Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Harga Kontrak CPO Malaysia Mendekati RM 3000/Ton, Bagaimana Harga Saham CPO?

 harga cpo dunia mengalami kenaikan

Blogsaham.com - Harga kontrak CPO Malaysia mengalami kenaik yang signifikan selama masa pandemi COVID-19, hal ini dipicuc karena adanya lockdown sehingga produksi CPO di Malaysia menglami gangguan yang mengakibatkan pasokan Minyak CPO dunia makin menipis.

Sayangnya kenaikan harga CPO dunia belum diikuti oleh harga saham Agrikultur seperti AALI, LSIP, TBLA dan lainnya, sehingga dengan ini ada potensi kenaikan harga yang cukup besar mengingat sejak penurunan yang dalam, harga saham CPO belumlah mengalami kenaikan yang tinggi.


Harga CPO Dunia Menguat

Banyaknya TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang dideportasi dari Malaysia dan dibarengi dengan adanya lockdown membuat pasokan CPO Malaysia terganggu, tentu hal ini baik untuk Indonesia sendiri.

Sentimen ini seharusnya bisa membuat harga saham Agrikultur dapat menguat dengan kenaikan yang moderat.

Komoditi diyakini menjadi sektor yang tidak banyak terganggu oleh adanya aktifitas PSBB atau Lockdown, terutama di Indonesia.

Mengingat aktifitas perusahaan tersebut berada di wilayah luar perkotaan dan cenderung tidak tersentuh efek PSBB.

Hal ini dikarenakan posisi aktifitas perusahaan berada di Sumatera dan Kalimantan, dimana aktifitas PSBB masih mayoritas dijalankan di wilayah Jawa, sehingga diyakini tidak akan memberikan dampak negatif.

Namun sayangnya, meski harga CPO dunia mengalami kenaikan yang cukup tinggi, harga saham CPO di IHSG belumah signifikan, meski beberapa diantaranya sudah berada dalam fase uptrend.

grafik harga cpo dunia
investing.com

Dalam setahun terakhir, harga CPO sudah kembali menguat mendekati harga RM 3000/Ton dimana level tersebut adalah resisten kuat.

Resisten ini muncul setelah pada akhir tahun 2019 silam harga CPO menguat hingga ke level RM 3100/Ton namun kemudian melemah.

Titik ini juga menjadi resisten psikologi yang apabila tertembus dapat membuat harga CPO kembali bergairah.

Sentimen selanjutnya adalah program Biodiesel atau B30 yang dicanangkan oleh pemerintah dalam Program Mandatori mulai mendapatkan apresiasi dari banyak negara.

Hal ini tentu menjadi kabar baik jika kemudian banyak negara mengadopsi program tersebut untuk memerangi polusi udara dan ketergantungan akan minyak mentah.

Namun sayangnya, masih banyak saham sektor Agrikultur yang belum naik banyak, dan ini tentunya menjadi peluang bagi kita sebagai investor atau trader di BEI.

Harga Saham Sektor Agrikultur

Berikut adalah chart saham-saham Agrikultur dan harga kontrak CPO Malaysia

grafik harga saham cpo
Investing.com

Perhatikan chart diatas, data selama setahun terakhir menunjukkan bahwa harga CPO sudah naik tinggi namnun harga saham CPO belum juga banyak beranjak.

Jika mengamati pergerakan harga saham pada akhir 2019 dimana harga CPO beregerak mendekati level RM 3000/Ton, saham-saham CPO sudah turut naik tinggi, dan itu sejalan.

Namun kini yang terjadi cukup unik, dan ini menjadi peluang yang cukup potensial.

Sebagai contoh, pada 2019 silam harga LSIP mampu menyentuh level 1490 sebelum kemudian turun sampai saat ini diharag 1.010.

AALI sendiri pada masa yang sama berada di harga Rp 14.675 per lembarnya, dan kini sedang di hargai Rp 11.025.

TBLA saat ini dihargai Rp 790, dan pada saat itu harganya menyentuh level Rp 1.010, sedangkan BWPT sendiri pernah menyentuh level Rp 171 diawal tahun 2020 yang kini bertengger di harga Rp 110.

Secara sederhana, masih ada potensi penguatan untuk saham-saham sektor ini. Hanya saja yang perlu kita lakukan adalah mencari saham mana yang fundamentalnya terbaik dalam sektor tersebut.

Namun pilihan yang paling menarik untuk sektor ini ada pada LSIP dan TBLA, mengingat potensi Upsidenya yang paling tinggi dibandingkan yang lainnya.

Selain itu fundamental keduanya juga tidak perlu diragukan, sehingga pergerakan harganya juga akan stabil dan kuat dalam uptrendnya.