Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Indeks Harga Saham Gabungan dan Pengertiannya

Indeks harga saham gabungan ihsg

Pengertian Indeks Harga Saham Gabungan

Indeks harga saham gabungan merupakan salah satu indeks pasar saham yang digunaka oleh Bursa Efek Indonesia. IHSG diperkenalkan pertama kali pada 1 April 1983 sebagai indikator pergerakan harga saham di BEJ. (Wikipedia)

Indeks ini atau IHSG mencakup pergerakan harga semua atau seluruh saham biasa dan saham preferen yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Menurut situs www.idx.co.id, indeks saham adalah ukuran statistik yang mencerminkan seluruh pergerakan harga saham yang ditentukan berdasarkan kriteria tertentu dengan dievaluasi secara periodik.

Kurang lebih IHSG adalah cerminan pergerakan harga seluruh saham yang tercatat di BEI, baik itu saham perusahaan kecil maupun besar.

Setiap harga saham memiliki nilai atau bobot terhadap pergerakan IHSG, namun nilainya tentu berbeda.

BEI sendiri menentukan kadar atau bobot masing-masing saham terhadap IHSG berbeda-beda, dimana salah satu indikatornya adalah jumlah saham beredar di market dan kapitalisasi pasar atas saham terseebut.

Sebagai contoh, bobot saham BBCA dengan bobot saham ACES bagi IHSG jelas berbeda, jika kita temukan harga saham ACES naik 5% dalam satu hari, maka IHSG tidak akan banyak berubah.

Berbeda kasusnya jika dalam satu hari saham BBCA naik 5%, maka IHSG bisa saja terbang 1-2%.

Tujuan adanya indeks saham sendiri adalah untuk:

  1. Mengukur sentimen pasar
  2. Dijadikan investasi pasif berupa reksadana, ETF atau produk turunannya
  3. Dijadikan Benchmark atas portofolio aktif
  4. Proksi untuk kelas aset pada alokasi aset
  5. Proksi dalam pengukuran serta pembuatan model pengembalian investasi, profil risiko, dan kinerja sesuai dengn risiko

Jenis-Jenis Indeks Saham

Dalam praktek di pasar saham, indeks saham tidak hanya berupa IHSG, namun terdapat banyak sekali indeks yang mencerminkan saham dengan karakteristik tertentu.

Indeks-indeks ini bersifat lebih spesifik dan memiliki jumlah saham yang terdaftar di dalamnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan IHSG.

Jika di IHSG menjadi cerminan pergerakan harga seluruh saham yang tercatat di BEI, maka indeks-indeks berikut tidak demikian.

Untuk itu, indeks semacam ini cocok untuk anda yang menyukai investasi pada saham dengan karakteristik tertentu.

Semisal, anda adalah tipe investor yang hanya akan berinvestasi pada saham-saham yang berbasis syariah, maka anda cocok untuk menjadikan indeks ISSI dan JII sebagai Benchmark (acuan) atas investasi anda.

ISSI dan JII adalah indeks saham yang berisikan saham-saham perusahaan yang masuk kategori syariah.

Kedua indeks tersebut akan di review setiap periode tertentu, dan daftar saham didalamnya dapat berubah-ubah sesuai dengan penetapan oleh BEI bersama Dewan Pengawas Syariah.

Selain kedua indeks tersebut, masih terdapat banyak indeks yang perlu anda ketahui.

Pengetahuan akan daftar indeks ini tidaklah mutlak, anda boleh mempelajarinya pun begitu juga sebaliknya.

Karena pada prinsipnya, anda tidak paham betul atas daftar indeks tersebut tidak akan mempengaruhi kinerja investasi anda.

Secara ringkas, berikut ini adalah daftar indeks yang ada di Bursa Saham Indonesia :

1. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG

Merupakan indeks utama yang menjadi acuan seluruh investor di BEI. IHSG juga menjadi Benchmark atas kinerja portofolio bagi para investor, baik itu investor retail maupun manajer investor.

IHSG mengukur kinerja saham secara keseluruhan baik itu yang berada didalam papan utama maupun papan pengembangan.

Di papan utama berisikan saham-saham dengan kapitalisasi besar, sedangkan pada papan pengembangan berisikan saham-sahma kapitalisasi sedang-kecil.

Jika anda baru belajar tentang investasi saham, maka pemahaman anda atas IHSG ini sangat penting, jadi jangan lewatkan sedikitpun.

2. IDX80

Merupakan indeks yang berisikan 80 saham pilihan dengan likuiditas tinggi dan fundamental yang baik.

Anda bisa menggunakan indeks ini sebagai acuan tanpa harus diribetkan dengan masalah screening fundamental emiten.

Sehingga anda hanya tinggal melakukan analisis fundamental lanjutan untuk pengambilan keputusan.

