Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengapa Investasi Saham Merupakan Investasi Jangka Panjang?

investasi saham itu investasi jangka panjang

Ada banyak sekali pertanyaan mengenai investasi saham harus memerlukan jangka waktu yang panjang untuk menghasilkan keuntungan yang optimal. Sedangkan disisi lain, orang-orang menginginkan investasi mereka dapat berbuah dalam waktu yang singkat, sehingga tidak perlu capek menghabiskan waktu dan energi hanya untuk menunggu return.

Ada juga yang mengatakan bahwa mereka memiliki pengalaman, membeli instrumen investasi (non saham secara langsung) dan sudah menunggu selama 9 tahun, namun hasilnya hingga Desember 2020 kemarin, return investasinya sebesar -10%.

Tentu jengkel dong, sudah menunggu lama tapi returnnya jeblok, masih kalah lagi dengan return deposito apalagi obligasi.

Ok, untuk itu, artikel kali ini semoga dapat membantu memperbaiki mindset kita terhadap investasi saham, bukan trading saham.

Jika anda menginginkan keuntungan dalam waktu singkat, sebaiknya lakukan trading saham seperti dalam artikel-artikel kami lainnya.

Apa Itu Investasi Saham

Pada dasarnya, investasi merupakan upaya meningkatkan aset kita dalam jangka panjang tanpa banyak upaya yang harus kita lakukan. Aset tersebut tumbuh dari tahun ke tahun dalam jangka waktu tertentu, meski tidak harus setiap tahun mengalami kenaikan.

Investasi saham sendiri merupakan upaya kita menyertakan modal kita kepada sebuah perusahaan sehingga membuat nama kita masuk dalam jajaran kepemilikan perusahaan sesuai besaran persentase saham yang kita miliki.

Jadi sampai bagian ini sudah kita pahami bahwa investasi saham adalah menyertakan modal kita pada sebuah perusahaan yang membuat kita masuk kedalam jajaran pemilik perusahaan dengan porsi saham sesuai jumlah lembar yang dimiliki.

Maka keuntungan utama yang kita dapatkan dari investasi kita adalah kenaikan aset perusahaan dan laba bersih perusahaan yang dibagikan alias dividen.

Itu adalah dasar utama investasi saham.

Namun karena kita berinvestasinya melalui pasar modal, yang mana saham perusahaan diperjual-belikan secara terbuka, maka kita juga memiliki peluang mendapatkan keuntungan dari capital gain.

Sehingga potensi keuntungan yang akan kita dapatkan itu bersumber dari 3 jenis, yakni pertumbuhan aset perusahaan, dividen, dan capital gain.

Karena investasi yang dilakukan melalui pasar modal, maka mindset investasi terdistrubsi bahwa capital gain menjadi keuntungan utama seorang investor. Faktanya itu adalah pemahaman yang salah.

Selama anda memiliki pemahaman yang seperti demikian, maka anda tidak cocok menjadi investor, melainkan menjadi seorang trader.

Karena basic pemahamannya sudah berbeda.

Jadi jika anda benar-benar komitmen menjadi seorang investor, maka fokus utama anda adalah pada pengembangan bisnis dan aset perusahaan. Hal ini sama seperti yang dilakukan para investor besar atau para Privat Equity.

Mengapa Investasi Saham Harus Jangka Panjang

Karena basisnya adalah pertumbuhan aset dan bisnis perusahaan, maka untuk membangunnya membutuhkan waktu yang lama, tidak bisa terjadi dalam sebulan atau setahun saja.

Maka tidaklah mengeherankan jika banyak investor besar menanamkan dana mereka pada perusahaan dalam jangka waktu yang lama.

Hanya saja, kebanyakan dari kita yang "nyemplung" di bursa saham menginginkan profit dalam waktu singkat, entah itu harian, mingguan, atau beberapa bulan saja.

Kita sudah terbiasa dengan perubahan harga dalam waktu yang cepat, sehingga nilai investasi kita seringkali diperbandingkan dengan pergerakan harga saham itu sendiri.

Makanya tidaklah heran pertanyaan yang seringkali keluar adalah mengapa investasi saham adalah investasi jangka panjang? yang sangat melelahkan dan menguras energi karena melihat portofolio yang naik turun bak rollercoster.

Dari sini saya harap kita semua sudah memahami bahwa tujuan investasi adalah pada pertumbuhan aset dan bisnis perusahaan, bukan harga sahamnya.

Contoh Investasi Saham Jangka Panjang

Ada banyak perusahaan yang bisa kita jadikan contoh bagusnya investasi saham jangka panjang, mulai dari Indofood, Unilever, Bank BRI, Bank Mandiri, Bank BNI, Mayora, Sampoerna, Gudang Garam, United Tractors, Astra Internasional, Bank Danamon dan masih banyak lagi.

