Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Belajar Investasi Jangka Panjang Bagi Pemula

belajar investasi jangka panjang

Investasi jangka panjang seringkali diibaratkan menggenggam sejumlah saham dengan kualitas fundamental jempolan dalam kurun waktu lebih dari 1 tahun, atau bahkan selamanya. Namun pernahkah anda berfikir bahwa dalam time horizon tersebut anda bisa memaksimalkan pertumbuhan portofolio tanpa harus menunggu selama itu.

Pemilihan time horizon seharusnya tidak memaksa atau mematok seorang investor dalam menggenggam saham dalam kurun waktu tertentu, karena hal itu bisa menjadi bias.

Mengapa demikian?

Jika anda mematok untuk memegang saham UNVR selama 3 tahun kedepan, apakah ada jaminan bahwa selama kurun waktu tersebut harga saham UNVR naik? atau jangan-jangan terjadi sesuatu yang menyebabkan terjadinya kerugian investasi anda dikemudian hari.

Dalam artikel ini akan dibahas mengenai hal-hal tentang belajar investasi dalam jangka panjang dalam perspektif yang lebih dinamis, sehingga bisa diaplikasikan dalam banyak kondisi.


Belajar Investasi Jangka Panjang

Pemilihan Time Horizon

Time Horizon atau biasa kita kenal sebagai Time Frame adalah pemilihan jangka waktu kita dalam menggenggam saham yang telah kita beli.

Tidak ada aturan baku atau yang memiliki akurasi 100% untuk hal ini. Seperti halnya anda menjalin hubungan dengan seorang kekasih, tidak ada kepastian seberapa lama hubungan anda bisa bertahan.

Anda boleh-boleh saja diawal mematok akan menyimpan saham HMSP selama 3 tahun kedepan, atau saham ICBP 5 tahun lagi, dan seterusnya.

Namun apakah anda bisa menjamin kalau anda 
  • Benar-benar menjalankan pilihan tersebut
  • Memiliki peluang menghasilkan return positif
  • Konsisten dengan pilihan anda
Konsep utama dalam bursa saham adalah ketidakpastian. Dimana semua yang ada di bursa itu sifatnya tidak pasti, sehingga tidak dapat diukur dengan kurun waktu tertentu sesuai kehendak kita.

Maka penggunaan time frame yang tertentu seperti contoh diatas kuranglah relevan. Hal ini berdasarkan banyaknya emiten yang terlihat bagus diawal (saat analisa) namun dikemudian hari terjadi masalah.

Contoh saja, pada 2015 anda memilih AISA (perusahaan beras dan makanan ringan) yang menjadi jagoan anda di sektor konsumer selain UNVR. Dengan alasan merek dari produk AISA sudah banyak dikenal, dan banyak bertebaran di minimarket dan supermarket. Sehingga dari sisi kekuatan brand, mereka sudah cukup kuat.

Kedua, secara fundamental, ROE yang dihasilkan oleh AISA ini tergolong bagus yakni direntang 10-15% dan konsisten selama beberapa tahun kebelakang. Hal ini kemudian melatar belakangi penilaian anda bahwa AISA adalah perusahaan yang sehat dan profitabel.

Tentu itu tidaklah salah, dan analisa anda benar.

Namun yang menjadi masalah adalah disaat anda memutuskan menggenggam saham AISA 5 tahun kedepan karena meyakini bahwa kinerja 5 tahun kebelakang yang bagus.

Penentuan tersebut bersifat kaku, dan memungkinkan psikologis anda mengalami bias, dimana disaat harga saham terperosok namun anda menyangkalnya dengan "nanti juga balik lagi, toh ini perusahaan sehat dan bagus".

Tapi bagaimana dengan gambar berikut

saham aisa
Sumber : Tradingview


Ditahun 2015 bursa sedang mengalami koreksi yang lumayan dan mengakibatkan mayoritas saham mengalami penurunan, tidak terkecuali AISA ini.

Pada saat itu memang menjadi peluang bagi siapapun, namun jika kemudian membuat anda meyakini dan memegang erat AISA 5 tahun kedepan, maka yang akan anda dapatkan adalah kerugian yang fatal.

Pada dasarnya tidak masalah jika menentukan time frame yang baku seperti 1 tahun, 3 tahun, 5 tahun, atau bahkan 10 tahun. Namun peluang anda untuk mendapatkan keuntungan dapat mengecil dan itu jelas tidak sesuai visi misi para investor saham.

Maka dari itu, time frame harus dibuat se fleksibel mungkin, tidak peduli berapa lama (bulan atau tahun) anda harus menggenggamnya, selama bisnisnya berjalan baik, terus mencetak laba dan tumbuh, pihak manajemen pro investor, maka selama itu pula anda layak menggenggamnya.

Karena ada kemungkinan saat anda baru menggenggam 4 bulan, kinerja fundamental perusahaan tersebut jeblok dikarenakan pihak manajemen yang kurang bagus, atau karena faktor eksternal.

Poin utama dalam memilih time frame atau time horizon adalah kinerja fundamental perusahaan tersebut, selama masih ok dan terus tumbuh, berarti masih layak untuk didekap erat.
 

Metode yang dipilih

Dalam analisa fundamental, ada banyak sekali aliran, dan ini tentu akan membuat anda semakin pusing dalam menentukan saham seperti apa yang layak dibeli.