3. LQ45

Indeks ini berisikan 45 saham pilihan yang memiliki likuiditas yang baik, kapitalisasi besar serta dengan fundamental yang bagus.

Indeks ini lebih populer dibandingkan indeks-indeks lainnya, bahkan kepopulerannya berada setingkat dibawah IHSG.

LQ45 juga sering dijadikan acuan atas kinerja beberapa fund manajer, reksadana dan investor retail lainnya.

4. IDX High Dividen 20

Merupakan indeks yang berisikan 20 saham pilihan yang rutin membagikan dividen selama 3 tahun kebelakang.

Indeks ini sangat cocok bagi anda yang memang jalan investasinya adalah pada perusahaan-perusahaan yang membagikan dividen secara rutin.

Dividen merupakan pembagian laba yang menjadi profit bagi para investor selain capital gain.

5. IDX BUMN20

Indeks ini berisikan saham-saham perusahaan plat merah alias BUMN, termasuk didalamnya ada BBRI, BBNI, BMRI, GGIA, SMGR dan masih banyak lagi.

Bagi kamu yang suka berinvestasi pada perusahaan BUMN, indeks ini patut untuk anda jadikan benchmark investasi.

6. Jakarta Islamic Indeks atau JII

Seperti yang sudah disinggung diatas, JII berisikan 30 saham pilihan dengan likuiditas tinggi, fundamental bagus, kapitalisasi pasar besar dan tentunya berbasis syariah.

Indeks ini cocook untuk anda yang suka investasi atau trading pada perusahaan berfundamental bagus namun dengan prinsip syariah.

7. Daftar Indeks Lainnya

Selain keenam indeks diatas, masih terdapat indeks lainnya yakni
  1. IDX30
  2. IDX Quality30
  3. IDX Value30
  4. IDX Growth30
  5. Indeks Saham Syariah Indonesia atau ISSI
  6. JII70
  7. IDX SMC Composite
  8. IDX SMC Liquid
  9. KOMPAS100
  10. BISNIS-27
  11. MNC36
  12. Investor33
  13. Infobank15
  14. SMinfra18
  15. SRI-KEHATI
  16. PEFINDO25
  17. PEFINDO i-Grade
  18. Indeks Papan Utama
  19. Indeks Papan Pengembangan
  20. Indeks Sektor Pertanian
  21. Indeks Sektor Pertambangan
  22. Indeks Sektor Industri dasar dan Kimia
  23. Indeks Sektor Aneka Industri
  24. Indeks Sektor Industri Barang Konsumsi
  25. Indeks Sektor Properti, Real Estat, dan Konstruksi Bangunan
  26. Indeks Sektor Infrastruktur, Utilitas, dan Transportasi
  27. Indeks Sektor Keuangan
  28. Indeks Sektor Perdagangan, Jasa, dan Investasi
  29. Indeks Sektor manufaktur

Harga Saham

Harga saham adalah sebuah harga yang tertera pada setiap saham yang ditentukan berdasarkan aktivitas pasar saham itu sendiri. Dimana dalam kegiatan pasar saham terdapat aktifitas jual dan beli antar investor, sehingga menghasilkan harga saham yang bersifat dinamis (berubah sewaktu-waktu selama pasar masih terbuka).

Harga setiap saham berbeda-beda, dimana harga saham dapat dijadikan acuan terkait dengan sentimen pasar atas saham itu sendiri.

Jika harga sebuah saham mengalami kenaikan yang tajam, hal ini bisa diartikan adanya sentimen positif di market yang memiliki pengaruh terhadap kinerja perusahaan dimasa mendatang.

Namun sebaliknya, jika terjadi penurunan harga yang dalam bisa diartikan bahwa ada sentimen negatif yang membuat para investor menjual saham tersebut secara besar-besaran.

Harga setiap saham yang berbeda memiliki fraksi sendiri, dimana kenaikan satu tick bisa berbeda antara harga saham yang berada di bawah 200 dengan yang diatas 1.000.

Fraksi harga dibuat salah satu tujuannya adalah untuk mengurangi volatilitas pergerakan harga saham di pasar modal serta untuk meningkatkan partisipasi investor ritel karena harga menjadi lebih terjangkau dan likuid.


Fraksi Harga Saham

Fraksi harga saham adalah batasan rentang perubahan harga saham yang menjadi pedoman dalam aki tawar menawar diantara para investor.

Memahami fraksi harga saham sama pentingnya dengan mengerti analisa sebuah saham. Hal ini tentu bertujuan agar anda tidak ngawur dalam entry harga saham.

Karena jika anda ngawur, maka entry harga yang anda tentukan akan ditolak oleh sistem.

Selain itu anda bisa memanfaatkan momentum ketika sebuah saham berada di batas atas satu fraksi harga untuk masuk ke fraksi harga selanjutnya.

