Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cara Menghitung Valuasi Saham dan Metodenya

valuasi saham

Cara menghitung valuasi saham pada dasarnya tidaklah sulit, namun karena banyaknya metode valuasi membuat para investor bingung sebaiknya pakai yang mana. 

Dalam menghitung valuasi sebuah saham, sebaiknya anda menggunakan yang paling simpel dan tidak banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor yang membingungkan, sehingga anda bisa mendapatkan hasil yang maksimal dari cara menghitung valuasi saham tersebut.

Mungkin bagi para investor pemula, metode valuasi ini sangat membingungkan, karena seringkali mendapati saham bagus atapi valuasinya mahal. Atau ada saham dengan valuasi yang murah tapi harga sahamnya tidak bergerak sama sekali.

Untuk itu, yang perlu anda ketahui adalah valuasi saham itu tidak menunjukan seberapa potensialnya harga sebuah saham dimasa mendatang, namun menunjukan seberapa menariknya saham tersebut saat ini.

Pengertian Valuasi Saham

Valuasi saham adalah sebuah proses penaksiran, perhitungan, prediksi atau estimasi atas sebuah aset pada harga saham. Secara mudahnya valuasi saham adalah upaya untuk mengetahui nilai (value) dari sebuah aset.

Setiap aset sudah pasti memiliki value, dan value ini yang menentukan apakah aset tersebut bernilai bagus atau jelek.

Untuk itu, valuasi merupakan langkah awal untuk menentukan apakah sebuah aset layak untuk dibeli atau tidak.

Dalam investasi saham, anda sudah pasti sering mendengar tentang valuasi saham dan metode apa saja yang digunakan didalamnya agar sebuah value dari suatu saham dapat ditemukan.

Hanya saja, ketika menggunakan semua metode dalam satu saham, hasil yang didapatkan tidaklah sama persis atau mendekati, bahkan ada yang bertolak belakang.

Hal ini bukan dikarenakan saham itu jelek atau perhitungan anda yang buruk, melainkan faktor-faktor apa saja yang digunakan dalam metode valuasi tersebut.

Faktor-faktor perhitungan itulah yang akan menjadikan hasil berbeda, dan tentu ini tidak menunjukan saham tersebut jelek. Anda harus bisa mengkombinasikan satu sama lainnya.

Atau jika tidak, anda cukup menggunakan satu atau dau metode yang cukup relevan dengan pandangan anda terhadap sebuah saham.

Untuk itu, berikut ini adalah macam-macam cara menghitung valuasi saham yang harus anda ketahui agar anda tidak terjebak dalam perdebatan yang tidak menguntungkan tenteng metode valuasi mana yang paling bagus.

Metode Valuasi Saham yang Biasa Dipakai

Ada banyak sekali metode valuasi saham, namun beberapa metode berikut ini adalah yang paling sering dipakai, terutama oleh para investor di Indonesia.

Tidak ada preferensi khusus, namun masing-masing metode memiliki kelebihan tersendiri dan salah satunya adalah mudah digunakan.

Price Earning Ratio (PER)

Price Earning Ratio atau biasa kita kenal sebagai PER merupakan salah satu metode paling populer karena paling mudah dalam penggunaannya.

Sehingga dalam beberapa aplikasi trading yang memberikan angka-angka fundamental seringklai mencantumkan nilai PER dari saham tersebut.

PER sendiri merupakan pembagian antara harga saham dengan EPS (earning per saham). Metode ini sangat populer karena kemudahannya dalam penggunaan.

Seorang investor dapat dengan mudah menggunakan metode ini asal ia tahu dan hafal berapa EPS dari sebuah saham dan harga saham terakhir.

Maka dengan mengethaui dua komponen penting tersebut, ia sudah tahu apakah saham tersebut saat ini sedang undervalue atau overvalue.

Price Book Value (PBV)

PBV atau Price Book Value merupakan metode valuasi saham berdasarkan pada nilai ekuitas perusahaan per lembar saham. Hal ini dinilai lebih baik dan konservatif dibandingkan menggunakan PER yang cenderung menilai kinerja perusahaan.

Mengapa demikian?

Disaat market sedang crash, maka mayoritas emiten sedang mengalami penurunan kinerja, sehingga secara langsung berdampak pada PER.

Dengan begitu PER menjadi kurang atraktif karena laba bersih perusahaan yang mengecil mengakibatkan nilai PER yang membumbung tinggi, sehingga dinilai overvalue alias mahal.

Meski pada kenyataannya tidak bisa diambil kesimpulan demikian, namun faktanya memang saham tersebut dianggap mahal.

Berbeda halnya dengan PBV yang menitikberatkan pada ekuitas perusahaan.

Ketika PBV berada di bawah 1x, maka anda membeli saham tersebut dibawah nilai ekuitas perusahaan per lembar saham.

Sebagai contoh, apabila anda menemukan saham dengan nilai PBV 0,7 kali, maka sebenarnya anda membeli saham perusahaan tersebut pada harga 70% dari harga ekuitas per lembar. Sehingga bisa dikatakan anda mendapatkan diskon senilai 30%.

