Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sentimen Positif Nilai Tukar Rupiah

nilai tukar rupiah

Sebagaimana kita ketahui, nilai tukar rupiah menjadi sentimen terbaik dan terburuk saat ini bagi pergerakan IHSG. Hal ini dikarenakan masih tingginya penggunaan mata uang Paman Sam tersebut dalam transaksi baik oleh perusahaan maupun pemerintah dalam menjalankan roda pembangunan di dalam negeri.


Nilai Tukar Rupiah Menguat Terhadap Dolar

Masifnya pembangunan infrastruktur sejak masa pemerintahan Presiden Jokowi menimbulkan banyak aktifitas impor yang cenderung meningkat untuk barang yang tidak diproduksi di dalam negeri atau barang yang harganya lebih murah dibandingkan produksi dalam negeri.

Selain itu, kecenderungan utang luar negeri pemerintah Indonesia yang terus menanjak dari tahun ke tahun meningkatkan resiko default pada keuangan negera. Dan ini tentu tidak bagus untuk kedepannya.

Ditambah lagi munculnya virus Corona di awal tahun 2020 yang memporak-porandakan perekonomian Indonesia dan dunia, menambah tinggi resiko atas utang luar negeri tersebut.

Pergerakan nilai tukar rupiah yang begitu volatile di masa pandemi hingga mencapai titik tertingginya di Rp 16.640/USD membuat banyak emiten di bursa bakal kelimpungan terutama yang bisnis mereka mayoritas bahan bakunya impor serta mereka yang memiliki eksposur utang luar negeri yang cukup tinggi.

Hal ini menambah potensi kerugian atau penurunan pendapatan emiten di kuartal II 2020, dan hasilnya sudah tertebak.

Namun kini, rupiah kembali stabil seperti pada saat sebelum masa pandemi, yakni rupiah bertengger 14.000-14.2000 per USD.

Kecenderungan pergerakan nilai tukar yang stabil membuat emiten akan berbenah dan ini tentu bagus bagi mereka yang memiliki utang berupa dollar, dan membuat perencanaan bisnis dapat dijalankan kembali.

Dengan menguatnya rupiah, akan berdampak pada laporan keuangan emiten yang memiliki transaksi utang dollar, karena mereka akan mengalami untung kurs mata uang.

Ini memang bukanlah keuntungan sebenarnya dan kurang bagus bagi pertumbuhan bisnis emiten, namun karena nilai tukar memiliki peranan peting dalam proses bisnis mereka, maka sentimen penguatan rupiah terasa positif dampaknya pada pergerakan saham dan laporan keuangan mereka nantinya.

pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar
investing.com


Suku Bunga Acuan BI Dipangkas

Di perkirakan, emiten yang memiliki utang dollar akan mencatatkan keuntungan kurs pada kuartal III 2020 ini, dan ini sudah diperkirakan sebelumnya oleh para investor.

Apakah sentimen ini sudah berakhir?

Secara umum memang iya, namun bagi sektor properti dan konstruksi, jelas belum berakhir.

Hal ini dikarenakan dengan menguatnya rupiah membuat Bank Indonesia (BI) berani memangkas suku bunga acuan dalam negeri dengan tujuan sebagai penggerak roda perekonomian dimana diharapkan bunga kredit dapat turun dan meningkatkan penyaluran kredit pada sektor riil.

Penurunan tersebut akan menjadi katalis positif tambahan bagi kedua sektor tersebut. Sehingga pergerakan harga saham akan mengalami uptrend dalam jangka menengah.

Jika saat ini anda baru masuk ke dalam saham-saham properti dan konstruksi, sepertinya anda ketinggalan kereta, tapi tidaklah jauh-jauh amat.

Tunggulah koreksi dalam beberapa hari mendatang lalu bersiaplah untuk Buy On Weaknes.

Diyakini di tahun 2021 dengan terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden AS, akan membuat bursa-bursa Emerging Market tumbuh, hal ini dikarenakan kebijakan Joe Biden yang berbanding terbalik dengan Donald Trump.

Selain itu, dengan banyaknya stimulus yang dikeluarkan oleh pemerintah serta mulai banyaknya vaksin yang di uji coba membuat wajah perekonomian Indonesia dan Dunia dapat kembali sumringah.

Para analis meyakini di tahun 2021 nanti, IHSG dapat kembali ke area 6000 dan berpotensi mendekati All Time High nya di 7000an.

Dan ini artinya Bull Will Come, dan menghasilkan keuntungan akan begitu mudah sekali dengan strategi investasi yang biasa-biasa saja.