Namun untuk contoh kali ini saya hanya mengambil  Bank BCA.

Mengapa Bank BCA? Karena dia adalah Bank dengan nilai kapitalisasi paling besar di BEI, serta banyak orang yang mengenal bank ini.

Bank BCA melantai di bursa saham pada 11 Mei 2000 dengan harga perdana 1.400 per lembarnya.

Secara pelayanan kepada nasabah, Bank BCA sudah tidak diragukan lagi, metode pembayarannya yang memanjakan nasabah, dan masih banyak lagi keunggulan dari Bank BCA ini.

Dikarenakan aset perusahaan yang terus tumbuh dan lini bisnis yang terus meluas, maka tidaklah mengherankan jika saham Bank BCA dihargai cukup premium.

Saat ini harga saham Bank BCA (kode saham : BBCA) sudah nangkring diharga 35.125 per lembarnya atau telah mengalami kenaikan sebesar 25 kali lipat dari harga IPO.

Itu berarti selama 20 tahun, jika anda membeli saham BBCA diharga IPO, maka dana anda sudah tumbuh lebih dari 25 kali mengikuti harga saham BBCA.

Berikut ini penampakan pergerakan saham BBCA selama 20 tahun terakhir

saham bank bca bbca
Sumber : Tradingview-BBCA


Jangka Panjang Itu Berapa Lama?

Ini yang seringkali menjadi perdebatan, berapa lama seorang investor menggenggam sahamnya?

Dalam berbagai literatur tidak menyebutkan secara pasti hanya saja lebih menitik beratkan pada indikator-indikator fundamental sebuah emiten atau perusahaan.

Jadi mau dipegang setahun, dua tahun, lia tahun, 10 tahun, tidak ada masalah, selama fundamentalnya ok dna anda siap menggenggam selama itu.

Hanya saja, dalam berabagi dialog, jangka waktu minimal dalam "kategori jangka panjang" adalah satu tahun.

Namun menjadi patokan satu tahun sebagai minimal time frame jangka panjang juga bisa berakibat fatal. Hal ini disebabkan, faktor yang mempengaruhi fundamental perusahaan itu bisa muncul kapan saja.

Sebagai contoh, anda saat ini (Januari 2021) membeli saham Properti karena adanya sentimen penguatan rupiah dan penurunan suku bunga kredit, namun belum genap setahun, ada perubahan kebijakan suku bunga karena ekonomi telah kembali membaik setelah pandemi.

Sehingga prospek properti menjadi kembali lesu, maka indikator-indikator tersebut memberikan warning kepada anda bahwa bisa jadi fundamental perusahaan (terutama pendapatan dan laba bersih) di kuartal mendatang menjadi turun.

Maka disinilah kemampuan anda diuji, apakah tetap memegang saham properti tersebut atau melepasnya, mengingat potensi properti dalam beberapa bulan mendatang mendapatkan hambatan, sedangkan saham belum genap setahun dalam genggaman.

Maka, membuat perspektif bahwa waktu minimal untuk disebut jangka panjang adalah 1 tahun menjadi kurang relevan.

Sehingga, alternatif lainnya yang bisa anda gunakan dalam menilai time frame jangka panjang adalah pertumbuhan laba dan aset perusahaan.

Meski anda menggenggamnya 5 tahun, namun karena asih tumbuh, ya genggam saja seterusnya. Atau baru setahun dibeli, ternyata kinerjanya merosot ya jual saja saham tersebut.

That is simple.

Dividen dan Pertumbuhan Aset Perusahaan

Seperti dalam pembahasan diawal, seorang investor itu berfokus pada pertumbuhan aset dan bisnis perusahaan, maka keuntungan investor berasal dari aset dan dividen (laba bersih yang dibagikan).

Maka tidaklah heran jika buku-buku investor kelas dunia selalu mengajarkan carilah perusahaan yang asetnya bertumbuh atau selalu membagikan dividen setiap tahun, atau jika memungkinkan keduanya ada dalam satu perusahaan.

Capital Gain adalah Bonus

Jika anda telah menemukan saham dengna pertumbuhan aset yang stabil dan rutin membagikan dividen, maka pertumbuhan harga saham (capital gain) adalah bonus bagi anda.

Sehingga ketika anda melakukan investasi namun fokusnya pada harga saham, seperti harganya kok gk naik-naik, sudah breakout nih bentar lagi ARA, sentimennya lagi bagus ayo borong-borong.... dan masih banyak lagi contohnya, maka aan kesulitan meraih kesuksesan dalam berinvestasi.