Dengan begitu, semakin kecil nilai PBV maka semakin besar diskon yang anda dapatkan.

Penggunaan valuasi PBV yang paling bagus adalah pada saat market koreksi dalam atau crash, karena anda akan mendapatkan saham bagus dengan harga dibawah nilai ekuitas perusahaan.

Sehingga diskon yang anda dapatkan benar-benar diskon dan bukan barang sampah yang berserakan di pasar.

Price to Cash Flow (PCRF)

Metode ini dan metode-metode berikutnya ini kalah populer dengan dua metode diatas, namun sebenarnya bisa digunakan untuk memberikan tambahan informasi karena masing-masing metode menggunakan faktor perhitungan yang berbeda.

PCRF ini fokus pada penghitungan cash flow yang dihasilkan perusahaan. Sehingga metode valuasi ini dapat dikombinasikan dengan metode valuasi lainnya.

Metode ini lebih fokus pada seberapa beraninya seorang investor membayar sebuah perusahaan untuk setiap Rp 1 yang dihasilkan.

Misalkan, nilai PCRF saham UNVR adalah 8 kali, itu artinya jika anda berani membeli saham UNVR pada saat itu, artinya anda berani membayar Rp 8 untuk setiap Rp 1 yang dihasilkan perusahaan.

Contoh lainnya, ada toko elektronik, setiap bulannya mereka menghasilkan Rp 500 juta untuk cash flow, dan anda menawar untuk membeli toko tersebut.

Sang pemilik memberikan harga Rp 3,5 miliar kepada anda jika ingin memiliki toko tersebut beserta seluruh tempat dan tanah yang ada.

Itu artinya dengan harga jual sebesar itu, maka nilai PCRF yang dihasilkan adalah 3,5 : 0,5 maka hasilnya 7 kali.

Maka ketika anda tetap ingin membelinya, anda harus siap membayar Rp 7 untuk setiap Rp 1 yang dihasilkan toko tersebut.

Discount Cash Flow (DCF)

DCF itu merupakan metode valuasi yang digunakan untuk memperikarakan future value  dari sebuah cash flow yang ada pada saat ini atau present value.

Perbedaan DCF dengan PCRF adalah jika DCF digunakan untuk memperkirakan nilai cash flow dimasa mendatang, sedangkan PCRF digunakan untuk mengukur seberapa berani kita sebagai investor membayar harga sebuah saham pada saat ini berdasarkan setiap rupiah yang dihasilkan.

Persamaan keduanya terletak pada penggunaan fakto Cash Flow sebagai media utama perhitungan.

Mana yang lebih bagus dari keduanya? tidak ada.

Dua-duanya sama bagusnya, jauh lebih bagus lagi jika anda menggunakan keduanya untuk dikombinasikan.

Namun jika diminta memilih salah satunya, kami secara pribadi memilih PCRF karena dalam perhitungannya tidak terbiaskan oleh faktor-faktor lainnya. Jauh lebih objektif.

Dividen Discount Model (DDM)

Jika sebelumnya menghitung nilai future value dari cash flow emiten, maka metode DDM adalah metode valuasi untuk menghitung nilai dividen dimasa mendatang (futur value).

Metode ini sangat cocok bagi para inestor tipe dividen hunter, sedangkan bagi anda investor yang mengejar capital gain, jangan menggunakan metode ini, karena TIDAK COCOK.

Enterprise Value (EV)

Enterprise Value adalah metode valuasi untuk menimbang secara keseluruhan nilai ekonomi (bisnis) sebuah perusahaan. Atau Enterprise Value adalah nilai kapitalisasi pasar (market cap) ditambah hutang bank dan dikurangi dengan kas perusahaan.

Metode ini biasa digunakan untuk mereka para investor yang menginginkan untuk mengakuisisi sebuah perusahaan. Hal ini dikarenakan dengan menggunakan metode ini, maka valuasi perusahaan sebenarnya setelah hutang dan market kapitalisasi yang dikurangi dengan kas perusahaan akan dihasilkan nilai yang sebenarnya.

Mengapa demikian?

Apabila kita ingin membeli perusahaan (meski satu lembar saja) kita tidak hanya menikmati laba perusahaan saja atau kas yang ada, tapi juga kita juga turut menanggung hutang perusahaan.

Sehingga seringkali kita dengan ada perusahaan ABCD yang melakukan Right Issue untuk mencari pendanaan guna membaya rhutang perusahaan.

Kesimpulan

Semakin banyak metode valuasi yang anda gunakan maka semakin pusing anda nantinya.

Gunakan sesuai kebutuhan anda, tidak perlu yang rumit-rumit, cukup gunakan 1-3 metode valuasi yang bisa saling mendukung.

Karena ketika anda menggunakan metode valuasi yang hasilnya bertolak belakang, bisa membuat keputusan investasi anda tidak maksimal.

Semoga dengna ulasan singkat ini dapat membuat kita mengerti bagaimana seharusnya menggunakan metode valuasi, karena seringkali banyak investor yang terjebak pada masalah valuasi saham dan dijadikan ajang perdebatan.