Jika hal ini bisa dimanfaatkan dengan baik, anda bisa mendapatkan profit dari sekedar naik 1 tick harga saja.

Fraksi harga sendiri dibagi kedalam 5 bagian, dimana pada masing-masing fraksi ada ketentuan kenaikan harga satu tick serta batasan maksimal kenaikan.

Berikut pembagian fraksi harga saham


Kurang lebih begini, jika anda hendak entri saham yang harganya berada kurang dari 200, maka anda bisa entry di harga berapapun selama masih dalam rentang harga pada hari itu.

Misalkan di market harga saham APLN adalah 124 sebagai Bid dan 125 sebagai Offer, maka anda bisa pasang antrian beli atau jual di harga 123, 124, 125, 126, 127, dst.

Kenaikan satu tick dari harga sebelumnya adalah Rp 1.

Berbeda jika anda akan membeli saham AKRA di harga 3400, dimana harga tersebut masuk ke fraksi ke tiga yakni 2.000 < 5.000 dengna kenaikan dan penurunan satu tick selalu Rp 10.

Jadi anda hanya bisa pasang Bid atau Offer di 3380, 3390, 3400, 3410, 3420, dst.

Hal ini juga berlaku pada fraksi harga lainnya, mengikuti ketentuan diatas.

Dengan memahami fraksi harga ini, anda akan mendapati sebuah peluang yang bisa menjadi advantage bagi trading anda.

Tips ini rahasia loh ya, cukup kita aja yang tahu

Sebagai contoh : Anda membeli saham PWON pada harga 488 per lembarnya, dengan target harga di 520 karena ada resisten kuat di 530. Itu artinya ada potensi reward sebesar 6%.

Beberapa hari kemudian, harga bergerak persis di angka 500 per lembar, maka dengan ini anda sudah mendapati gain sebesar 2,4%. Kemudian di sesi ke II, harga PWON naik satu tick, yakni menjadi 505.

Kenapa tidak jadi 502? Ya karena sudah masuk ke fraksi saham selanjutnya.

Jadi dengan kenaik satu tick yang sebesar Rp 5 itu, floating profit anda bergerak naik menjadi 3,4%.

Akan berbeda jika kenaikan satu tick hanya Rp 2, jika demikian maka kenaikan floating profit anda hanya menjadi 2,87%.

Terdapat selisih 0,5% kan? 

Sedikit? jelas, tapi semakin banyak saham yang anda miliki dan semakin rendah harga beli anda, perbedaannya akan semakin besar.

Hal sepele seperti ini jarang sekali diperhatikan oleh trader, namun jika mampu memanfaatkannya dengan baik, maka bisa meningkatkan persentase keuntungan anda.

Faktor Yang Mempengaruhi Harga Saham

Jika anda seringkali memperhatikan bagaimana harga sebuah saham bergerak, mungkin anda akan pusing karena seringkali tebakan kita salah.

Saat kita memutuskan untuk beli, ternyata keesokan harinya harga bergerak turun alias berlawanan dengan prediksi kita.

Namun disaat kita memutuskan untuk hold, ternyata harga bergerak turun juga, bahkan menambah tinggi potensi loss kita.

Anehnya, saat dijual harga malah bergerak naik. Kan asemmm.....

Siapapun yang baru pertama kali di bursa saham akan mengalami hal tersebut, dan itu tidaklah aneh bagi mereka yang sudah lama dan paham akan pergerakan harga saham.

Secara teknis berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi harga saham, dan ini bisa anda jadikan panduan untuk memprediksi pergerakan harga selanjutnya.

Faktor-faktor berikut ini tidaklah mutlak, namun seringkali ketika keluar infonya, harga saham sangat sensitif dan segera meresponnya.

1. Kinerja Fundamental

Kinerja fundamental perusahaan tentu memiiki pengaruh kuat atas pergerakan harga saham, namun tentunya memiliki batas waktu efeknya.

Meski begitu, jika kinerja keuangan perusahaan bagus dan proyeksi masa depan cerah dengan adanya produk baru atau perbaikan lainnya yang sangat erat kaitannya dengan bisnis utamanya, efek ini akan cenderung lebih lama mempengaruhi harga saham.

Pertumbuhan laba QoQ sangat penting sekali, karena hal ini memiliki arti bahwa jika dalam 4 kuartal kedepan laba dari kuartal pada kuartal berikutnya tumbuh, maka sudah bisa dipastikan laba tahunan akan tumbuh dengan baik.

Dan ini tentunya adalah sinyal yang baik bagi para investor, karena pertumbuhan laba adalah satu poin penting dalam mengukur potensi atas investasi pada saham tersebut.

Namun pertumbuhan laba YoY juga tetap patut diperhatikan.

Karena hal ini juga memberikan tanda bahwa laba yang dihasilkan saat ini lebih baik dari laba tahun sebelumnya pada kuartal yang sama yang berarti bisnis perusahaan tumbuh.

