutama 4 emiten tersebut, untuk itu hindari dahulu saham-saham tersebut untuk saat ini.

Harga Saham 4 Bank

asing jual saham perbankan besar indonesia
Sumber : www.investing.com

Sebenarnya harga saham keempat bank tersebut memang sudah mengalami penurunan sejak menguat terakhir kali, namun isu penunjukan bank jangkar membuat harga saham-saham bank terutama bank BUMN begitu terasa efeknya dimana ketiganya mengalami penurunan yang cukup tajam.

Hal ini membuat ketiga saham tersebut berpotensi mendekati area lowest mereka di Maret 2020 silam. Disisi lain BBRI dan BMRI telah confirm break low sehingga harga sahamnya berpotensi untuk membuat new low lainnya dan ini tidaklah baik.

Bahkan sekaliber harga saham BBCA saja juga terus dibuat turun bahkan kini kinerja YTD menyamai kinerja IHSG dimana sebelumnya kinerja sahamnya begitu epik dan sangat kuat dibandingkan harga saham perbankan lainnya.

Disatu sisi sentimen negatif bank jangkar ini menjadi peluang untuk mendapatkan harga lebih murah, namun dari sisi waktu agar bisa membeli diharga yang lebih atraktif mungkin bukan sekarang, tapi nanti saat anda merasa harga saham tersebut benar-benar sudah price in (tidak lama lagi).