Jika anda seperti yang diatas itu, maka sebenarnya anda lebih cocok menjadi seorang trader saham, sehingga wajar jika porto anda tidak tumbuh karena niatnya investasi tapi faktanya dan fokusnya adalah trading.

Perusahaan Seperti Apa yang Layak Untuk Investasi Kita

Lalu perusahaan seperti apa yang bagus untuk investasi?

Berikut adalah beberapa indikator yang bisa anda jadikan acuan dalam memilih perusahaan untuk investasi
  • Memiliki histori kinerja bisnis yang terus bertumbuh
  • Sektor usahanya adalah lahan basah (produknya adalah kebutuhan, bisa juga keinginan)
  • Proses bisnisnya mudah kita pahami
  • Darimana perusahaan mampu mencetak uang
  • Apa saja produk unggulan mereka
  • Apakah ada kebijakan pemerintah yang mendukung sektor usaha perusahaan tersebut
  • Siapa pesaingnya
  • Apa keunggulannya terhadap para kompetitornya
  • Kemana saja produknya dijual
  • Pernah terlibat kasus hukum tidak?
  • Apakah memiliki hubungan langsung dengan nilai tukar Rupiah terhadap USD
Kriteria diatas adalah sifatnya kualitatif, sehingga anda harus banyak mencari info yang dapat diketahui kebenarannya. Untungnya, dengan kemajuan teknologi saat ini, mencari informasi diatas tidak lagi sulit.

Sedangkan untuk kriteria kuantitatif, anda hanya perlu mencari kriteria seperti dibawah ini
  • Pendapatan dan laba bersih terus bertumbuh (EPS)
  • Hutang terkendali (DER)
  • Return bisnis OK (ROE)
  • Valuasi harga saham masuk akal atau murah (PER, PBV, EV)
  • Perusahaan suka membagikan laba (Dividen)
  • Memiliki arus kas yang sehat (Cash Flow)
Untuk kriteria kuantitatif semuanya sudah tersedia dalam laporan keuangan / tahunan perusahaan, jadi lebih mudah dalam melakukan analisa.

Tidak Semua Orang Bisa Tahan Dengan Investasi Saham

Semua orang punya ambisi menjadi investor besar, tadi tidak punya kemampuan untuk melakukannya.

Contoh sederhananya saja, anda bergabung dalam grup saham, ada beberapa member pamer cuan sampai 20% hanya berdasarkan analisa teknikal, sedangkan anda yang mati-matian ngumpulin informasi untuk analisa fundamental, ternyata porto anda minus 10%.

Geram enggak tuh?

Disaat para trader pamer cuan 50% dalam setahun, anda hanya bisa melihat profit 15-20% setahun. Susah gak? sudah pasti.

Makanya tidak banyak orang yang mampu menjadi investor murni, sehingga bagi anda yang pengen sukses disaham perhatikan modal awal anda.

Modal itu penting, jika modal anda cekak dan menginginkan cepet meningkat berlipat, banyakin belajar kepada para investor sukses. Tapi kalau modal anda besar, cuan 15-20% setahun pun sudah enak.

Siapa bilang Warrent Buffet mulai berinvestasi dengan modal kecil, beliau sudah mulai investasi sejak umur 11 tahun. Belum lagi ayah beliau adalah seorang pialang alias broker saham.

Disisi lain, ia mendirikan partnership di umur 25 tahun dengan modal yang besar setelah mampu mengumpulkannya dari sanak saudara dia.

Kalau anda bisa melakukan hal yang sama seperit W. Buffet, tidak masalah, karena anda ada investornya. Tapi kalau anda bermodalkan dana sendiri apalagi kecil, jangan berharap cepat.

Jaman sekarang dengan jaman W. Buffet dan LKH berinvestasi itu berbeda. Saat ini kecepatan penyebaran informasi itu sangat cepat, dan seringkali kita terpengaruh oleh informasi tersebut.

Maka untuk menjadi sukses sebagai seorang investor, anda harus memiliki mentor yang akan membimbing anda dengan lebih cepat dalam meraih kesuksesan.

Kesimpulan

Saya berharap artikel ini mampu membuat anda memahami mengapa investasi saham itu jangka panjang dan membosankan. Bagi anda yang tidak betah, jangan jadi investor, jadilah trader. Tidak sedikit trader yang juga sukses.

Apapun keputusan anda nantinya, tetaplah terus belajar, karena berinvestasi di saham itu sangat dinamis, dan menuntut kita untuk terus memahami dan mengerti hal-hal baru. Semoga bermanfaat.
Cloud Hosting Indonesia