Ada investor yang mensyaratkan PER harus dibawah 10 dengan dikombinasikan PBV dibawah 1, ada pula yang menggunakan metode DCF (Discount Cash Flow), ada juga yang menggunakan perhitungan EBITDA dan lain sebagainya.

Semuanya tidak 100% benar, dan tidak salah. Mereka memiliki alasan dan peluang keberhasilannya sendiri. Anda tinggal mencari mana yang cocok dengan karakter dan profil risiko anda sendiri.

Saran saya dalam menggunakan analisa fundamental adalah perbanyak analisa kualitatif seperti GCG peusahaan, potensi pendapatan dari upaya korporasi, perkembangan politik dan ekonomi dalam negeri dan luar negeri, dan masih banyak lagi.

Sedangkan dalam analisa kuantitatif (laporan keuangan), gunakan seperlunya saja. Kenapa demikian?

Analisa kuantitatif atau lebih condong pada analisa laporan keuangan dengan banyak melibatkan angka-angka itu tidak dapat memprediksi potensi bisnis perusahaan dimasa mendatang.

Apalagi dengan kecanggihan teknologi informasi seperti sekarang, metode tersebut sudah tidak banyak berguna.

Berbeda halnya jika anda lebih mendalami pada analisa kualitatif, maka anda bisa memproyeksikan kemana arah perusahaan ini akan dibawa.

Semisal, ada saham yang suka Right Issue dengan beragam prospektus namun kinerja fundamental yang pas-pasan, tetapi RI nya rame.

Atau ada berita yang menyatakan bahwa saham BCDE sedang mengalami masalah dengan REPO nya.

Hal ini tidak ada didalam laporan keuangan, dan tidak bisa dijangkau menggunakan analisa kuantitatif semata.

Maka dari itu mulai perbanyak kemampuan analisa pada GCG perusahaan, aksi korporasi, perkembangan ekonomi politik, kebijakan atau regulasi pemerintah, isu yang berkembang, perkembangan sektor industri dan masih banyak lagi.

Dengan begini, anda akan lebih mudah dalam memproyeksikan masa depan perusahaan baik dari sisi fundamentalnya maupun harga sahamnya.

Kapan Saat yang Tepat Untuk Membeli dan Menjual

Masalah ini adalah soal momentum saja, anda bisa membeli saham tersebut saat kinerjanya baik-baik saja namun karena bursa sedang koreksi, harga sahamnya turun.

Atau saat terjadi pandemi, krisis, resesi, perang dunia dan peristiwa besar lainnya yang mengguncang bursa dunia.

Itu adalah momentum beli yang tepat.

Sedangkan momentum jualnya adalah disaat anda merasakan kenaikan yang sudah sangat tinggi namun kinerja perusahaan diperkirakan mulai melandai di kuartal ini.

Atau anda bisa menggunakan patokan valuasi sederhana seperit PER dan PBV.

Jika anda ingin dapat membeli dan menjual saham di saat yang tepat, maka anda wajib memiliki jam terbang yang cukup dan sudah terbiasa dengan kondisi apapun, sehingga dapat melihat peluang untuk membeli atau menjual.

Saham Seperti Apa yang Harus diincar dan dihindari

Beberapa investor senior memberikan panduan dalam menentukan kriteria saham seperti apa yang sebaiknya untuk dibeli dan dihindari.

Sayangnya, tidak semua memiliki kesamaan. Akan tetapi secara garis besar mereka akan menghindari saham gorengan dan saham busuk (fundamental dan bisnisnya jelek).

Sedangkan untuk kriteria saham seperti apa yang layak diincar, ada banyak perbedaan. Namun kami akan memberikan panduan termudah yang bisa anda praktekan.

Berikut adalah kriteria saham yang layak diincar
  1. Pendapatan dan laba bersih tumbuh dan sejalan QoQ dan YoY
  2. Sektor bisnisnya mudah dipahami
  3. Jika sektornya adalah komoditas, selalu perhatikan perkembangan harga komoditas tersebut
  4. Cermati perkembangan utang perusahaan
  5. Adakah regulasi pemerintah yang mendukung atau menghambat sektor industri dari saham tersebut
  6. Isu terkini yang berkaitan dengan sektor industri atau emiten itu sendiri

Membuat Perencanaan Investasi

Jika anda sudah mendapatkan saham apa saja yang akan anda beli, maka langkah yang harus anda buat sebelum membelinya adalah membuat perencanaan.

Berikut adalah item-item yang harus anda buat perencanaannya agar selama proses investasi berjalan, tidak keluar dari koridor yang sudah ditentukan.
  • Pada kondisi seperti apa anda akan mulai membeli saham tersebut
  • Berapa jumlah dana yang anda siapkan
  • Berapa target harga yang anda tentukan
  • Pada kondisi seperti apa anda harus keluar dari saham tersebut sebelum target tercapai
Dengan mempertimbangkan aspek-aspek tersebut, selanjutnya anda harus disiplin dengan apa yang sudah direncanakan sebelumnya, sehingga potensi return anda bisa optimal.

Evaluasi

Ini adalah bagian yang seringkali dilupakan oleh para investor, terutama saat mereka meraih keuntungan.

Evaluasi berperan untuk mengetahui kelemahan, keunggulan dan kesalahan dari sebuah kegiatan investasi.

Dengan evaluasi yang benar, maka investasi kita selanjutnya akan menghasilkan keuntungan yang optimal dan berpengaruh positif pada perkembangan portofolio.