Meski begitu, anda tetap harus memperhatikan asal laba tersebut.

Jangan asal nylonong saja.

Yang penting laba tumbuh tinggi, langsung sikat aja.

Asal laba itu jauh lebih penting dari laba itu sendiri.

Percuma laba tinggi jika bukan berasal dari lini bisnis utamanya.

Misal dari hasil penjualan aset, atau laba forex (kurs).

Jika anda menemukan saham yang memiliki pertumbuhan laba bagus, sebaiknya cek dahulu darimana asal labar tersebut.

Dan bisa hasilnya ada dari bisnis utama emiten, anda tinggal cek komponen fundamental lainnya, seperti ROE, DER, Valuasinya dan poin lainnya sesuai gaya investasi anda.

Kinerja fundamental itu tidak akan membohongi anda, karena nantinya suka tidak suka harga saham akan mengikuti kinerja emiten itu sendiri.

Namun sentimen akan sangat terasa jika report kinerja kuartalan baru keluar dan hasilnya Boomm... sangat bagus fundamental dan labanya, biasanya harga sahamnya akan segera naik tinggi karena banyak investor yang berebut.

Tapi jika anda menemukan saham dengan fundamental dan laba bersih dengan pertumbuhan yang sangat baik, dan harga sahamnya slow-slow saja, perdalam laporan keuangannya, jangan-jangan ada sesuatu didalamnya.


2. Kebijakan Pemerintah

Poin ini sangat penting untuk diperhatikan, namun seringkali diabaikan oleh para pemula.

Kebijakan pemerintah sangatlah besar pengaruhnya.

Sebagai contoh ditahun 2014 saat Presiden Jokowi berhasil memenangkan pemilu saat itu dengan janji akan membangun infrastruktur secara masiv, maka sudah bisa ditebak harga saham emiten konstruksi naik dengan sangat drastis.

Mereka bergerak uptrend seperti tanpa ada remnya.

Ini adalah Game changer namanya.

Atau semisal, genderang perang dagang didengungkan oleh Trump pada Cina.

Bursa saham seluruh dunia merespon negatif, yang pada akhirnya banyak saham bertumbagan, tidak peduli apakah itu saham bagus atau gorengan.

Semua turun.

3. Sentimen

Hampir sama dengan poin kedua, namun untuk yang ini lebih luas.

Sentimen bisa berasal dari dalam negeri, ataupun luar negeri.

Bisa berasal dari dalam emiten itu sendiri, atau bisa juga berasal dari sektor bisnisnya.

Kemampun anda dalam memahami sektor bisnis dan segala sesuatu yang dapat mempengaruhi masa depan emiten sangatlah penting.

Hal ini dikarenakan dengan kemampuan tersebut, anda bisa mendapatkan momentum yang cukup bagus dan dapat memberikan pengaruh positif pada pertumbuhan protofolio anda.

Sayangnya sentimen seringkali "dikeluarkan" setelah bursa tutup.

Entah disengaja atau tidak, memanglah demikian yang seringkali terjadi.

Nah, disinilah kemampuan anda diperlukan. Apakah sentimen tersebut berefek positif bagi emiten dan harga sahamnya, atau sebaliknya.

Dengan begitu anda dapat segera mengambil keputusan yang efektif.

4. Aksi Korporasi

Aksi Korporasi adalah faktor berikutnya yang dapat mempengaruhi harga saham.

Ada banyak macam aksi korporasi yang akan dibahas dilain artikel, seperti Right Issue, Stock Split dan lain sebagainya.

Seringkali aksi korporasi ini membuat harga saham bergejolak.

Seperti, info Right Issue (RI) sudah tersebar dikalangan para investor dimana harga tebus berada dibawah harga market saat ini.

Ini tentu menjadi sentimen negatif.

Darimana info harga tebus dibawah harga market didapat?

Biasanya dihitung dari target dana yang dihimpun dengan harga saham yang akan dilepas.

Memang hal ini penting, namun info RI yang tidak tahu kapan pelaksanaannya akan membuat harga saham tidak jelas, karena investor menganggap tidak menarik.

Berbeda halnya jika RI dilaksanakan dalam waktu dekat dan rencana RI telah disetujui oleh BEI.

Maka akan kelihatan apakah RI tersebut menarik atau tidak, siapa dibelakang rencana RI tersebut? Untuk apa dananya nanti? Siapa pemiliki perusahaan tersebut (holding)?

Bagaimana strategi untuk aksi korporasi saham? tidak akan dibahas disini.

Intinya adalah, anda harus mengetahui hal-hal diatas agar ketika terjadi pergerakan harga yang begitu signifikan, anda sudah mengetahui apa penyebabnya, dan harus bagaimana selanjutnya.

Semoga bermanfaat.