Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian dan Cara Menghitung Nilai Intrinsik Saham

Nilai intrinsik saham merupakan metode penilaian sebuah saham apakah saham tersebut saat ini dihargai mahal atau murah oleh pasar.

Metode ini sangat poopuler terutama bagi para investor saham, karena investor saham ini sangat mengandalkan metode valuasi saham untuk memastikan apakah saham incarannya tersebut sudah saatnya untuk dibeli atau masih bisa untuk lebih murah lagi.

Search Keyword : cara mengetahui nilai intrinsik saham, cara menghitung nilai intrinsik saham, nilai intrinsik saham, cara mencari nilai intrinsik saham

cara mengetahui nilai intrinsik saham cara menghitung nilai intrinsik saham nilai intrinsik saham cara mencari nilai intrinsik saham


Pengertian Nilai Intrinsik Saham

Nilai intrinsik saham adalah nilai yang sesungguhnya dibandingkan dengan Book Value (nilai Buku) yang tercatat dalam laporan keuangan. Nilai ini tidak hanya memperhitungkan nilai buku atau ekuitas semata, namun juga menghitung nilai aset tak berwujud seperti market share, potensi 5 s.d 10 tahun kedepan, brand perusahaan, merek dagang dan lain sebagainya.

Sehingga nilai intrinsik saham itu lebih tinggi atau besar dibandingkan dengan Book Value atau ekuitas perusahaan.

Ada banyak sekali metode penilaian intrinsik sebuah saham, namun cara berikut adalah yang cukup populer dan cukup mudah untuk diikuti.

Berikut 3 cara mengetahui dan menghitung nilai intrinsik saham 
  • EPS Growth
  • Equity Growth
  • PBV x ROE
Kita bahas satu persatu agar lebih mudah dipahami

1. Metode EPS Growth

Metode EPS Growth adalah metode mencari nilai intrinsik saham dengan memproyeksikan EPS sebuah perusahaan kedalam 5 s.d 10 tahun mendatang.

Sebelum memproyeksikannya, kita harus menghitung laju pertumbuhan EPS 5 s.d 10 tahun terakhir, disesuaikan dengan rancana jumlah tahun proyeksi kita nantinya.

Cara menghitung laju pertumbuhan EPS, kita bisa menggunakan metode CAGR atau Compound Annual Growth Rate.

CAGR adalah tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun dari harga sebuah saham dalam jangka waktu tertentu. CAGR juga mencerminkan rata-rata keuntungan per tahun yang bisa didapatkan dari investasi saham.

Rumus CAGR

Keterangan : 
  • Nilai akhir adalah nilai EPS tahun terakhir (terbaru) dari Laporan tahunan
  • Nilai awal adalah nilai EPS tahun sebelumnya (jika 5 tahun, maka EPS tahun ke 5 sebelumnya)
  • Jumlah tahun adalah jumlah tahun dalam perhitungan
  • Angka 1 merupakan nilai konstan
Dengan mengetahui nilai CAGR, maka kita bisa memproyeksikan pertumbuhan laba bersih dalam satu atau beberapa tahun kedepan.

Dengan demikian, kita dapat menilai apakah harga saham saat ini sedang terdiskon dan layak beli atau tidak.

2. Metode Growth Equity

Metode growth equity adalah metode penghitungan nilai intrinsik dengan memproyeksikan nilai equity dalam beberapa tahun kedepan.

Metodenya pun mudah diaplikasikan, kita pertama harus menghitung laju pertumbuhan equity perusahaan bisa dengan cara menggunakan CAGR seperti diatas, atau menggunakan rata-rata pertumbuhan dalam 5 atau 10 tahun terakhir.

Dengan diketahuinya nilai pertumbuhan equity, maka kita dapat memproyeksikan nilai equity sebuah perusahaan dalam 1 atau beberapa tahun mendatang.

Sehingga akan memudahkan kita dalam mengetahui nilai intrinsik suatu saham.

3. Metode Komparasi ROE dan PBV

Metode ini lebih simpel dan mudah dibandingkan dua metode diatas, karena kita hanya menggunakan dua rasio yang paling populer untuk menghitung nilai intrinsik saham.

Dalam mencari nilai intrinsik saham menggunakan metode ini, kita dapat melakukannya dengan mengkomparasikan kedua rasio tersebut.

Metode ini bisa anda baca dalam sebuah buku dari seorang value investing di Indonesia, dimana metode ini menurut saya sangat mudah diaplikasikan.

Namun sisi kekurangannya adalah metode ini sangat subjektif, sehingga pengalaman dan kapabilitas investorlah yang akan sangat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan ketika menggunakan metode ini.

Cara menghitung nilai intrinsik saham dengan menggunakan metode komparasi ROE dan PBV adalah sebagai berikut:
  • Apabila ROE 10%, maka nilai wajar PBV nya adalah 1x
  • Apabila ROE nya 15% keatas, maka nilai wajar PBV nya adalah 1,5x
Sebagai contoh, ketika saham ASII memiliki ROE 12%, maka nilai wajar ASII adalah 1x PBV. Sehingga, ketika nilai PBV ASII di angka 1,3x maka bisa diasumsikan ASII saat itu sedang overprice alias overvalue.

Sebaliknya, ketika nilai PBV nya di bawah 1x, maka ASII saat itu sedang terdiskon atau undervalued.

Dari sini sudah mengerti kan?

Kesimpulan

Cara menghitung nilai intrinsik suatu saham sebagaimana dijelaskan diatas memang tidak dapat memproyeksikan dengan sangat presisi, namun dengan mengetahui nilai intrinsik suatu saham, kita bisa membuat investment plan secara lebih baik.

Dengan begitu, investasi saham kita akan dapat tumbuh dengan lebih baik dan happy investing. Semoga bermanfaat.