Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Apa itu ARA, ARB dan Auto Rejection?

saham ara, saham arb, auto rejection

"Mantap, sahamku ARA" atau "waduh, sahamku ARB" merupakan ekspreis yang seringkali terucap oleh trader atau investor dikala melihat sahamnya dalam porto mengalami ARA atau ARB.

Hal ini sebenarnya sudah ada aturan yang megatur tentang ARA dan ARB, mungkin saja bagi para pemula auto rejection ini membuatnya bingung harus ngapain selanjutnya dan apa itu Auto rejection saham? apa itu ARA? Apa itu ARB? Apa perbedaannya?

Jangan khawatir, karena dalam artikel kali ini akan dibahas secara tuntas mengenai saham ARA, saham ARB dan auto rejectio saham.

Apa Itu Auto Rejection Saham

Auto rejection adalah adalah batas pergerakan harga sebuah saham dalam satu hari perdagangan. Dalam batasan tersebut ada batasan atas dan batasan bawah.

Auto rejection saham ini dibuat untuk mengatur agar harga tidak bergerak secara tidak wajar, saat naik tidak tinggi banget, dan saat turun tidak jatuh terlalu dalam yang mengakibatkan kerugian yang besar pada trader atau investor.

Apa Itu Saham ARA

ARA atau Auto Rejection Atas adalah batasan atas pergerakan harga saham dalam satu hari.

Pada dasarnya harga saham dapat bergerak naik dengan persentase yang tinggi, bahkan tidak menutup kemungkinan harga dapat naik diatas 30% dalam satu hari.

Namun dengan kenaikan yang sangat tinggi dalam rentang waktu yang singkat memiliki tingkat resiko yang amat tinggi, karena bisa saja pada keesokan harinya harga saham tersebut jatuh dalam dan mengakibatkan kerugian pada trader atau investor yang membeli di harga atas alias pucuk.

Saham yang ARA pada umumnya memiliki fluktuasi harga yang tinggi, sehingga meningkatkan resiko.

Memang saham ARA ini banyak menguntungkan bagi para pembelinya, dan diburu setiap waktu karena keuntungan yang diarih cukup tinggi dalam waktu yang relatif singkat.

Sehingga, batasan-batasan pergerakan harga ini dibuat untuk membatasi ruang gerak agar harga tidak naik secara liar.

Saham-saham yang sering mengalami ARA adalah saham-saham second liner dan saham gorengan.

Untuk saham second liner yang mengalami ARA, sudah tentu ada penyebab fundamental atau sentimen yang bisa mengangkatnya, dan ini masih bisa diterima karena dapat dianalisa baik secara teknikal maupun fundamental.

Namun untuk saham gorengan, kenaikan yang tinggi sampai ARA seringkali disebabkan oleh hegemoni transaksi oleh beberapa broker saham semata. Sehingga sulit sekali dianalisa menggunakan teknikal maupun fundamental.

Selain saham gorengan, saham IPO juga seringkali mengalami ARA berhari-hari, bahkan saham tersebut digoreng hingga renyah sekali membuatnya naik lebih dari 100% dalam waktu yang sangat singkat.

Apa Itu Saham ARB

ARB atau Auto Rejection Bawah adalah batas bawah yang menutup ruang harga saham untuk terjun atau koreksi lebih dalam.

Jika ARA dinilai membatasi keuntungan yang bisa diraih seorang trader atau investor dan dianggap "merugikan", namun untuk ARB saham ini bisa dibilang "menguntungkan" para pemegang saham karena harga tidak jatuh sangat dalam.

Saham-saham yang terkena ARB ini memiliki banyak sebab, namun untuk saham-saham gorengan atau saham-saham IPO, mengalami ARB merupakan hal yang wajar.

Hal ini dikarenakan transaksi perdagangannya hanya didominasi oleh sekelompok broker dan tidak murni atas supplay dan demand market.

Untuk itulah, sebaiknya anda menghindari saham-saham gorengan atau saham IPO yang sudah naik tinggi, karena potensi ARB menjadi semakin besar dikala kenaikannya semakin tinggi.

Batasan ARA dan ARB

Mengenai batasan ARA dan ARB, ada dua aturan yang berlaku.

Aturan tersebut berlaku untuk kondisi tertentu, namun keduanya hanya dibedakan pada sistem auto rejection simetris dan auto rejection asimetris.

Auto rejection simetris adalah batasan atas adan batasan bawah memiliki nilai yang sama, sehingga ketika saham ABCD dapat naik hingga 35%, maka ia juga bisa turun sedalam 35% dalam satu hari.

Sedangkan auto rejection asimetris adalah batasan harga antara batasan atas dan batasan bawah tidak sama. Nilai masing-masing batasan ditentukan berdasarkan surat edaran dari Bursa Efek Indonesia.

Auto Rejection Simetris

Batasan auto rejection simetris tercantum dalam aturan Keputusan Direksi Bursa Efek Indonesia Nomor Kep-00023/BEI/03-2020 dengan ketentuan :
  • Harga acuan Rp 50 s.d Rp 200, batas ARA dan ARB adalah Rp 50 atau 35%
  • Harga acuan RP 201 s.d Rp 5.000 batas ARA dan ARB adalah 25%
  • Harga acuan Rp 5.001 s.d seterusnya batas ARA dan ARB adalah 20%

Auto Rejection Asimetris

Untuk batasan auto rejection asimetris tertuang dalam aturan Keputusan Direksi Bursa Efek Indonesia Nomor Kep-00023/BEI/03-2020 dengan ketentuan :
  • Harga acuan Rp 50 s.d Rp 200, batas ARA adalah 35% dna batas ARB adalah 7%
  • Harga acuan Rp 201 s.d Rp 5.000, batas ARA adalah 25% dan batas ARB adalah 7%
  • Harga acuan Rp 5.000 s.d seterusnya, batas ARA adalah 20% dan batas ARB adalah 7%

Penyebab Saham ARA atau ARB

Ada banyak faktor yang menyebabkan mengapa sebuah saham bisa mengalami ARA atau ARB.

Berikut adalah penyebab terjadinya ARA dan ARB pada sebuah saham:
  • Demand atas sebuah saham sangat tinggi di market sehingga harga mengalami lonjakan dan ARA
  • Supplay mengalami lonjakan yang tinggi dan mengakibatkan saham ARB
  • Para trader atau investor berburu untuk memborong saham
  • Para trade atau investor berlomba untuk menjual saham di harga berapapun
  • Adanya sentimen positif dan negatif di market yang menyebabkan lonjakan minat jual atau minat beli
  • Adanya transaksi yang didominasi oleh beberapa broker saham (bandar) sehingga harga dapat ARA dan ARB dalam satu hari yang sama
Sebagai informasi tambahan, untuk saham yang mengalami penurunan secara terus menerus hingga Rp 50 per lembar saham, maka saham tersebut tidak lagi dapat turun lebih dalam dari Rp 50.

Hal ini dikarenakan harga Rp 50 merupakan batas bawah untuk semua saham, dan semua saham yang berada di harga tersebut tidak dapat lagi turun lebih dalam, karena akan tertolak oleh sistem BEI.